Opini
Opini: Menikmati Surga yang Rusak- Wisata Penderitaan di Manggarai Timur
Sebuah labirin penderitaan yang berkelok-kelok di tanah subur dan diabaikan oleh mereka yang memegang kuasa.
Jarak yang seharusnya dekat itu justru terasa seperti perjalanan menuju ujung neraka.
Dari Rana Mbeling, Anda akan mengarungi jalan rusak parah. Setiap lubang adalah kisah getir, setiap bongkahan batu yang berserakan adalah kalimat yang menceritakan ketidakpedulian Pemerintah Manggarai Timur.
Relief kondisi jalan rusak menyerupai bibir para wakil rakyat yang tersenyum sinis ketika memandang rakyatnya bergumul menyeberang jalan rusak dan medan sulit. Dan janji-janji musim semi kampanye mulai membusuk dalam memori orang Golo Nderu.
Jika Anda membawa kendaraan, mobil Anda akan menjadi perlengkapan panggung dalam drama ini. Anda harus menariknya dari lumpur, mendorongnya menanjak.
Alunan desah napas saat menarik mobil atau setiap teriakan kesal ketika roda kendaraan tersangkut di rahang batu adalah alunan simfoni penderitaan yang absurd tentang penderitaan di desa yang subur itu.
Terasa hidup hanya beberapa keping saja yang dimengerti, selebihnya hamparan ketakpahaman atas tanda kehadiran pemerintah di daerah itu.
Perjalanan ini adalah epos. Kadang berjalan kaki lebih cepat dibandingkan dengan berkendaraan. Anda belajar bahwa di tanah yang subur, mimpi dikuburkan.
Bayangkan, hamparan sawah kopi, cokelat, dan cengkeh tumbuh lebat di atas penderitaan rakyat.
Tanaman komoditi di sini seakan mengajukan interupsi dan membiarkan Anda bertanya, “Mengapa kalian membiarkan diri menderita di tanah yang begitu memberi?” Dan rakyat begitu pandai mengolah penderitaan menjadi kegembiraan melalui lagu-lagu mereka.
Masyarakat Golo Nderu menambah episode pada epos ini dengan lakon mengagumkan: mereka menerima nasib dengan tenang, senyum, dan tertawa kecil sambil menyiang keadaan.
Di baliknya tersembunyi kesabaran yang dalam dan misteri yang tak terjamah oleh zaman. Mereka menanggung penderitaan sehari-hari di tanah yang kaya hasil bumi, mengarungi jalan rusak dengan keluhan yang tak pernah sampai di alamat.
Karena itu, keluhan sering mengonversi keluhan dalam lagu-lagu rakyat yang terdengar manis, namun syairnya berbisa.
Syair lagu seperti “kaba ghau salan, gheti niang weki, kasi asi tena dengkir. Nia ghau karaeng adak” yang dipadankan dalam bahasa Indonesia, “terkutuklah engkau jalan, usia kami setua begini, namun penderitaan belum berakhir. Di manakah kau Tuan Besar (bupati).
Syair lagu ini pahit sepahit kopi tanpa diseduh gula: personifikasi jalan sebagai pengutuk dan pembawa penderitaan hingga akhir hayat membawa pulang penderitaan. Lalu, di akhiri pertanyaan satire, di mana Tuan Besar, Pak Bupati?
Mengamati perjalanan ini dengan mata hati atau dengan hati bermata, Anda akan menyadari bahwa Manggarai Timur adalah surga yang dirusak.
Marsel Robot
Opini Marsel Robot
Opini Pos Kupang
Kabupaten Manggarai Timur
Rana Mbeling
Desa Golo Nderu
Kecamatan Kota Komba Utara
| Opini: Veronika! Su Nonton Film Pesta Babi Ko? |
|
|---|
| Opini: Memandang Penderitaan sebagai Doa dalam Terang Teologi Salib Edith Stein |
|
|---|
| Opini: Menakar Krisis Iklim Kemarau Ekstrem dan Gejolak Vulkanik Lewotobi Laki-laki |
|
|---|
| Opini: Amfoang yang Terlupakan- Saat BBM Langka, Jalan Rusak dan Faskes Menjadi Pajangan |
|
|---|
| Opini: Absurdistas Hukum di Negeri Konoha |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Akademisi-Undana-Kupang-Dr-Marsel-Robot-meragukan-alokasi-20-persen-dari-APBD.jpg)