Opini
Opini: Pelangi di Pekan yang Sama
Negeri ini tidak membutuhkan keseragaman untuk tegak, melainkan keberanian menjaga keragaman yang telah menjadi kehendak-Nya sejak awal.
Oleh: Hendrikus Maku, SVD
Pegiat Dialog Lintas Agama, Tinggal di Civita Youth Camp, Tangerang Selatan.
POS-KUPANG.COM - Ali bin Abi Thalib pernah berkata bahwa manusia, seberagam apa pun, hanya terbagi dalam dua: saudara seiman dan/atau saudara dalam kemanusiaan (al-nāsu ṣinfān: immā akhun laka fī al-dīn, aw naẓīrun laka fī al-khalq).
Pesan sederhana itu seolah kembali menggema belakangan ini, tepat ketika tiga perayaan suci: Imlek, Rabu Abu, dan Bulan Suci Ramadan—terbit hampir bersamaan.
Seakan langit mengajak kita bertafakur sejenak: tiga tradisi dari jalan rohani berbeda justru memantulkan cahaya yang sama: harapan, pertobatan, dan solidaritas.
Baca juga: Opini: Harmoni Semesta- Tiga Jalan, Satu Tujuan Menuju Fitrah
Mungkin ini saatnya Indonesia bertanya ulang pada dirinya sendiri: sudahkah kita benar benar memahami bahwa keberagaman bukan soal membedakan diri, melainkan tentang bagaimana kita memilih hadir satu sama lain—sebagai saudara dalam iman, atau sesama dalam martabat manusia?
Imlek dan Cahaya Harapan yang Mengajak Berkumpul
Imlek kembali hadir sebagai momen hangat yang merangkul keluarga. Lentera merah yang memenuhi ruang publik bukan sekadar ornamen, tetapi doa yang dinaikkan setinggi mungkin demi terang, kelapangan, dan keberkahan.
Tahun ini, Imlek memasuki Tahun Kuda Api (TKA)—simbol energi yang melaju, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan menembus kebuntuan.
Menariknya, pekan ini cahaya Imlek bersilang dengan dua peristiwa sakral lainnya: Rabu Abu bagi umat Katolik dan awal Ramadan bagi umat Islam.
Tiga tradisi yang lahir dari perjalanan iman berbeda justru bertemu dalam satu rentang waktu, seakan memberi pesan yang sama: Indonesia hanya dapat berdiri tegak jika ruang-ruang suci tiap umat dilindungi, bukan diperlakukan sebagai arena saling menunjukkan dominasi.
Karena itu, seruan FKUB Banten (12/02/2026) yang meminta perayaan Imlek dilakukan dengan penuh kepekaan, layak disambut sebagai pengingat, bukan pembatasan.
Sukacita umat Konghucu sepenuhnya sah dirayakan, namun kegembiraan itu menjadi lebih bermakna ketika tidak mengusik saudara-saudara yang sedang memasuki hari-hari awal puasa.
Toleransi, dalam makna yang paling sederhana, bukan hanya soal menerima perbedaan, tetapi mengelola ruang publik dengan kesadaran bahwa kita tidak hidup sendirian.
Rabu Abu: Menundukkan Kepala, Menajamkan Telinga
Dalam Pesan Masa Prapaskah 2026, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa Prapaskah adalah undangan Gereja bagi umat untuk kembali memusatkan hidup pada Allah—sumber keteduhan di tengah hiruk‑pikuk keseharian.
Leo merangkum makna Prapaskah dalam tiga poros, yakni: belajar mendengarkan, melatih diri melalui puasa, dan melangkah bersama sebagai satu komunitas beriman.
Pertama, mendengarkan. Belajar mendengarkan berarti membuka hati selebar mungkin bagi Sabda, agar kita belajar menangkap suara yang sering tertelan bising dunia—suara mereka yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hendrik-Maku-Pater-01.jpg)