Breaking News
Rabu, 22 April 2026

Opini

Opini: Pelangi di Pekan yang Sama

Negeri ini tidak membutuhkan keseragaman untuk tegak, melainkan keberanian menjaga keragaman yang telah menjadi kehendak-Nya sejak awal.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HENDRIK MAKU
Hendrik Maku, SVD 

Dengan mendengarkan Sabda, kita diajar untuk mendengarkan dunia sebagaimana Allah mendengarkan: dengan kelembutan dan kepedulian.

Kedua, puasa. Puasa menjadi latihan untuk kembali ke pola hidup yang sederhana—menyaring keinginan, memurnikan motif, dan membangkitkan lapar akan keadilan. 

Puasa tidak berhenti pada tubuh; ia menyentuh cara kita berkata, mengajak kita menahan caci, meninggalkan prasangka, dan menukar kata-kata yang melukai dengan tutur yang membuahkan kedamaian.

Ketiga, bersama-sama. Pertobatan bukan langkah soliter. Umat dipanggil untuk berjalan bersama sebagai satu komunitas: saling mendengar, saling menopang, dan berani ditantang oleh realitas. 

Pertobatan sejati justru bertumbuh ketika relasi diperbarui, dialog diperdalam, dan gaya hidup dipilih demi kemaslahatan bersama.

Pada akhirnya, Paus Leo XIV mengajak umat membuka telinga bagi Tuhan dan bagi mereka yang paling rapuh; membiarkan puasa menyentuh lidah agar kata-kata menjadi berkat; dan menjadikan komunitas sebagai ruang di mana tangisan didengar dan kasih menemukan jalannya. 

Itulah fondasi peradaban kasih—hidup yang lebih manusiawi, lebih ramah, dan lebih setia pada panggilan Injil.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pesan dari Paus Leo menghadirkan makna yang lebih luas, bahwa mendengarkan juga berarti membuka ruang bagi pengalaman iman orang lain, puasa juga berarti menahan sikap yang melukai keyakinan sesama, dan berjalan bersama berarti merawat harmoni dalam keberagaman yang dianugerahkan Tuhan. 

Bulan Suci Ramadan dan Puasa yang Menjadi Jembatan Empati

Bagi kaum Muslim, Puasa selama Ramadan merupakan ibadah wajib yang bertujuan untuk memurnikan diri. 

Mengutip surat Al-Baqarah [2] ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” 

Dalam tradisi Islam, makna dari puasa Ramadan tidak terbatas pada upaya menahan diri (al-imsak) dari makan, minum, dan hubungan suami istri sejak fajar hingga terbenam matahari, tetapi terutama sebagai latihan menyucikan diri secara penuh, lahir dan batin. 

MUI menegaskan, hakikat dari puasa mencakup menahan diri dari segala ucapan dan perbuatan yang dilarang, termasuk ghibah (menggunjing), namimah (adu domba) fitnah, dan kata-kata yang melukai sesama. 

Kemenag RI dan lembaga-lembaga tafsir menegaskan, puasa adalah ibadah lahiriah sekaligus batiniah: puasa menahan fisik (shiyām), tetapi juga menuntun hati, pikiran, dan lisan untuk tetap bersih (shaum).

Karena itu, puasa dipahami sebagai pendidikan moral dan sosial. Puasa bertujuan mengasah empati terhadap mereka yang kekurangan, menumbuhkan solidaritas, serta meneguhkan akhlak yang lebih lembut dan bertanggung jawab. 

Puasa juga menjadi sarana untuk membebaskan diri dari dominasi syahwat dan membangun kesadaran spiritual yang lebih mendalam—hubungan yang lebih jernih dengan Allah, sesama, dan alam.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved