Sabtu, 25 April 2026

Opini

Opini: Membaca Prapaskah sebagai Peristiwa Eksistensial

Prapaskah sering dipahami sebagai masa liturgis menjelang Paskah yang diawali dengan upacara penerimaan abu. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI ROMO JHONI LAE
RD. Jhoni Lae 

Oleh: RD. Jhoni Lae
Bertugas di Paroki St. Petrus Tukuneno-Keuskupan Atambua

POS-KUPANG.COM - Salah satu masa khusus dalam penanggalan liturgi Gereja Katolik adalah masa Prapaskah

Prapaskah sering dipahami sebagai masa liturgis menjelang Paskah yang diawali dengan upacara penerimaan abu. 

Tetapi bila direnungkan secara filosofis, masa Prapaskah tidak hanya berdimensi teologis-spritual semamata tetapi juga menguak corak eksistensial manusia, ketika manusia diajak bertamasya dengan realitas terdalam dirinya yakni penderitaan, keterbatasan, dan harapan akan pembaruan. 

Artinya bahwa masa Prapaskah bukan sekadar kewajiban religius atau litani lutugi gereja, melainkan ruang pengalaman di mana manusia memasuki drama keberadaannya sendiri. 

Sebab dalam Prapaskah manusia tidak hanya melakukan praktik-praktik asketis, tetapi juga dipanggil untuk menempuh perjalanan batin dari kerapuhan menuju keterbukaan.

Penderitaan, Harapan dan Transendesi

Paling kurang ada tiga dimensi eksistensial yang mejadi rujukan menemukan nilai masa Prapaskah yakni penderitaan, harapan dan transendensi.

Pertama, Penderitaan. Penderitaan merupakan pintu pertama dalam perjalanan “ke dalam” diri manusia yang cenderung menghindari penderitaan; menutupinya dengan kesibukan, hiburan, dan kenyamanan-kenyamanan tertentu. 

Di tengah dunia yang terlalu sibuk, masa Prapaskah justru mengundang manusia untuk berhenti, berjeda dan mengamini penderitaan secara jujur. 

Berpuasa, berdoa dan bersedekah merupakan tiga nasihat injili yang menandai kesediaan manusia untuk mengakui bahwa hidup manusia rapuh dan terbatas. 

Dalam kesadaran akan keterbatasan itulah manusia mengalami apa yang oleh para filsuf eksistensial disebut sebagai momen autentik: saat ia tidak lagi bersembunyi di balik kepalsuan, melainkan berdiri apa adanya di hadapan dirinya sendiri.

Dalam konteks ini, pemikiran Gabriel Marcel memberikan terang yang mendalam di mana ia membedakan secara tegas antara “masalah” dan “misteri.” 

Masalah adalah sesuatu yang dapat ditempatkan di luar diri dan dianalisis secara objektif; misteri adalah sesuatu yang melibatkan diri kita secara langsung dan tidak dapat direduksi menjadi objek. 

Maka penderitaan, bagi Marcel, bukan sekadar masalah yang harus dipecahkan, melainkan misteri yang harus dihayati. 

Dalam penderitaan, manusia tidak berdiri sebagai pengamat netral, melainkan sebagai partisipan yang terlibat sepenuhnya. 

Karena itu, penderitaan tidak bisa dipahami hanya dengan kalkulasi rasional; ia menuntut keterlibatan hati dan kesetiaan batin. 

Dalam kerangka masa Prapaskah, penderitaan tidak berhenti pada kesadaran akan kelemahan. Ia bergerak menuju harapan. 

Kedua, Harapan. Harapan di sini bukan optimisme dangkal yang menolak kenyataan pahit, melainkan keberanian untuk tetap percaya bahwa di balik kerapuhan ada kemungkinan pembaruan. 

Perihal harapan, Gabriel Marcel, mengatakan harapan bukanlah sikap pasif yang menunggu perubahan eksternal, melainkan sikap eksistensial yang berakar pada kepercayaan dan kesetiaan. 

Harapan adalah keterbukaan terhadap kemungkinan yang belum terlihat, optimisme terhadap masa depan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. 

Harapan sejati selalu bersifat transenden, karena ia melampaui perhitungan logis dan membuka ruang bagi kehadiran Yang Ilahi dalam diri manusia. 

Dalam terang ini, masa Prapaskah sebenarnya menjadi latihan kesetiaan: tetap berdoa di tengah kekeringan rohani, tetap berpuasa di tengah godaan, tetap percaya di tengah ketidakpastian. 

Harapan menjadi tindakan eksistensial yang menegaskan bahwa hidup memiliki makna lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.

Ketiga, Transendensi. Transendensi adalah gerak melampaui egoisme menuju relasi yang lebih dalam; dengan diri sendiri, dengan sesama, dan dengan Tuhan. 

Gabriel Marcel menekankan bahwa manusia adalah makhluk relasional yang menemukan dirinya dalam persekutuan dan ketersediaan bagi yang lain. 

Ia menggunakan istilah disponibilite, yakni kesiapsediaan batin untuk hadir bagi sesama. 

Dalam semangat Prapaskah, transendensi terwujud ketika pertobatan tidak berhenti pada penyesalan pribadi, tetapi meluas menjadi solidaritas dan kasih. 

Puasa menjadi bermakna ketika ia membuka ruang bagi kepedulian terhadap yang miskin; doa menjadi autentik ketika ia melahirkan keterlibatan nyata dalam kehidupan sesama.

Dengan demikian, masa Prapaskah dapat dipahami sebagai drama eksistensial yang utuh. 

Penderitaan menyadarkan manusia akan keterbatasannya. Harapan menggerakkannya untuk tidak tenggelam dalam keputusasaan. 

Transendensi membawanya keluar dari keterkungkungan diri menuju relasi yang memulihkan. Ketiganya tidak terpisah, melainkan saling menembus dalam satu gerak batin yang dinamis. 

Tanpa derita, harapan menjadi dangkal; tanpa harapan, derita menjadi absurditas; tanpa transendensi, keduanya kehilangan arah.

Saatnya Berbenah

Bagi manusia modern yang hidup dalam budaya instan dan serba-cepat, masa Prapaskah hadir sebagai kritik yang sunyi dan tajam. 

Masa Prapaskah mengajak kita untuk berbenah, menolak logika pelarian dari rasa sakit dan menghidupi keberanian untuk tinggal dalam proses. 

Dalam dunia yang sering mengukur segala sesuatu dengan produktivitas dan efisiensi, masa Prapaskah menegaskan nilai keheningan, refleksi, dan kesetiaan. 

Ia mengingatkan bahwa makna hidup tidak selalu ditemukan dalam keberhasilan lahiriah, tetapi dalam kedalaman relasi dan kesediaan untuk tetap berharap di tengah kegelapan.

Akhirnya, memahami masa Prapaskah sebagai peristiwa eksistensial berarti menyadari bahwa ia bukan sekadar rangkaian praktik religius tahunan, melainkan simbol perjalanan manusia sepanjang hidupnya. 

Setiap manusia mengalami penderitaan, setiap manusia merindukan harapan, dan setiap manusia dipanggil untuk melampaui dirinya. 

Dalam terang pemikiran Gabriel Marcel, perjalanan ini bukanlah perjalanan soliter, melainkan perjalanan dalam misteri kehadiran dan kesetiaan. 

Prapaskah menjadi ruang di mana manusia belajar mengatakan “ya” kepada hidup, bahkan ketika hidup ditandai oleh luka, karena ia percaya bahwa di balik luka itu terdapat kemungkinan akan kepenuhan yang lebih dalam dan lebih abadi. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved