Opini
Opini: Memaknai Prapaskah di Tengah Dunia VUCA
Paus Fransiskus juga menyerukan persatuan, kasih dan solidaritas sebagai pedoman bagi kita untuk berpijar dan menghadapi VUCA.
Karena itu dalam masa ini Gereja mengajak dan mengundang umat beriman untuk berdoa, berpuasa dan berbagi sebagai wujud pertobatan.
Semua ini merupakan panggilan kasih dari Allah untuk kita supaya setiap pribadi tetap setia mencintai Tuhan dan sesama, meskipun seringkali manusia menyimpang dari kehendak-Nya.
Warna abu memiliki dua gradasi. Ia mendekati putih namun bukan putih (abu-abu terang), juga mendekati hitam tapi bukan hitam (abu-abu gelap).
Abu yang ditandai di dahi melambangkan kondisi bukan hitam-bukan pula putih− seperti keadaan manusia yang sering berada dalam ketidakjelasan di dunia yang juga penuh dengan ketidakpastian.
Dalam kenyataan hidup, manusia kerap terjebak dalam situasi dilematis dan sulit mengambil keputusan karena kompleksitas persoalan yang saling berkaitan tidak mudah dihadapi sendiri.
Keadaan ini melukiskan kebebasan manusia redup karena dihimpit oleh berbagai gejolak dunia (VUCA).
Karena itu memasuki masa prapaskah Tuhan mengajak dan mengundang kita untuk memurnikan identitas diri dalam pertobatan sehingga identitas kita terlihat jelas, bukan di antara, abu-abu, dan tidak jelas.
Sebagai umat Kristiani kita merasa bersyukur dan berbangga karena setiap tahun, Tuhan mengajak kita untuk selalu memurnikan diri dalam masa ini, sehingga kita tidak hidup dalam keabu-abuan.
Abu di dahi bukan menandakan situasi kekaburan melainkan melambangkan sikap penuh pertobatan, kerendahan hati dan kesadaran manusia akan kefanaannya.
Dengan demikian dalam masa keheningan agung ini, selama empat puluh hari kita mempunyai waktu untuk bertobat, berpuasa, berderma dan berpantang sebagai persiapan batiniah untuk menyambut kebangkitan Yesus Kristus pada paskah nanti.
Keteladanan Yesus selama Empat Puluh Hari
Selama empat puluh hari ke depan umat Kristiani berjalan bersama Tuhan Yesus dalam tapak “Via Dolorosa”--merenungkan kisah sengsara wafat dan kebangkitan-Nya.
Selama empat puluh hari kita diajak untuk menapaki pertobatan dalam hidup.
Yesus sendiri selama empat puluh hari dicobai iblis berulang-ulang. Di balik kepedulian palsu, janji, dan tawaran manis, iblis menyisipkan sebuah rencana busuk untuk menjebak Yesus dalam keadaan kemunafikan mereka.
Selama empat puluh hari dan malam di padang gurun Yesus dicobai tiga kali.
Ia digoda oleh iblis untuk mengubah batu menjadi roti sebagai cobaan jasmani, dicobai untuk menjatuhkan diri dari tebing yang tinggi sebagai cobaan unutk mencari popularitas, dan Yesus dicobai untuk memiliki seluruh kerajaaan apabila Ia menuruti kehendak iblis sebagai cobaan akan kekuasaan.
Rikardo Sila
Hari Rabu Abu
Memaknai Hari Rabu Abu
Opini Pos Kupang
Prapaskah
Nusa Tenggara Timur
Gereja Katolik
Gereja Katolik Roma
| Opini: Magnifica Humanitas- Menjaga Manusia di Ambang Algoritma |
|
|---|
| Opini: Menghantar Makan, Menanam Perilaku: Menelisik Peran Kader Pendamping Keluarga |
|
|---|
| Opini: Ketika Inflasi Tak Cukup Seksi untuk Disebut Politik |
|
|---|
| Opini: Membangun Kesadaran Ekologis Pemilih Pemula di Era Digital |
|
|---|
| Opini: Ketika Keberanian Bicara- Pelajaran Etika dari Sebuah Protes di Panggung LCC |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Rikardo-Sila.jpg)