Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Universitas Merdeka Berpikir - Secuil Kisah dari Halaman Kampus Merdeka Malang

Kampus beraroma khas, unik dan bermakna. UNMER berbeda dengan kampus lain yang memiliki style sama.

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Gusty Rikarno, Pejalan Sunyi Literasi NTT 

Di sinilah, kami belajar berpikir tentang bagaimana seharusnya berpikir. Merakit fakta (fenomena) agar mampu “berbicara” dalam satu sudut pandang berbeda.

Menentukan tema, judul, paradigma, pedekatan, metode dan sebagainya adalah cara kami ingin berarti. Kami adalah anak negeri yang berjalan dalam irama yang tidak biasa. Para “petarung” yang berikhtiar dalam sunyi untuk tidak meninggalkan gelanggang sebelum pertarungan dimenangkan. 

Internship Penelitian Sosial A’la UNMER Malang

Langit Nusa Tenggara Timur belum sepenuhnya cerah. Cerita yang “tidak biasa” selalu datang dari salah satu provinsi kepulauan di ujung timur-selatan ini.

Ada angin dan hujan yang hadir bagai sahabat karib. Kompak dan bersemangat. Sementara itu narasi “keterbelakangan” sesekali hadir, menusuk dan menembus.

Di situasi begini, sebaiknya tetap di rumah. Memeluk api tradisi, peradaban dan sikap konsitensi untuk terus menyalakan pelita ketimbang selalu menghabiskan energi mengutuk kegelapan. 

Oh ya, di baru-baru ini, cerita tentang seorang seorang anak Sekolah Dasar yang “bundir” karena disinyalir ibunya yang adalah janda tidak mampu membelikan balpoint dan buku untuknya yang setara dengan harga sepuluh ribu rupiah.

Cerita ini langsung menggetarkan langgit Indonesia bahkan dunia. Sebuah “tamparan” halus tetapi meninggalkan jejak refleksi mendalam.

Apakah di titik ini negara gagal? Entahlah. Satu hal yang pasti, kami ingin merubah garis nasib melalui dunia pendidikan. Kami sesungguhnya butuh sekolah gratis ketimbang makanan gratis. Itu saja. 

Sejujurnya di musim dan bulan begini, saya merasa lebih nyaman berada di rumah. Apalagi saya adalah seorang wiraswasta. Pengangguran terencana.

Ada kopi yang walau tidak terlalu manis tetapi tetap hangat. Namun, benarlah cerita tua itu. Dibalik seorang laki-laki hebat (berpura-pura hebat), selalu ada perempuan yang setia berdiri dan menopang.

Sang kekasih (mama dari anak-anak), secara diam-diam membelikan tiket pesawat.  Memaksa saya untuk segera tiba di kampus ini. UNMER Malang.

Kampus beraroma khas, unik dan bermakna. UNMER berbeda dengan kampus lain yang memiliki style sama. Dipagari tembok, jauh dari kebisingan dunia dan membangun menara unggul dalam satu tagline, “kampus berdampak”. 

UNMER seperti deretan etalase nasi rawon yang bisa “dinikmati” oleh semua pencari ilmu dari berbagai latar belakang arah mata angin baik suku, agama, ras dan budaya.

Tidak ada batas dan syarat khusus. Semua orang berhak “berbelanja” ilmu pengetahuan dan keterampilan di tempat ini. Sebuah kampus yang ikut merasakan lebih dekat dan dalam terhadap berbagai getaran fakta dan fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved