Opini
Opini: Nilai Moral Upacara Reba di Kampung Turekisa dalam Perspektif Moral Kristiani
Ritual Reba biasanya dilaksanakan pada bulan Januari hingga Februari berdasarkan kalender adat paki sobhi.
Oleh: Fladimir Sie
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Boleh dibilang, keretakan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta semakin nyata pada masa kini.
Arogansi dan ketamakan manusia telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang berujung pada bencana, sementara nafsu berkuasa sering kali mendorong manusia merendahkan martabat sesamanya.
Mahatma Gandhi dengan tajam pernah mengingatkan bahwa bumi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi nafsu satu orang tamak, karena selalu ada keinginan untuk menguasai lebih banyak lagi.
Realitas ini menunjukkan bahwa krisis ekologis dan sosial sejatinya berakar pada krisis moral manusia.
Baca juga: Opini: Bayi dalam Jerat Bisnis, Sebuah Tragedi Perdagangan Bayi
Berbeda dengan kecenderungan masyarakat modern, manusia tradisional hidup dalam kesadaran akan keseimbangan kosmis. Alam dipandang sebagai bagian dari kehidupan, bukan objek eksploitasi.
Semua tindakan hidup menempatkan entitas ilahi pada posisi tertinggi, sehingga relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam terpelihara secara harmonis.
Kesadaran inilah yang masih hidup dalam masyarakat adat Ngada, khususnya melalui ritual adat Reba yang juga dilaksanakan secara khidmat oleh masyarakat Kampung Turekisa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Dalam keyakinan masyarakat Ngada pada umumnya dan masyarakat Kampung Turekisa Khususnya, manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga bumi dan segala isinya.
Merusak lingkungan hidup dipahami sebagai tindakan yang mencederai ciptaan Tuhan.
Oleh karena itu, ritual Reba yang digelar setiap penyambutan tahun baru adat bukan sekadar seremonial budaya, melainkan sebuah upaya kolektif untuk membangun kembali relasi yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.
Nilai ini sejalan dengan ajaran moral Kristiani yang memandang manusia sebagai rekan kerja Allah dalam merawat ciptaan.
Ritual Reba biasanya dilaksanakan pada bulan Januari hingga Februari berdasarkan kalender adat paki sobhi.
Secara umum, upacara adat Reba memiliki tiga tahap utama, yakni Kobe Dheke, Kobe Dhoi, dan Kobe Su’i, yang masing-masing mengandung pesan moral yang mendalam.
Pada tahap Kobe Dheke, seluruh anggota suku diundang untuk kembali ke rumah induk (sa’o pu’u).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Fladimir-Sie.jpg)