Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Molo Mama, Molo Indonesia

YBR menurunkan diksi yang berlumuran luka menyerupai ayat Injil yang daya gugahnya melampaui maklumat

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI POS-KUPANG.COM
Marsel Robot 

Membaca Pesan Epik dalam Lipatan Surat YBR

Oleh: Marsel Robot
Dosen Bahasa dan Sastra FKIP Undana Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Molo Mama, sepucuk surat yang ditulis si kecil, YBR dari tepi hidup atau dari margin paling kiri dalam  halaman sejarah negeri ini. 

Menulis sebelum ia menuju pohon cengkeh tempat ia menggantung diri, menggantung impiannya, dan menggantung pesan penting untuk Indonesia. 

Ia, seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada ( NTT) menulis surat semacam sobekan ideologis yang menampar wajah Indonesia, dan memperlihatkan betapa janji-janji kesejahteraan lebih menyakitkan, betapa keadilan sosial menjadi slogan sampah, dan betapa jauh negara berdiri dari dapur rakyat kecil.

Baca juga: Opini: Anak Itu Pergi di Saat Tak Ada yang Datang

Surat itu pendek, tapi maknanya panjang. Hanya sembilan baris. Namun, daya ledaknya  melampaui pidato Presiden Prabowo tentang Makan Bergizi Gratis yang kerap beracun yang menghabiskan  ratusan trilun.

Daya pagutnya surat YBR melampaui teriakan kemarahan Melki Laka Lena  (gubernur NTT) yang terlambat menghela kain kafan atau suara serak Raymundus Bena (bupati Ngada) yang beralibi di tepi makam yang masih basah itu. 

Surat ditulis YBR dalam bahasa ibu (bahasa daerah). Dan di sanalah letak keabadian surat ini. 

Bahasa Ibu yang melahirkan makna dari rahim peradaban, tempat emosi pertama kali dipelajari secara kolektif. Karena itu pula,  aksara-aksara dalam surat ini tidak pernah menjadi jenazah. 

Bahkan, surat ini mengingatkan kita bahwa YBS hidup setelah ia meninggal. 

Sebab, ia menetap dalam buku sejarah dan betah dalam ingatan masyarakat Indonesia, jauh setelah viralitas mereda.

Surat ini disusun dengan formula puisi. Dua bait, dipisahkan oleh baris kosong, sebuah spasi yang lebih fasih daripada tanda baca. 

Dalam puisi, baris tidak selalu menentukan makna; justru kesatuan antarbarislah yang membentuk medan semantik. Dan di sinilah YBR yang masih kelas empat sekolah dasar itu, menulis dengan  getir, bahkan menjadi petir, menggelegar setiap sudut hati orang di negeri yang ngeri ini.

Judul yang dituliskan di bagian atas: “Kertas Tii Mama Reti” (Surat untuk Mama Reti). Judul ini seperti pintu kecil menuju dunia yang sempit penuh kabut legam. 

Ia menandai satu relasi paling dasar dalam hidup manusia, anak dan ibu. Namun, seperti semua teks yang ditulis lugas, yang tampak personal perlahan membuka makna yang lebih luas. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved