Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Ramadan dan Demokrasi- Dari Takwa Menuju Kesalehan Sosial

Puasa menumbuhkan empati melalui pengalaman lapar, agar kita tidak abai terhadap ketimpangan sosial. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI BAHARUDIN HAMZAH
Baharudin Hamzah 

Oleh: Baharudin Hamzah
Anggota KPU Provinsi Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Ramadan selalu datang sebagai madrasah sunyi yang mengasah batin. 

Ia melatih kita menahan lapar, dahaga, dan hasrat, tetapi sejatinya, ia sedang mendidik sesuatu yang jauh lebih dalam  kesadaran moral. 

Ramadan tidak berhenti pada peningkatan kesalehan spiritual semata. Ia tidak hanya membentuk relasi vertikal antara manusia dan Tuhannya (Hablumminallah), tetapi juga menuntut lahirnya kesalehan sosial relasi horizontal antara manusia dan sesamanya (Hablumminannas).

Di sinilah Ramadan menemukan relevansinya dalam kehidupan demokratis.
Ramadan bukan sekadar musim ibadah, melainkan musim pembentukan manusia. Ia menghadirkan kembali pertanyaan mendasar,  untuk apa berpuasa? 

Baca juga: Hilal di NTT Tidak Terlihat,  1 Ramadan 1447 H pada 19 Februari 2026

Allah SWT dalam Alquran Surah  Al-Baqarah: 183 menegaskan “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Puasa Ramadan bukan saja ibadah fisik menahan  lapar,  dahaga, tetapi juga ibadah hati dan jiwa  untuk menggapai taqwa. Taqwa bukan hanya kesadaran spiritual yang sunyi, tetapi kesadaran moral yang hidup. 

Ia bukan hanya hubungan vertikal kepada Tuhan, tetapi juga tanggung jawab horizontal kepada sesama manusia. 

Karena itu, Al-Qur’an sendiri tidak memisahkan kesalehan spiritual dari kesalehan sosial. 

Dalam QS. Al-Baqarah: 177 ditegaskan: “Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke timur dan barat, tetapi kebajikan adalah (iman) kepada Allah… dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya…”

Ayat ini seperti membongkar ilusi religiusitas yang berhenti pada simbol dan ritual. 

Kebajikan bukan hanya arah kiblat, tetapi keberpihakan sosial. Dengan kata lain, puasa yang melahirkan taqwa harus menjelma menjadi kepedulian. 

Puasa melatih pengendalian diri agar manusia tidak dikuasai oleh nafsu, dan dalam kehidupan publik, nafsu itu sering bernama kekuasaan, keserakahan, dan dominasi.

Puasa menumbuhkan empati melalui pengalaman lapar, agar kita tidak abai terhadap ketimpangan sosial. 

Puasa mengajarkan kejujuran dalam kesunyian, karena ia ibadah yang tidak mudah dipertontonkan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved