Opini
Opini: Pelangi di Pekan yang Sama
Negeri ini tidak membutuhkan keseragaman untuk tegak, melainkan keberanian menjaga keragaman yang telah menjadi kehendak-Nya sejak awal.
Puasa Ramadan adalah latihan pengendalian diri yang menyeluruh (kāffah), yang membentuk manusia agar lebih bertakwa, lebih berempati, dan lebih berakhlak.
Puasa selama bulan suci ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi perjalanan batin untuk memurnikan niat (takhlīṣu al-niyyah), memperhalus tutur kata (tahdhību al-kalām), dan memperkuat kepedulian sosial (ta‘zīzu al-ri‘āyah al-ijtimā‘iyyah).
Indonesia yang Bertumbuh dari Kebersamaan
Apabila Imlek, Rabu Abu, dan Puasa Ramadan dibaca dengan lensa akulturasi, maka outputnya adalah etika sosial yang sungguh dibutuhkan oleh Indonesia hari ini. Mendengarkan sebelum menghakimi. Menahan diri dari konflik kecil.
Memurnikan kata — puasa lidah dari ujaran kebencian, caci, dan hoaks. Menghargai ibadah orang lain. Menjaga ketertiban sosial.
Imlek menawarkan harapan, Rabu Abu memberi arah bagi pertobatan, dan Ramadan menghidupkan solidaritas.
Jika tiga cahaya ini dirangkai, bangsa ini sebenarnya memiliki fondasi moral yang kuat untuk merawat kerukunan.
Pesan Paus Leo XIV dan seruan FKUB Banten, meski lahir dari konteks berbeda, saling bersambut: keduanya mengajak pada kebersamaan yang aktif, bukan pasif.
Pekan ini, ketika tiga cahaya keimanan menyala bersamaan, kita diingatkan bahwa merawat Indonesia bukan semata perkara doa, tetapi juga tanggung jawab etis dalam keseharian: mendengar dengan saksama, berbicara dengan tertata, dan bersikap dengan empati.
Negeri ini tidak membutuhkan keseragaman untuk tegak, melainkan keberanian menjaga keragaman yang telah menjadi kehendak-Nya sejak awal.
Pesan ilahi yang kerap dipetik dari kitab suci—“Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal”—bukan sekadar kutipan spiritual, melainkan pedoman etika publik.
Di sanalah fondasi kebhinekaan diletakkan: bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dihidupi. Dan ketika pesan itu dijalankan dengan kesadaran, perbedaan tidak lagi menjadi sumber curiga, melainkan jembatan yang menguatkan rumah kebangsaan ini. Wallāhu a‘lamu biṣ‑ṣawāb. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hendrik-Maku-Pater-01.jpg)