Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Kasih Karunia yang Terlalu Cepat Dianggap Cukup

Apakah kita bersedia membiarkan Injil mengganggu kenyamanan kita, bukan hanya menghibur kesedihan kita.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN MOZES HENDRIK WADU NERU
John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Membaca II Korintus 12:1–10 di Tengah Luka Sosial NTT

Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru 
Pendeta GMIT

Tulisan ini merefleksikan kesaksian Rasul Paulus tentang kelemahan yang tidak diangkat, doa yang tidak dikabulkan sebagaimana diminta dan  kasih karunia Allah yang tetap tinggal, lalu membacanya secara kritis di tengah realitas sosial, ekologis dan  kemanusiaan Nusa Tenggara Timur hari ini.

POS-KUPANG.COM -  Ada kalimat rohani yang terdengar saleh dan menenangkan, namun terlalu sering dipakai di ruang publik Nusa Tenggara Timur tanpa rasa bersalah: kasih karunia Tuhan cukup. 

Kalimat ini hadir di mimbar, di ruang rapat, di upacara duka dan  di tengah kemiskinan yang menahun, kekeringan yang berulang, serta kelelahan sosial lintas generasi. 

Ia terdengar seperti iman. Tetapi dalam praktik sosial, ia kerap berubah menjadi penutup pembicaraan, bukan pembuka tanggung jawab. 

Bahasa rohani menjadi penenang, sekaligus pengalih dari pertanyaan yang seharusnya diajukan bersama.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 8 Februari 2026: Nyalakan Lilin Melawan Kegelapan

Rasul Paulus menulis II Korintus 12:1–10 bukan untuk menenangkan keadaan yang gagal, melainkan untuk membongkar teologi kekuatan palsu. 

Ironisnya, di ruang publik kita, teks ini justru sering dipakai untuk membungkam kegelisahan etis dan kritik struktural. 

Kelemahan dipuji, tetapi sumber kelemahan dibiarkan. Kasih karunia diucapkan, tetapi ketidakadilan tidak disentuh. Iman direduksi menjadi alat penghibur, bukan daya pengganggu nurani.

Paulus memulai kesaksiannya dengan sesuatu yang sering dianggap puncak spiritualitas: penglihatan dan penyataan Tuhan. 

Namun ia menuturkannya dengan jarak. Ia menolak menjadikannya identitas.  Ia bahkan tidak menyebut dirinya secara langsung. 

Sikap ini merupakan kritik tajam terhadap budaya religius yang membangun legitimasi dari pengalaman spektakuler, seolah iman harus selalu dibuktikan dengan cerita besar dan klaim rohani yang mencolok.

Namun Paulus tidak berhenti di sana. Ia membawa pembacanya ke wilayah yang jauh lebih jujur dan tidak nyaman: duri dalam daging. Duri itu bukan metafora manis. Ia menyakitkan, menetap dan  mengganggu. 

Paulus tidak meromantisir luka. Ia mengakuinya sebagai sesuatu yang ingin ia lepaskan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved