Senin, 4 Mei 2026

Opini

Opini: Memaknai Prapaskah di Tengah Dunia VUCA

Paus Fransiskus juga menyerukan persatuan, kasih dan solidaritas sebagai pedoman bagi kita untuk berpijar dan menghadapi VUCA. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI RIKARDO SILA
Rikardo Sila 

Oleh: Rikardo Sila
Mahasiswa Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM -  Dunia kita saat ini ibarat bahtera terancam karam. Perubahan iklim dan krisis lingkungan seperti pemanasan global, kebakaran hutan dan banjir, konflik dan perang, krisis ekonomi global, krisis kemanusiaan dan migrasi, serta revolusi teknologi dan kecerdasan buatan, terus mengguncang kemapanan dan ketenangan hati kita. 

Berbagai gempuran itu tak ayal menciptakan suatu situasi  suram, tidak stabil, kompleks  dan penuh ketidakpastian. 

Kita pun digiring menuju realitas dunia VUCA — Volatility (perubahan cepat), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kompleksitas), dan Ambiguity (ketidakjelasan makna). 

Menghadapi tantangan  dunia VUCA, diperlukan kemampuan dan kreativitas untuk mengubah situasi kesulitan menjadi peluang untuk berkembang, dari ketidakpastian menuju kepastian.  

Baca juga: Opini: Menikmati Surga yang Rusak- Wisata Penderitaan di Manggarai Timur

Dalam pidatonya kepada peserta Toniolo Young Professional Association  di Vatikan pada 26 Januari 2024, Paus Fransiskus memperingatkan bahaya “Pensiero breve” ― pola pikir pendek atau dangkal yang lahir dari budaya instan zaman digital. 

Ia mengajak kaum muda untuk tidak terjebak dalam pikiran reaktif melainkan membangun refleksi yang mendalam, berani mengambil risiko, dan tetap memiliki rasa kagum terhadap kehidupan itu sendiri. 

Ia  menegaskan bahwa kaum muda harus berani maju, karena merekalah agen-agen yang mampu menaklukan tantangan zaman.

Paus Fransiskus juga menyerukan persatuan, kasih dan solidaritas sebagai pedoman bagi kita untuk berpijar dan menghadapi dunia VUCA. 

Menurutnya, kita sedang berada di dalam perahu yang sama (Mar.6:45-52); karena itu kita tidak bisa menyelamatkan diri sendiri melainkan berkerja sama untuk menghadapi tantangan ini dan melewatinya secara bersama-sama.  

Ia mengajak kita semua (kaum beriman), saling bekerjasama, saling berpegangan tangan satu sama lain menangani krisis yang sama yang sedang semarak.

Percikan Refleksi dari Momentum Prapaskah

Di tengah hiruk pikuk dunia VUCA hari-hari ini, siklus tahun liturgi membawa kita kembali memasuki masa prapaskah. Masa ini dimulai pada hari Rabu Abu yang pada tahun ini jatuh pada 18 Februari 2026. 

Masa prapaskah merupakan masa puasa dan pantang, dengan kekhasannya dilukiskan dengan situasi berdoa, berpuasa dan berderma. 

Menandai dahi dengan abu pada hari ‘Rabu Abu’ melambangkan sikap pertobatan dan kerendahan hati. 

Bagi orang Kristen, ini bukan sekadar simbol tetapi tanda ajakan untuk memperbaiki diri dan mengarahkan hidup kepada Tuhan serta sesama. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved