Rabu, 22 April 2026

Opini

Opini: Universitas Merdeka Berpikir - Secuil Kisah dari Halaman Kampus Merdeka Malang

Kampus beraroma khas, unik dan bermakna. UNMER berbeda dengan kampus lain yang memiliki style sama.

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Gusty Rikarno, Pejalan Sunyi Literasi NTT 

Opini: Universitas Merdeka Berpikir - Secuil Kisah dari Halaman Kampus Merdeka Malang

Oleh: Gusty Rikarno
Pejalan Sunyi Literasi NTT

POS-KUPANG.COM - Jika benar hidup hanyalah sebatas cerita, maka saya adalah sepihan bahasa semesta yang ingin mengabadikan diri dalam satu cara.

Menulis hingga bernafas dalam kata dan membiarkan kata itu berbicara. Keputusan telah diambil dan langkah pertama sudah diayun.

“Mulai saja, biarkan semesta menyelesaikannya”. Kalimat ini, adalah cara saya merayakan setiap “misteri” kehidupan.

Memanggil energi semesta dari sabang hingga Mauarke, dari Kalimatan hingga Kupang-NTT. Kami di sini, di “halaman” kampus Universitas Merdeka (UNMER) Malang

Kami diterima di sini. Hujan dan angin berhenti sejenak. Sebagai tuan rumah yang  bekerja berdekatan dengan UNMER malang, Ibu sisil dan Pak Ali Rahmat menyambut kami dengan gembira.

Memperkenalkan Kota Malang dalam caranyanya yang khas. Ada senyum yang tulus, kata dalam suara lembut dan bahasa tubuh yang jujur.

Kami disuguhkan bahan cerita yang biasa tetapi bernas. Di titik ini, saya mengingatkan diri bahwa stroberi dan apel memang nikmat tetapi yang jauh lebih bergisi adalah persaudaraan, kebersamaan dan kekompakan di lorong sunyi Pascasajarja UNMER

Di sudut penginapan jalan sigura-gura, kami biasa menghabiskan kopi dan kisah yang renyah. Pak Rianto bercerita tentang Aceh dan segala keunikan di dalamnya.

Dari wilayah “Serambi Mekah”, sesekali ia menyebut tentang GAM (Gerakkan Aceh Merdeka) dan kerinduan mayoritas penduduknya untuk selalu  hangat dalam dekapan Garuda dan Merah-Putih.

Sementara Wihelmus yang senang dipanggil Wempy, bercerita tetang Papua. Tanah yang dititipkan surga di ujung Timur Indonesia. Kerinduan tetap sama. Ingin utuh dan bermakna dalam tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sementara Pak Ali bercerita tentang Pondok Pesantren, dengan sekian banyak “harta” terpendam di dalamnya. Menurutnya, adab di atas segalanya.

Apalah artinya gelar, jabatan dan kekayaan jika tidak memiliki “adab” yang baik. Sementara saya, seperti pejalan kaki yang berjuang mengerti semua isi cerita tersebut. Beginilah cara semesta berbicara. Seperti mimpi tapi nyata. Saya sedang berada di jalan pulang menuju hati dan pikiran sendiri. 

Pada halaman Kampus UNMER, saya mengerti satu hal. Indonesia adalah “rahim” yang utuh, bertumbuh dan berbuah dalam keanekaragaman.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved