Opini
Opini: Universitas Merdeka Berpikir - Secuil Kisah dari Halaman Kampus Merdeka Malang
Kampus beraroma khas, unik dan bermakna. UNMER berbeda dengan kampus lain yang memiliki style sama.
Pemateri terakhir adalah Dr. Catur Wahyudi. Ia menyajikan materi diseminasi aplikasi dan pengantar praktek penelitian kualitatif.
Menurutnya, para mahasiswa pascasarjana harus memahami secara utuh gab antara yang seharusnya dan yang senyatanya, antara yang ideal dengan fakta prakmatis yang terjadi.
Selain itu, hindari dalam praktek penelitian kualitatif yang mengeksplorasi issue yang tidak qualitativeness, inkosistensi rumusan masalah, tujuan, fokus dan data-data penelitian yang disajikan. Akh, masih banyak lagi. Tidak elok jika saya harus tampilkan semuanya.
Tiba-tiba saya betah di sini. Ingin mendirikan tiga kemah. Satu untuk Rianto dan kawan-kawan dari wilayah Barat Indonesia. Yah, jangan lagi berpikir sendiri dan berniat merdeka sendiri. Kemah yang satu untuk Wihelmus, saya dan kawan-kawan dari Timur Indonesia.
Mari kita merdekakan Papua dan Indonesia Timur dalam pikiran dan kesejahteraan. Kemah terakhir untuk Bang Ali Rahmat, Mbak Sisil dan kawan-kawan di daratan Jawa dan Kalimantan.
Bersamalah kita melangkah sampai akhir. Fokus, lokus dan tempus penelitian kita boleh berbeda tetapi darah dan nafas kita tetap abadi untuk menjaga Indonesia dengan pikiran dan adab.
Kelas sehari internship penelitian sosial a’la UNMER Malang, mengajak kami untuk berpikir sebelum belajar dan ber-aksi. Benar. Kami berpikir untuk belajar dan sudah terlampau tua untuk belajar agar bisa berpikir.
Kami sudah berpikir banyak hal bahkan untuk sesuatu yang seharusnya tidak perlu kami pikirkan. Namun, bagaimana harus berpikir secara sistematis, logis dan berdampak, itu adalah alasan utama kami hadir dan bersama air, mengalir sampai ke jauh dalam ke-merdeka-an berpikir.
Universitas Merdeka (Berpikir)
Prof. Mudjia selalu meyakinkan kami, kalau filsuf itu adalah kami yang terus resah dengan banyak fakta (fenomena), menyelami akar persoalanya untuk kemudian tampil menawarkan solusi.
Karenanya, filsafat harus dijadikan “fondasi “cakar ayam” agar menemukan paradigma berpikir agar bisa masuk pada landasan teori, pendekatan, metode dan sebagainya.
Trinitas penelitian itu adalah fokus, lokus dan tempus. Akh, rumit ya? Saya botak-kan kepala biar terlihat cerdas dan mampu berpikir. Saya mencoba “mengawinkan” Universitas Merdeka Malang sebagai Universitas Merdeka berpikir dari empat arah mata angin.
Pertama, merdeka berpikir bukan sekadar “bebas berpendapat”, tetapi suatu kondisi batin dan intelektual di mana seseorang mampu menggunakan akal budinya secara otonom, kritis, dan bertanggung jawab.
Konsep ini sangat kuat dalam tradisi filsafat modern, terutama pada gagasan Immanuel Kant melalui semboyannya Sapere Aude (beranilah menggunakan akal budimu sendiri). Immanuel Kant (1724–1804) adalah filsuf besar zaman pencerahan (Aufklärung).
Ia dikenal sebagai pemikir yang “mendamaikan” rasionalisme dan empirisme melalui apa yang ia sebut sebagai kritik yakni penyelidikan batas dan kemampuan akal manusia.
Ada tiga karya besarnya yakni Critique of Pure Reason (1781) tentang batas dan struktur pengetahuan, Critique of Practical Reason (1788) tentang moralitas dan kebebasan serta Critique of Judgment (1790) tentang estetika dan teleologi.
Dalam konteks internship penelitian sosial a’la UNMER Malang, Sapere Aude adalah seruan keberanian intelektual. Bukan sekadar “pintar”, tetapi berani menggunakan kecerdasan.
Memerdekakan pikiran jauh lebih bermakna dan produktif dari sekadar kata merdeka yang lebih bersifat politis. Mungkin masih ingat Mitologi Gua-nya Plato.
Ia menggambarkan sekelompok manusia yang sejak kecil terbelenggu di dalam gua. Mereka hanya bisa melihat bayangan benda-benda di dinding gua, yang dipantulkan oleh cahaya api di belakang mereka.
Bagi para tahanan itu, bayangan itu adalah kenyataan. UNMER menyadarkan kami (mahasiswa) jika dunia luar jauh lebih nyata daripada bayangan dan matahari adalah sumber cahaya dan kebenaran.
Kami memiliki tanggung jawab untuk kembali dan membimbing yang lain, meskipun berisiko ditolak. Semisal, paradigma postpositivistik itu unik dan menarik tetapi tidak banyak orang mendalaminya.
Kedua, merdeka berpikir sebagai kesadaran kritis. Dalam tradisi filsafat kritis, terutama pada Paulo Freire, merdeka berpikir adalah proses conscientização (penyadaran kritis). Artinya, manusia sadar bahwa realitas sosial bisa dipertanyakan.
Tidak menerima ketidakadilan sebagai “nasib”, berani membaca dunia, bukan hanya membaca teks. Merdeka berpikir di sini adalah pembebasan dari penindasan struktural dan mental.
Pendidikan harus membangkitkan kesadaran kritis terhadap struktur penindasan, mampu membaca dunia (reading the world) sebelum membaca kata (reading the word) dan tidak menerima ketidakadilan sebagai takdir.
Cakrawala penelitian kualitatif a’la UNMER bakal menjadi “oleh-oleh” saat kami kembali ke medan karya. Kembali mengabdi di pelosok negeri dan menegaskan bahwa pendidikan sebagai praktik pembebasan.
Jika pendidikan tidak membebaskan, maka ia sedang melanggengkan penindasan. Sesungguhnya, tujuan pendidikan adalah humanisasi, emansipasi, transformasi sosial. Dengan demikian, kehadiran kami di UNMER Malang adalah untuk pendidikan itu sendiri dan gelar hanyalah bonus.
Ketiga, merdeka berpikir sebagai keaslian (eksistensial). Dalam filsafat eksistensial, seperti pada Jean-Paul Sartre, kebebasan berpikir adalah kondisi ontologis manusia. Manusia terkutuk untuk bebas.
Ia bertanggung jawab atas cara ia memahami dunia. Ia tidak bisa menyalahkan sistem sepenuhnya atas pikirannya. Merdeka berpikir berarti hidup secara autentik, tidak sekadar meniru kesadaran kolektif.
Gagasan paling terkenal dari Sartre adalah eksistensi mendahului esensi. Jika pisau diciptakan dengan tujuan tertentu (esensinya sudah ditentukan), manusia tidak demikian. Manusia ada dulu, kemudian menentukan dirinya.
UNMER Malang, memanggil yang jauh dan mendekap yang dekat. Mengajak kembali ke inti terdalam diri dan bisa bertanya, who am I? Kami hadir dalam ragam profesi dan konteks bidang karya.
Oleh karena itu, saya (kami) yang terkutuk untuk bebas itu seharusnya mampu “membebaskan” yang lain dan diri sendiri dalam satu cara yang rasional, profesional, terukur dan terarah.
Keempat, dalam Konteks pendidikan Indonesia khususnya dalam gagasan Ki Hadjar Dewantara, merdeka berpikir berarti pendidikan yang memanusiakan manusia.
Bukan pendidikan yang menyeragamkan pikiran, menghafal tanpa memahami, takut pada perbedaan. Tetapi pendidikan yang menumbuhkan daya cipta, Menghormati kebudayaan, Mengembangkan karakter merdeka.
Dengan demikian, merdeka berpikir bukan, bebas menghina, bebas menyebar hoaks, bebas tanpa dasar argumentasi. Kebebasan tanpa nalar berubah menjadi anarki; nalar tanpa kebebasan berubah menjadi dogma.
Kami (nahasiswa doktoral) adalah “petarung” yang mengerti jalan tuju dan jalan pulang. Pribadi yang tergerak untuk “bermakna” bagi yang lain.
Sebuah ikhtiar untuk berdiri di atas akal budi sendiri tanpa kehilangan kerendahan hati untuk terus belajar. UNMER Malang memberi “obat penawar” agar kami tetap menjaga keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab, kritik dan empati, otonomi dan solidaritas.
Di titik ini, merdeka berpikir bukan hanya konsep teoretis tetapi fondasi “cakar ayam” pembentukan manusia yang tidak mudah dikendalikan oleh sensasi, tetapi setia pada substansi.
Epilog
Pada sudut halaman Kampus UNMER Malang, saya (kami) paham satu hal bahwa kampus bukan gedung dengan segala perangkat adminstrasinya tetapi ruang batin tempat pikiran diuji, nurani diasah, dan keberanian dilatih.
Di halaman kampus inilah, kemerdekaan berpikir menemukan napasnya, “menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia yang memiliki keunggulan kompetitif di tingkat nasional dan intenasional”. Tentunya ini bukan hanya visi atau sebagai slogan, tetapi sebagai laku hidup akademik.
Setiap diskusi yang jujur, setiap perdebatan yang argumentatif, dan setiap pencarian makna yang sungguh-sungguh adalah tanda bahwa universitas masih setia pada jati dirinya, membebaskan akal dari ketakutan dan membebaskan ilmu dari kepentingan sempit.
UNMER Malang adalah universitas merdeka berpikir yang mampu menumbuhkan tanggung jawab intelektual. Melalui kegiatan intenship penelitian sosial, saya (kami) menyalakan daya kritis dan mengolahnya menjadi kesadaran.
Halaman kampus menjadi ruang perjumpaan antara tradisi dan perubahan, antara teks dan konteks, antara gagasan dan realitas sosial.
Akhirnya, kisah dari Kampus Merdeka Malang ini bukan hanya cerita tentang institusi, tetapi tentang manusia-manusia yang memilih untuk berpikir dengan merdeka. Sebab universitas bukanlah bangunan yang berdiri dari beton, melainkan komunitas akal budi yang terus bergerak.
Terima kasih untuk hati yang luas, kata-kata yang membekas dan ikhtiar untuk bersama sampai akhir. Sampai bertemu di satu titik, waktu yang tepat kita merayakan kebebasan berpikir itu dalam satu cara. Saya (kami) kembali untuk pulang.
Membakar sejuta harap, UNMER Malang tetap menjadi kampus yang menyalakan harapan dan kemerdekaan berpikir. Kita memiliki perbedaan waktu satu jam tetapi kita memiki sejuta hari yang bisa dinikmati bersama. Kiranya semesta menuntaskan semua niat baik kita. (*)
Ikuti opini dan berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
Opini: Universitas Merdeka Berpikir
Kampus Merdeka Malang
Gusty Rikarno
Universitas Merdeka (UNMER) Malang
UNMER
NTT
POS-KUPANG.COM
| Opini: Dunia yang Kehilangan Tatanan |
|
|---|
| Opini: El Nino Godzilla, Potensi Bias Risiko dan Arah Kebijakan |
|
|---|
| Opini: SiLPA NTT 2025- Ketika Sisa Anggaran Menjadi Cermin Kegagalan Serapan |
|
|---|
| Opini: Martabat Perempuan di NTT dalam Terang Dokumen Mulieris Dignitatem |
|
|---|
| Opini: Saatnya Kita Bangun Masyarakat Interkultural |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gusty-Rikarno-02.jpg)