Opini
Opini: Molo Mama, Molo Indonesia
YBR menurunkan diksi yang berlumuran luka menyerupai ayat Injil yang daya gugahnya melampaui maklumat
Membaca Pesan Epik dalam Lipatan Surat YBR
Oleh: Marsel Robot
Dosen Bahasa dan Sastra FKIP Undana Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Molo Mama, sepucuk surat yang ditulis si kecil, YBR dari tepi hidup atau dari margin paling kiri dalam halaman sejarah negeri ini.
Menulis sebelum ia menuju pohon cengkeh tempat ia menggantung diri, menggantung impiannya, dan menggantung pesan penting untuk Indonesia.
Ia, seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada ( NTT) menulis surat semacam sobekan ideologis yang menampar wajah Indonesia, dan memperlihatkan betapa janji-janji kesejahteraan lebih menyakitkan, betapa keadilan sosial menjadi slogan sampah, dan betapa jauh negara berdiri dari dapur rakyat kecil.
Baca juga: Opini: Anak Itu Pergi di Saat Tak Ada yang Datang
Surat itu pendek, tapi maknanya panjang. Hanya sembilan baris. Namun, daya ledaknya melampaui pidato Presiden Prabowo tentang Makan Bergizi Gratis yang kerap beracun yang menghabiskan ratusan trilun.
Daya pagutnya surat YBR melampaui teriakan kemarahan Melki Laka Lena (gubernur NTT) yang terlambat menghela kain kafan atau suara serak Raymundus Bena (bupati Ngada) yang beralibi di tepi makam yang masih basah itu.
Surat ditulis YBR dalam bahasa ibu (bahasa daerah). Dan di sanalah letak keabadian surat ini.
Bahasa Ibu yang melahirkan makna dari rahim peradaban, tempat emosi pertama kali dipelajari secara kolektif. Karena itu pula, aksara-aksara dalam surat ini tidak pernah menjadi jenazah.
Bahkan, surat ini mengingatkan kita bahwa YBS hidup setelah ia meninggal.
Sebab, ia menetap dalam buku sejarah dan betah dalam ingatan masyarakat Indonesia, jauh setelah viralitas mereda.
Surat ini disusun dengan formula puisi. Dua bait, dipisahkan oleh baris kosong, sebuah spasi yang lebih fasih daripada tanda baca.
Dalam puisi, baris tidak selalu menentukan makna; justru kesatuan antarbarislah yang membentuk medan semantik. Dan di sinilah YBR yang masih kelas empat sekolah dasar itu, menulis dengan getir, bahkan menjadi petir, menggelegar setiap sudut hati orang di negeri yang ngeri ini.
Judul yang dituliskan di bagian atas: “Kertas Tii Mama Reti” (Surat untuk Mama Reti). Judul ini seperti pintu kecil menuju dunia yang sempit penuh kabut legam.
Ia menandai satu relasi paling dasar dalam hidup manusia, anak dan ibu. Namun, seperti semua teks yang ditulis lugas, yang tampak personal perlahan membuka makna yang lebih luas.
Surat ini tidak berhenti pada Mama Reti, kata-kata surat ini berjalan keluar, menyapa kita semua sebagai masyarakat, sebagai negara, sebagai saksi farisi yang terlalu sering datang terlambat dan dalam kondisi nurani yang sekarat.
Baris pertama, Ia menulis dengan begitu satirik: “Mama galo zee” (Mama pelit sekali). Frasa ini mengandung paradoks emosional. Ia tampak sederhana.
Namun, frasa itu warnanya merah, warna penyesalan, luka, dan kemarahan yang tidak menemukan alamat pulang. Tidak ada penjelasan, tidak ada argumen.
Frasa tanpa diikuti argumen itulah yang membiarkan pembaca bertarung asumsi.
Di sanalah medan konteks bertaburan. Pembaca menambal kekosongan dengan asumsi masing-masing.
Semisal, apa yang diminta YBR? Buku? Bolpoin? Uang? Atau yang lebih senyap lagi ialah perhatian?
Media membingkai narasi: seorang anak bunuh diri karena tak dibelikan alat tulis ibunya. Bingkai ini rapi, dramatis, dan memiuh emosi sosial.
Hal yang empuk, framing semacam itu memindahkan tragedi ini dari kesalahan individual kepada struktural kenegaraan. Dari kasus biasa ke tragedi kebangsaan.
Di sinilah YBR menjadi protagonis, dan Mama Reti direduksi menjadi antagonis domestik. Walau, teks tidak pernah mengatakan itu.
Dan rasa teriris, ia menulis baris ketiga: “Mama, molo ja’o” (Mama, biarkan saya pergi).
Ini adalah kalimat yang terasa manja untuk menyatakan hal yang menyakitkan, pemberitahuan atau pamitan dalam versi monolog.
Tidak ada tanya, tidak ada negosiasi. Kata “molo” (pergi) di sini ambigu, ia bisa berarti pergi meninggalkan rumah, pergi meninggalkan hidup, atau pergi meninggalkan harapan.
Ambiguitas ini bukan kelemahan; justru di sanalah daya puitiknya bekerja biar pembaca aktif berimajinasi.
Ambiguitas itu diterangkan oleh baris berikutnya: “Galo mata mae” (kalau saya meninggal), yang baru menemukan makna utuh ketika digandengkan dengan: “Wae rita ee Mama” (jangan menangis, Mama).
Di sinilah bahasa runtuh menjadi butiran air mata. Ini adalah pemberitahuan kematian, dan berupaya mengelola kesedihan kolektif. Seorang anak, dalam posisi paling rapuh, justru memikirkan emosi ibunya.
Dalam teori tindak tutur, ini adalah ekspresif yang sarat penyesalan. Dalam etika kemanusiaan, ini adalah ironi paling kejam dan yang paling menderita justru meminta maaf.
Bait kedua memperlihatkan perubahan grafis. Spasi antarkata semakin rapat. Aksara saling bersandar, seolah kata-kata kelelahan ditimpuk kenyataan hidup, kata kehilangan napas untuk mengambil jarak.
Tentu, bukan kesalahan teknis, tetapi indikator psikologis. Menjelang akhir, galau tak lagi tertahankan.
Bahasa kehabisan napas, dan justru di situlah kebenaran argumen kematian YBR mulai muncul.
“Mama ja’o galo mata” (Mama, saya hendak mati). Dua kata ditulis serangkai “galomata”. Frasa ini tanpa metafora. Keputusasaan tidak lagi bersembunyi di balik simbol.
Ia berdiri di tengah halaman, seperti teratak Indonesia yang selalu dilumuri orasi. Kata-kata tumbuh sendiri di atas kertas kusam itu, seperti kusam pondok neneknya yang ditinggalkan.
Namun, dalam kepastian itu, YBR masih memikirkan mamanya: “Mae woe rita ne’e” (tak usah menangis). Ia tidak meminta diselamatkan. Ia hanya meminta untuk tidak ditangisi.
Seolah ia tahu, tangis Mama Reti kelak akan lebih berat daripada kematian itu sendiri.
Kalimat penutup: “Ne’e gae ngao ee” (jangan cari saya). Kalimat penyesalan berlapis.
Ia tahu kepergiannya akan meninggalkan langit yang tersobek dan terasa tak ada tanah yang rata. Ia tahu, ibunya akan mencari.
Karena itu, ia memutuskan untuk membebaskan ibunya dari pencarian yang tak berujung. Kalimat ini seperti penutup pintu dari dalam.
Ia tahu akan ada pencarian. Akan ada rasa bersalah. Akan ada pertanyaan yang tidak terjawab.
Ia ingin ibunya berhenti mencari, berhenti menyalahkan diri. Dan barangkali ia tahu bahwa Indonesia akan mencarinya.
