Sabtu, 25 April 2026

Opini

Opini: Molo Mama, Molo Indonesia

YBR menurunkan diksi yang berlumuran luka menyerupai ayat Injil yang daya gugahnya melampaui maklumat

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI POS-KUPANG.COM
Marsel Robot 

Dalam teori tindak tutur, ini adalah ekspresif yang sarat penyesalan. Dalam etika kemanusiaan, ini adalah ironi paling kejam dan yang paling menderita justru meminta maaf.

Bait kedua memperlihatkan perubahan grafis. Spasi antarkata semakin rapat. Aksara saling bersandar, seolah kata-kata kelelahan ditimpuk kenyataan hidup, kata kehilangan napas untuk mengambil jarak. 

Tentu, bukan kesalahan teknis, tetapi indikator psikologis. Menjelang akhir, galau tak lagi tertahankan. 

Bahasa kehabisan napas, dan justru di situlah kebenaran argumen kematian YBR mulai muncul.

“Mama ja’o galo mata” (Mama, saya hendak mati). Dua kata ditulis serangkai “galomata”. Frasa ini tanpa metafora. Keputusasaan tidak lagi bersembunyi di balik simbol. 

Ia berdiri di tengah halaman, seperti teratak Indonesia yang selalu dilumuri orasi. Kata-kata tumbuh sendiri di atas kertas kusam itu, seperti kusam pondok neneknya yang ditinggalkan. 

Namun, dalam kepastian itu, YBR masih memikirkan mamanya: “Mae woe rita ne’e” (tak usah menangis). Ia tidak meminta diselamatkan. Ia hanya meminta untuk tidak ditangisi. 

Seolah ia tahu, tangis Mama Reti kelak akan lebih berat daripada kematian itu sendiri.

Kalimat penutup: “Ne’e gae ngao ee” (jangan cari saya). Kalimat penyesalan berlapis. 

Ia tahu kepergiannya akan meninggalkan langit yang tersobek dan terasa tak ada tanah yang rata. Ia tahu, ibunya akan mencari. 

Karena itu, ia memutuskan untuk membebaskan ibunya dari pencarian yang tak berujung. Kalimat ini seperti penutup pintu dari dalam. 

Ia tahu akan ada pencarian. Akan ada rasa bersalah. Akan ada pertanyaan yang tidak terjawab. 

Ia ingin ibunya berhenti mencari, berhenti menyalahkan diri. Dan barangkali ia tahu bahwa Indonesia akan mencarinya.

Ia tidak menandatangani surat itu dengan nama. Ia menggantinya dengan gambar dirinya, air mata menetes dari dua bola matanya, air mata yang mampu mengenggelamkan Indonesia. Dan di bawah lukisan dirinya yang tampak sedang berjalan, ia menulis: “Molo Mama” (selamat tinggal, Mama). 

YBR tidak ingin dikenang sebagai individu, melainkan sebagai bagian dari relasi, sebagai anak yang pergi agar ibunya tidak lagi terbebani. Dalam konteks ini, surat Molo Mama berhenti menjadi teks personal. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved