Opini
Opini: Kasih Karunia yang Terlalu Cepat Dianggap Cukup
Apakah kita bersedia membiarkan Injil mengganggu kenyamanan kita, bukan hanya menghibur kesedihan kita.
Membaca II Korintus 12:1–10 di Tengah Luka Sosial NTT
Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT
Tulisan ini merefleksikan kesaksian Rasul Paulus tentang kelemahan yang tidak diangkat, doa yang tidak dikabulkan sebagaimana diminta dan kasih karunia Allah yang tetap tinggal, lalu membacanya secara kritis di tengah realitas sosial, ekologis dan kemanusiaan Nusa Tenggara Timur hari ini.
POS-KUPANG.COM - Ada kalimat rohani yang terdengar saleh dan menenangkan, namun terlalu sering dipakai di ruang publik Nusa Tenggara Timur tanpa rasa bersalah: kasih karunia Tuhan cukup.
Kalimat ini hadir di mimbar, di ruang rapat, di upacara duka dan di tengah kemiskinan yang menahun, kekeringan yang berulang, serta kelelahan sosial lintas generasi.
Ia terdengar seperti iman. Tetapi dalam praktik sosial, ia kerap berubah menjadi penutup pembicaraan, bukan pembuka tanggung jawab.
Bahasa rohani menjadi penenang, sekaligus pengalih dari pertanyaan yang seharusnya diajukan bersama.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 8 Februari 2026: Nyalakan Lilin Melawan Kegelapan
Rasul Paulus menulis II Korintus 12:1–10 bukan untuk menenangkan keadaan yang gagal, melainkan untuk membongkar teologi kekuatan palsu.
Ironisnya, di ruang publik kita, teks ini justru sering dipakai untuk membungkam kegelisahan etis dan kritik struktural.
Kelemahan dipuji, tetapi sumber kelemahan dibiarkan. Kasih karunia diucapkan, tetapi ketidakadilan tidak disentuh. Iman direduksi menjadi alat penghibur, bukan daya pengganggu nurani.
Paulus memulai kesaksiannya dengan sesuatu yang sering dianggap puncak spiritualitas: penglihatan dan penyataan Tuhan.
Namun ia menuturkannya dengan jarak. Ia menolak menjadikannya identitas. Ia bahkan tidak menyebut dirinya secara langsung.
Sikap ini merupakan kritik tajam terhadap budaya religius yang membangun legitimasi dari pengalaman spektakuler, seolah iman harus selalu dibuktikan dengan cerita besar dan klaim rohani yang mencolok.
Namun Paulus tidak berhenti di sana. Ia membawa pembacanya ke wilayah yang jauh lebih jujur dan tidak nyaman: duri dalam daging. Duri itu bukan metafora manis. Ia menyakitkan, menetap dan mengganggu.
Paulus tidak meromantisir luka. Ia mengakuinya sebagai sesuatu yang ingin ia lepaskan.
John Mozes Hendrik Wadu Neru
Opini Pos Kupang
Nusa Tenggara Timur
Provinsi Nusa Tenggara Timur
luka sosial
Pendeta GMIT
| Opini: Perairan NTT Tak Sekadar Terkait Perut Rakyat Namun Sumber Kedaulatan Ekonomi |
|
|---|
| Opini: ProKlim, Ekonomi Karbon, dan Momentum Aksi Nyata dari Komunitas |
|
|---|
| Opini - Ketika Data Mengalahkan Realitas: Ancaman Baru Bagi Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
| Opini: Menjaga Mutu Undana di Balik Layar WFH |
|
|---|
| Opini: Pendidikan sebagai Jalan Pemulihan Martabat Manusia di Era Modern |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-05.jpg)