Opini
Opini: Ramadan dan Demokrasi- Dari Takwa Menuju Kesalehan Sosial
Puasa menumbuhkan empati melalui pengalaman lapar, agar kita tidak abai terhadap ketimpangan sosial.
Semua ini adalah fondasi etis bagi kehidupan demokrasi. Demokrasi yang hanya bertumpu pada prosedur tanpa moral akan kering.
Ia mungkin sah secara hukum, tetapi rapuh secara nilai. Sebaliknya, demokrasi yang ditopang oleh manusia bertaqwa akan menghadirkan keadilan substantif bukan sekadar formalitas.
Taqwa melahirkan integritas. Integritas melahirkan kepercayaan.
Kepercayaan adalah roh demokrasi. Dalam kerangka itu, Ramadan menjadi sekolah etika publik. Ia mendidik warga agar tidak menjual suara.
Ia mendidik pemimpin agar tidak menyalahgunakan kekuasaan yang dititipkan sebagai amanah. Ia mendidik masyarakat agar tidak diam terhadap ketidakadilan.
Kesalehan spiritual menjaga hati tetap jernih. Kesalehan sosial menjaga dunia tetap adil. Ketika keduanya seimbang, demokrasi tidak hanya berjalan, tetapi berjiwa.
Sebab Al-Qur’an telah mengingatkan, kebajikan tidak berhenti pada simbol keagamaan, tetapi berlanjut dalam tindakan yang membela martabat manusia.
Demokrasi yang sehat tidak hanya dibangun oleh prosedur, aturan, dan institusi. Ia bertumpu pada kualitas manusia yang menjalankannya.
Pada kejujuran pemimpin, tanggung jawab warga, empati sosial, serta kemampuan menahan diri dari keserakahan kekuasaan. Nilai-nilai ini sejatinya adalah nilai Ramadan.
Puasa mengajarkan pengendalian diri demokrasi membutuhkan itu agar kekuasaan tidak berubah menjadi dominasi.
Puasa melatih kejujuran, demokrasi berdiri di atas kepercayaan publik. Puasa menumbuhkan empati terhadap yang lemah , demokrasi hanya bermakna jika melindungi yang rentan.
Kesalehan spiritual tanpa kesalehan sosial akan melahirkan keberagamaan yang eksklusif, taat secara ritual tetapi abai terhadap keadilan.
Sebaliknya, aktivisme sosial tanpa kedalaman spiritual berisiko menjadi gerakan tanpa nurani.
Ramadhan mengajarkan keseimbangan. Ia mengajak kita menyadari bahwa ibadah tidak selesai di sajadah, tetapi berlanjut di ruang publik, dalam kejujuran saat memilih, dalam integritas saat memimpin, dalam kepedulian terhadap nasib sesama warga.
Maka, Ramadan bukan hanya momentum memperbaiki hubungan dengan Tuhan, tetapi juga kesempatan memperhalus wajah demokrasi, menjadikannya lebih beretika, lebih empatik, dan lebih manusiawi.
Sebab, demokrasi yang kuat bukan hanya lahir dari sistem yang baik, tetapi dari jiwa-jiwa yang ditempa oleh nilai. Dan Ramadan adalah kawah candradimuka bagi pembentukan jiwa itu, agar manusia tidak hanya menahan diri dari yang membatalkan puasa, tetapi juga dari menjadi sebab ketidakadilan dalam kehidupan sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Baharudin-Hamzah-KPU.jpg)