Sabtu, 25 April 2026

Opini

Opini: Molo Mama, Molo Indonesia

YBR menurunkan diksi yang berlumuran luka menyerupai ayat Injil yang daya gugahnya melampaui maklumat

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI POS-KUPANG.COM
Marsel Robot 

Ia menjelma epik tragik kisah kepahlawanan terbalik, martir ketika pahlawan tidak mengalahkan musuh di medan perang, melainkan dikalahkan oleh kemiskinan struktural, ketidakadilan pendidikan, dan negara yang kaya raya, namun hati nurani karat, tak pernah dirawat. 

Sungguh sebuah surat yang tak pernah berniat menjadi teks, tetapi menjelma aksara bersuara jeritan, gerimis getir terakhir yang mengalir dari pojok sejarah untuk mengumumkan sesuatu yang lebih tragis dari alasan kematian itu sendiri ialah wafatnya hati nurani bangsa besar ini. 

YBR menurunkan diksi yang berlumuran luka menyerupai ayat Injil yang daya gugahnya melampaui maklumat, bahkan lebih kuat dari sekuntum doa kutukan seorang uskup.  

Surat itu adalah lonceng kematian hati nurani yang dipukul oleh tangan kecil, sebuah peringatan bahwa di negeri yang gemar berbicara tentang kesejahteraan, masih ada anak-anak yang harus mengucapkan selamat tinggal dan pergi selamanya dengan cara tragis. 

YBR  bukan hanya anak dari Mama Reti. Ia juga anak dari negeri ini. Negeri yang kaya sumber daya, tetapi miskin moral. Ia menjadi martir yang tidak pernah memilih untuk menjadi martir. 

Ia juga menjadi meteor yang melintas singkat di jagat raya Indonesia, terang sesaat, lalu hilang, sementara orasi-orasi terus diproduksi, meja birokrasi terus dilap, dan kongsi busuk terus bekerja dalam kenyamanan. 

Pertanyaan yang mmasih tergantung di pohon cengkeh itu bukan lagi apa yang ditulis YBR, melainkan, “apa yang kita lakukan setelah membacanya?” Jika setelah ini kita kembali nyaman, maka aksara-aksara itu benar-benar mati. 

Namun, jika satu saja dari sembilan baris itu terus berdetak dalam radar moralitas kita, maka YBR masih hidup.  Dan barangkali, itulah makna paling epik dari sebuah surat yang ditulis dengan tangan kecil, di pondok kecil, di negeri yang sering lupa mendengar anak-anaknya.

Dan pusara YBR adalah “buku tulis raksasa” yang ditinggalkannya kepada kita untuk menulis ironi bangsa ini. Ia telah menitipkan judul buku itu: Molo Mama,  Molo Indonesia.  (*)

Simak terus berita dan atikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved