Selasa, 14 April 2026

Opini

Opini: Menikmati Surga yang Rusak- Wisata Penderitaan di Manggarai Timur

Sebuah labirin penderitaan yang berkelok-kelok di tanah  subur dan diabaikan oleh mereka yang memegang kuasa. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI POS-KUPANG.COM
Marsel Robot 

Oleh: Marsel Robot
Dosen Bahasa dan Sastra FKIP Undana Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Andaikan, Anda tiba di suatu masa dimana Anda ditimbuni oleh kejemuan karena kejumudan kemewahan yang seakan tidak pernah diboikot oleh pengalaman getir selama hidup, maka  satu-satunya realitas yang tersisa untuk mengalami kegetiran yang melengket di setiap langkah hidupmu ialah Manggarai Timur. 

Wilayah ini merupakan tempat yang paling representative untuk menjenguk masa lalu dengan ketengikan nostaligiknya. Dan spot utama untuk menikmati “wisata penderitaan” itu adalah “ jalan raya yang ambruk.” 

Mirip sebuah labirin penderitaan yang berkelok-kelok di tanah  subur dan diabaikan oleh mereka yang memegang kuasa. 

Baca juga: Opini: Ketika Negara Absen di Ruang Kelas

Spot wisata ini tidak  ada dalam katalog pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Jalan raya di Manggarai Timur  berceritera dengan ambruknya, seperti rakyat berceritera dengan penderitaannya. Semisal, bercerita tentang  jalan yang menjadi sungai di musim hujan. 

Alirannya menjadi deras dan derasnya menelan roda kendaraan seperti mulut maut. 

Pada musim kemarau, jalan menjelma menjadi bukit Golgota yang menuntut setiap otot untuk menanjak dan menabung kesabaran sambil teriak di tepi jalan:  “Kraeng Bupati, Lama Sabachthani” (Bapak Bupati, mengapa kau tinggalkan daku).  

Sebab, bertarung dengan jalan rusak menjadi ritual penderitaan. Sedangkan, mereka yang berkuasa seolah menonton dari kejauhan, menikmati kenyamanan kursi jabatan. 

Sebelum menikmati perjalanan getir ini, ada syarat yang harus Anda penuhi antara lain keberanian menghadapi maut, kesabaran yang mengatur ritme nyali, dibutuhkan pula doa spontan, meminta Tuhan melindungi selama perjalanan, dan menyiapkan pakaian ganti usai menyeberangi sungai. 

Hampir semua aliran air di jalan raya Manggarai Timur tidak memiliki jembatan. 

Pada jalan buruk itu, setiap percikan lumpur adalah saklar pengingat bahwa kondisi jalan di sini adalah setting dalam cerita penderitaan  masyarakat Manggarai Timur. 

Anda seakan dihela kembali ke masa pra-kemerdekaan, ketika segala sesuatunya serba sulit dan setiap pencapaian harus diperjuangkan. 

Di antara semua medan yang menantang di Manggarai Timur, ada satu titik destinasi yang paling nyentrik adalah Desa Golo Nderu, Kecamatan Kota Komba Utara

Desa ini hanya 4 km dari Rana Mbeling, ibu kota kecamatan atau sekitar 37 km dari Borong, Ibu kota Kabupaten Manggarai Timur.  

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved