Opini
Opini: Universitas Merdeka Berpikir - Secuil Kisah dari Halaman Kampus Merdeka Malang
Kampus beraroma khas, unik dan bermakna. UNMER berbeda dengan kampus lain yang memiliki style sama.
Kami di semester dua, kelas doktoral. Lebih banyak tertawa dan bercada ria. Untuk saya (kami) yang datang dari daerah, perjumpaan ini semacam “tamasya intelektual”.
Kalau ada yang menilai (khususnya kakak tingkat yang sedang serius mempersiapkan diri mengikuti ujian proposal dan hasil), kami adalah bunyi yang nyaring tetapi kosong, mungkin ada benarnya.
Terkadang saya berpikir, apakah yang ilmiah itu harus selalu tegang dan menakutkan? Namun satu hal yang pasti, saya (kami) menenteng draf proposal yang belum utuh bahkan hanya sebatas tema kecil yang belum tuntas dan masih sulit dinilai layak. Untuk itulah kami diundang hadir.
Di hadapan kami semua, tepatnya di Aula Pascasarjana UNMER, Ketua Prodi S3 Ilmu Sosial UNMER Malang, Prof. Dr. Drs. Bonaventura Ngarawula, MS membuka cakrawala konsep berpikir sekaligus alasan rasional kenapa di musim yang tidak biasa ini kami harus hadir di UNMER.
Prof. Bonaventura dikenal sebagai guru besar yang aktif dalam pengembangan ilmu sosial–humaniora, khususnya dalam bidang yang berkaitan dengan filsafat, pendidikan, atau kajian sosial.
Ia menekankan pentingnya memahami esensi pendekatan kualitatif yakni ekplorasi mendalam tentang fenomena sosial dan pengalaman manusia, mengenal konteks ilmiah dalam setting natural tanpa manipulasi variabel dan menegaskan pentingnya peneliti dalam interpretasi dan konstruksi makna.
Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo sebagai pemateri pertama menyajikan konsep dasar penelitian kualitatif. Kata kunci penelitian kualitatif adalah memahami atau mengerti.
Hal ini terlihat jelas dalam karya-karyanya seperti penelitian kualitatif, studi kasus, fenomenologi, Hermeneutika dan penelitian berbasis makna (meaning-centered research).
Ia menekankan bahwa penelitian sosial dan pendidikan tidak cukup dijelaskan dengan angka, tetapi harus memahami makna yang hidup dalam kesadaran subjek.
Dalam filsafat ilmu, ia banyak menjelaskan Perbedaan paradigma positivistik dan post-positivistik, ontologi, epistemologi, dan aksiologi penelitian dan hakikat kebenaran dalam ilmu sosial.
Ia menegaskan bahwa ilmu sosial tidak mencari hukum universal seperti ilmu alam, tetapi memahami realitas sosial sebagai konstruksi makna.
Lebih lanjut, pemateri kedua disajikan secara sederhana dan renyah oleh Prof. Dr. H. Agus Sholahuddin dengan materi terkait persepektif pendekatan kualitatif dari problem statement sampai novelty hasil penelitian. Banyak hal yang disampaikannya termasuk ciri-ciri tinjauan pustaka yang baik.
Menurutnya, dalam kajian pustaka, informasi yang diuraikan harus konsisten (relevan) dengan pokok masalah penelitian, topik yang dibahas terlihat jelas dan jernih, antara uraian yang satu dengan uraian yang lain harus tersambung secara sitematis, logis dan mudah dimerngerti serta informasi yang disajikan seimbang antara yang pro terhadap ide peneliti dan yang kontra terhadap ide peneliti.
Prof. Agus adalah akademisi Indonesia yang dikenal dalam bidang sosiologi agama, studi Islam, dan kajian sosial-keagamaan kontemporer.
Banyak menekuni bidang keilmuan sosiologi agama, radikalisme dan moderasi beragama, fundamentalisme, pluralisme, moderasi Islam dan relasi agama-negara.
Opini: Universitas Merdeka Berpikir
Kampus Merdeka Malang
Gusty Rikarno
Universitas Merdeka (UNMER) Malang
UNMER
NTT
POS-KUPANG.COM
| Opini: Dunia yang Kehilangan Tatanan |
|
|---|
| Opini: El Nino Godzilla, Potensi Bias Risiko dan Arah Kebijakan |
|
|---|
| Opini: SiLPA NTT 2025- Ketika Sisa Anggaran Menjadi Cermin Kegagalan Serapan |
|
|---|
| Opini: Martabat Perempuan di NTT dalam Terang Dokumen Mulieris Dignitatem |
|
|---|
| Opini: Saatnya Kita Bangun Masyarakat Interkultural |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gusty-Rikarno-02.jpg)