Opini
Opini: Molo Mama, Molo Indonesia
YBR menurunkan diksi yang berlumuran luka menyerupai ayat Injil yang daya gugahnya melampaui maklumat
Surat ini tidak berhenti pada Mama Reti, kata-kata surat ini berjalan keluar, menyapa kita semua sebagai masyarakat, sebagai negara, sebagai saksi farisi yang terlalu sering datang terlambat dan dalam kondisi nurani yang sekarat.
Baris pertama, Ia menulis dengan begitu satirik: “Mama galo zee” (Mama pelit sekali). Frasa ini mengandung paradoks emosional. Ia tampak sederhana.
Namun, frasa itu warnanya merah, warna penyesalan, luka, dan kemarahan yang tidak menemukan alamat pulang. Tidak ada penjelasan, tidak ada argumen.
Frasa tanpa diikuti argumen itulah yang membiarkan pembaca bertarung asumsi.
Di sanalah medan konteks bertaburan. Pembaca menambal kekosongan dengan asumsi masing-masing.
Semisal, apa yang diminta YBR? Buku? Bolpoin? Uang? Atau yang lebih senyap lagi ialah perhatian?
Media membingkai narasi: seorang anak bunuh diri karena tak dibelikan alat tulis ibunya. Bingkai ini rapi, dramatis, dan memiuh emosi sosial.
Hal yang empuk, framing semacam itu memindahkan tragedi ini dari kesalahan individual kepada struktural kenegaraan. Dari kasus biasa ke tragedi kebangsaan.
Di sinilah YBR menjadi protagonis, dan Mama Reti direduksi menjadi antagonis domestik. Walau, teks tidak pernah mengatakan itu.
Dan rasa teriris, ia menulis baris ketiga: “Mama, molo ja’o” (Mama, biarkan saya pergi).
Ini adalah kalimat yang terasa manja untuk menyatakan hal yang menyakitkan, pemberitahuan atau pamitan dalam versi monolog.
Tidak ada tanya, tidak ada negosiasi. Kata “molo” (pergi) di sini ambigu, ia bisa berarti pergi meninggalkan rumah, pergi meninggalkan hidup, atau pergi meninggalkan harapan.
Ambiguitas ini bukan kelemahan; justru di sanalah daya puitiknya bekerja biar pembaca aktif berimajinasi.
Ambiguitas itu diterangkan oleh baris berikutnya: “Galo mata mae” (kalau saya meninggal), yang baru menemukan makna utuh ketika digandengkan dengan: “Wae rita ee Mama” (jangan menangis, Mama).
Di sinilah bahasa runtuh menjadi butiran air mata. Ini adalah pemberitahuan kematian, dan berupaya mengelola kesedihan kolektif. Seorang anak, dalam posisi paling rapuh, justru memikirkan emosi ibunya.
Marsel Robot
Opini Marsel Robot
Opini Pos Kupang
Kabupaten Ngada
Nusa Tenggara Timur
Masalah Pendidikan
pesan epik
| Opini: Generasi Cemas di Tengah Dunia yang Tidak Pasti |
|
|---|
| Opini: AI dan Krisis Pendidikan Gen Z-Alpha |
|
|---|
| Opini: Holding Daerah- Mesin Transformasi Menuju Kemandirian Fiskal |
|
|---|
| Opini: Ketika Hujan Tak Datang, Siapa yang Kita Jaga? |
|
|---|
| Opini: Laporan Keuangan Daerah-Antara Kewajiban Regulasi dan Tanggung Jawab Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dr-Marsel-Robot-MSi-pengamat-pendidikan-dari-Universitas-Nusa-Cendana.jpg)