Opini
Opini: Harmoni Semesta- Tiga Jalan, Satu Tujuan Menuju Fitrah
Mari jadikan momentum langka ini sebagai titik balik untuk menjadi manusia yang tidak hanya beragama, tapi juga ber-Tuhan.
Sebuah Refleksi
Oleh: H. Muhammad G.Arifoeddin.S.Pd,M.M
Ketua Umum MUI Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Ketika kalender manusia mempertemukan tiga peristiwa besar—Tahun Baru Imlek, Rabu Abu, dan Awal Puasa—dalam satu tarikan napas waktu, ini bukanlah sekadar kebetulan astronomis.
Bagi mereka yang "berpikir" (ulul albab), ini adalah isyarat langit: sebuah undangan serentak bagi umat manusia untuk melakukan jeda total dari hiruk-pikuk duniawi dan kembali menata batin.
Tulisan "Tiga Jalan, Satu Hati" di atas telah dengan jernih menangkap esensi persimpangan ini. Mari kita selami lebih dalam dengan perspektif Qur’ani.
Imlek dan Semangat Pembaruan Diri (The Inner Renewal)
Imlek disimbolkan sebagai pembersihan dan awal yang baru. Dalam narasi di atas, disebutkan bahwa “A new beginning starts from within.”
Hal ini sangat sejalan dengan prinsip Islam bahwa perubahan nasib dan keadaan eksternal harus dimulai dari revolusi internal jiwa.
Baca juga: Pertunjukan Barongsai Imlek 2026, Warga Padati Lippo Plaza Kupang
Allah SWT menegaskan hukum perubahan sosial dan spiritual ini dalam Al-Qur'an:
"...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..." (QS. Ar-Ra'd [13]: 11)
Semangat "Api" dan "Kuda" dalam Imlek bisa dimaknai sebagai ghirah (semangat) untuk melakukan Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa).
Membersihkan "rumah" bukan hanya fisik, tapi membersihkan hati dari dendam dan penyakit hati lainnya agar siap menyambut berkah tahun baru.
Rabu Abu dan Kesadaran Asal-Usul (Humility & Mortality)
Refleksi Rabu Abu tentang "Engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu" adalah pengingat keras akan mortalitas manusia.
Ini adalah obat bagi kesombongan, ego, dan rasa superioritas yang sering kali menjangkiti para pejuang atau pemimpin.
Dalam Islam, pengingat akan asal-usul penciptaan ini adalah fondasi kerendahan hati (tawadhu).
Kita diingatkan bahwa sehebat apa pun visi dan misi kita di bumi, kita hanyalah tanah yang diberi nyawa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Muhammad-G-Arifoeddin.jpg)