Opini
Opini: Kasih Karunia yang Terlalu Cepat Dianggap Cukup
Apakah kita bersedia membiarkan Injil mengganggu kenyamanan kita, bukan hanya menghibur kesedihan kita.
Di sinilah teks Paulus sering disalahgunakan. II Korintus 12 berbicara tentang kelemahan personal dalam relasi langsung dengan Allah, bukan tentang ketidakadilan struktural yang dibiarkan tanpa koreksi.
Ketika teks ini dipakai untuk membenarkan pembiaran sosial, ia tidak lagi memberitakan Injil, melainkan meninabobokan nurani.
Satire ruang publik pun terasa pahit. Allah selalu diminta mengerti. Rakyat selalu diminta sabar. Gereja diminta tenang. Tetapi sistem jarang diminta jujur.
Jika Paulus hidup di NTT hari ini, mungkin ia akan bertanya apakah duri itu sungguh duri, atau hasil dari keputusan yang tidak pernah mau mengaku salah.
Kegelisahan ini sejalan dengan peringatan Dietrich Bonhoeffer tentang anugerah murahan (1937).
Kasih karunia yang dilepaskan dari tanggung jawab etis bukan lagi kabar baik, melainkan pembenaran bagi ketidakpedulian. Iman yang tidak menggugat ketidakadilan pada akhirnya berkhianat pada sumbernya sendiri.
Paulus tidak memamerkan kelemahannya untuk meminta simpati. Ia menggunakannya untuk membongkar ilusi kekuatan. Ia tidak berkata bahwa kelemahan harus dipelihara.
Ia berkata bahwa kuasa Allah bekerja ketika manusia berhenti menyombongkan diri.
Ini bukan ajakan untuk pasrah, melainkan undangan untuk hidup dengan rendah hati dan bertanggung jawab.
Karena itu, kasih karunia cukup bukan alasan untuk diam. Ia adalah dasar keberanian untuk bersuara tanpa ilusi superioritas.
Jika Allah setia hadir di tengah kelemahan, maka manusia tidak berhak menambah beban kelemahan itu dengan kebijakan yang abai, budaya yang menekan, atau teologi yang malas berpikir.
Pada titik ini, iman Kristen menjadi tidak nyaman. Ia tidak lagi sekadar menenangkan hati, tetapi menuntut keberpihakan.
Kasih karunia cukup berarti gereja tidak boleh puas menjadi pengucap doa yang manis bagi penderitaan yang terus diproduksi.
Paulus berkata, “Jika aku lemah, maka aku kuat.” Ia tidak berkata bahwa sistem yang melukai boleh dibiarkan. Ia sedang menata ulang cara menilai hidup, bukan membekukan tanggung jawab sosial.
Maka pertanyaan jujur bagi ruang publik NTT bukanlah apakah umat cukup kuat untuk bertahan, melainkan apakah kita cukup berani untuk berhenti menyalahgunakan kasih karunia.
John Mozes Hendrik Wadu Neru
Opini Pos Kupang
Nusa Tenggara Timur
Provinsi Nusa Tenggara Timur
luka sosial
Pendeta GMIT
| Opini: Perairan NTT Tak Sekadar Terkait Perut Rakyat Namun Sumber Kedaulatan Ekonomi |
|
|---|
| Opini: ProKlim, Ekonomi Karbon, dan Momentum Aksi Nyata dari Komunitas |
|
|---|
| Opini - Ketika Data Mengalahkan Realitas: Ancaman Baru Bagi Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
| Opini: Menjaga Mutu Undana di Balik Layar WFH |
|
|---|
| Opini: Pendidikan sebagai Jalan Pemulihan Martabat Manusia di Era Modern |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-05.jpg)