Ia tidak menandatangani surat itu dengan nama. Ia menggantinya dengan gambar dirinya, air mata menetes dari dua bola matanya, air mata yang mampu mengenggelamkan Indonesia. Dan di bawah lukisan dirinya yang tampak sedang berjalan, ia menulis: “Molo Mama” (selamat tinggal, Mama).
YBR tidak ingin dikenang sebagai individu, melainkan sebagai bagian dari relasi, sebagai anak yang pergi agar ibunya tidak lagi terbebani. Dalam konteks ini, surat Molo Mama berhenti menjadi teks personal.
Ia menjelma epik tragik kisah kepahlawanan terbalik, martir ketika pahlawan tidak mengalahkan musuh di medan perang, melainkan dikalahkan oleh kemiskinan struktural, ketidakadilan pendidikan, dan negara yang kaya raya, namun hati nurani karat, tak pernah dirawat.
Sungguh sebuah surat yang tak pernah berniat menjadi teks, tetapi menjelma aksara bersuara jeritan, gerimis getir terakhir yang mengalir dari pojok sejarah untuk mengumumkan sesuatu yang lebih tragis dari alasan kematian itu sendiri ialah wafatnya hati nurani bangsa besar ini.
YBR menurunkan diksi yang berlumuran luka menyerupai ayat Injil yang daya gugahnya melampaui maklumat, bahkan lebih kuat dari sekuntum doa kutukan seorang uskup.
Surat itu adalah lonceng kematian hati nurani yang dipukul oleh tangan kecil, sebuah peringatan bahwa di negeri yang gemar berbicara tentang kesejahteraan, masih ada anak-anak yang harus mengucapkan selamat tinggal dan pergi selamanya dengan cara tragis.
YBR bukan hanya anak dari Mama Reti. Ia juga anak dari negeri ini. Negeri yang kaya sumber daya, tetapi miskin moral. Ia menjadi martir yang tidak pernah memilih untuk menjadi martir.
Ia juga menjadi meteor yang melintas singkat di jagat raya Indonesia, terang sesaat, lalu hilang, sementara orasi-orasi terus diproduksi, meja birokrasi terus dilap, dan kongsi busuk terus bekerja dalam kenyamanan.
Pertanyaan yang mmasih tergantung di pohon cengkeh itu bukan lagi apa yang ditulis YBR, melainkan, “apa yang kita lakukan setelah membacanya?” Jika setelah ini kita kembali nyaman, maka aksara-aksara itu benar-benar mati.
Namun, jika satu saja dari sembilan baris itu terus berdetak dalam radar moralitas kita, maka YBR masih hidup. Dan barangkali, itulah makna paling epik dari sebuah surat yang ditulis dengan tangan kecil, di pondok kecil, di negeri yang sering lupa mendengar anak-anaknya.
Dan pusara YBR adalah “buku tulis raksasa” yang ditinggalkannya kepada kita untuk menulis ironi bangsa ini. Ia telah menitipkan judul buku itu: Molo Mama, Molo Indonesia. (*)
Simak terus berita dan atikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
Marsel Robot
Opini Marsel Robot
Opini Pos Kupang
Kabupaten Ngada
Nusa Tenggara Timur
Masalah Pendidikan
pesan epik
| Opini: Generasi Cemas di Tengah Dunia yang Tidak Pasti |
|
|---|
| Opini: AI dan Krisis Pendidikan Gen Z-Alpha |
|
|---|
| Opini: Holding Daerah- Mesin Transformasi Menuju Kemandirian Fiskal |
|
|---|
| Opini: Ketika Hujan Tak Datang, Siapa yang Kita Jaga? |
|
|---|
| Opini: Laporan Keuangan Daerah-Antara Kewajiban Regulasi dan Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dr-Marsel-Robot-MSi-pengamat-pendidikan-dari-Universitas-Nusa-Cendana.jpg)