Opini
Opini: Ramadan dan Demokrasi- Dari Takwa Menuju Kesalehan Sosial
Puasa menumbuhkan empati melalui pengalaman lapar, agar kita tidak abai terhadap ketimpangan sosial.
Ramadan adalah latihan pengendalian diri (self-restraint). Dalam pengalaman berpuasa, manusia belajar bahwa ia mampu menahan sesuatu yang sebenarnya halal baginya, makan, minum, dan kebutuhan biologis demi ketaatan.
Latihan ini sesungguhnya memiliki makna sosial yang mendalam. Jika manusia mampu menahan yang halal demi Tuhan, maka seharusnya ia lebih mampu menahan yang haram demi keadilan.
Jika ia mampu menahan lapar demi taqwa, maka ia seharusnya mampu menahan keserakahan dalam kekuasaan.
Jika ia mampu menahan dahaga demi ibadah, maka ia seharusnya mampu menahan hasrat dominasi dalam kehidupan publik.
Di sinilah puasa tidak hanya membentuk individu yang soleh, tetapi berpotensi membentuk warga negara yang beretika.
Demokrasi pada hakikatnya bukan sekadar sistem prosedural bukan hanya tentang pemilu, aturan, atau institusi.
Demokrasi adalah ruang moral. Ia bergantung pada kualitas manusia yang menjalankannya.
Tanpa integritas, demokrasi berubah menjadi manipulasi. Tanpa empati, demokrasi berubah menjadi dominasi mayoritas.
Tanpa pengendalian diri, demokrasi mudah tergelincir menjadi korupsi kekuasaan. Nilai-nilai yang dibutuhkan demokrasi ini justru dilatih secara intens dalam Ramadan.
Puasa adalah pendidikan kejujuran paling sunyi, karena ia ibadah yang hampir mustahil diawasi manusia. Hanya pelakunya dan Tuhan yang mengetahui apakah ia benar-benar berpuasa.
Ini melatih integritas internal fondasi utama kepercayaan publik dalam kehidupan demokrasi.
Puasa juga menghadirkan pengalaman eksistensial tentang lapar. Lapar bukan sekadar rasa, tetapi pengalaman yang membangunkan empati.
Ia mengingatkan bahwa ketimpangan bukan statistik, melainkan realitas hidup.
Maka takwa yang lahir dari puasa seharusnya menjelma menjadi kepedulian terhadap yang miskin, yang terpinggirkan, yang tidak bersuara.
Dalam konteks sosial-politik, ini berarti keberpihakan pada keadilan. Al-Qur’an menolak religiusitas yang hanya berhenti pada simbol, tetapi abai terhadap penderitaan sosial.
Karena itu, kesalehan spiritual harus bertransformasi menjadi kesalehan sosial. Kesalehan spiritual menjaga hati tetap jernih. Kesalehan sosial menjaga dunia tetap adil.
Baharudin Hamzah
Berkah Bulan Ramadan
Ramadhan 2026
Ramadan 1447 Hijriah
puasa ramadan
Bulan Ramadan
Opini Pos Kupang
| Opini: Lamalera dan Dunia yang Hampir Kehilangan Jiwa |
|
|---|
| Opini - Merenungkan Peristiwa Mulia Selama Bulan Maria yang Bertepatan dengan Masa Paskah |
|
|---|
| Opini: Kemanusiaan harus Melampaui Legalitas- Catatan untuk Bupati Ende |
|
|---|
| Opini: Menggugat Timor Kouk |
|
|---|
| Opini: Gugatan Etika atas Euforia Siswa-Siswi NTT Saat Kelulusan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Baharudin-Hamzah-KPU.jpg)