Opini
Opini: Nilai Moral Upacara Reba di Kampung Turekisa dalam Perspektif Moral Kristiani
Ritual Reba biasanya dilaksanakan pada bulan Januari hingga Februari berdasarkan kalender adat paki sobhi.
Makna simbolik dari tindakan ini bukan sekadar pulang kampung, melainkan sebuah ajakan kontemplatif untuk mengingat asal-usul kehidupan.
Menapaki tangga menuju ruang inti rumah adat (one sa’o) dimaknai sebagai perjalanan spiritual kembali kepada Sang Pencipta dan para leluhur.
Dalam perspektif moral Kristiani, Kobe Dheke sejalan dengan panggilan pertobatan, yakni kembali kepada Allah sebagai sumber kehidupan.
Kesadaran akan asal-usul ini menumbuhkan sikap rendah hati dan syukur, sekaligus mengingatkan manusia agar tidak hidup terlepas dari nilai-nilai spiritual.
Melupakan rumah induk (rebho sa’o pu’u) dipahami sebagai kehilangan arah hidup yang dapat membawa kehancuran relasi sosial dan spiritual.
Tahap kedua, Kobe Dhoi, ditandai dengan tarian dan nyanyian adat “O uwi” yang dilakukan secara massal dalam formasi lingkaran.
Lingkaran melambangkan persatuan, kesetaraan, dan persekutuan. Tidak ada perbedaan status sosial dalam tarian ini; semua orang mengambil bagian sebagai satu komunitas.
Nilai ini sangat sejalan dengan moral Kristiani yang menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama sebagai citra Allah dan dipanggil untuk hidup dalam kasih dan solidaritas.
Tahap ketiga, Kobe Su’i atau Su’i uwi, meneguhkan martabat uwi (ubi) sebagai simbol kehidupan.
Bagi masyarakat Ngada, uwi merupakan makanan kehidupan yang diwariskan leluhur dan tidak merusak tanah.
Pelestarian tradisi Uwi Reba mencerminkan kecerdasan ekologis, karena penanaman ubi menjaga kesuburan tanah dan mendorong kemandirian pangan.
Dalam terang iman Kristiani, praktik ini sejalan dengan panggilan untuk merawat ciptaan Tuhan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Selain itu, ritual Su’i uwi juga menjadi sarana rekonsiliasi sosial.
Pemotongan dan pembagian uwi melambangkan persatuan, perdamaian, dan pembaruan relasi.
Konflik keluarga atau ketegangan sosial diselesaikan melalui makan bersama, berlandaskan prinsip “kita ine le mogo ema le utu”, bahwa semua berasal dari satu asal.
Nilai ini selaras dengan ajaran Injil tentang pengampunan, kasih, dan perdamaian sebagai dasar kehidupan bersama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Fladimir-Sie.jpg)