Opini
Opini - Membangun NTT dengan Pikiran Kritis
Kebijakan yang tidak dikritisi dan diprogramkan secara matang, bakal merusak generasi NTT hingga puluhan tahun ke depan.
Sebelum menulis, saya sudah berimajinasi, pembaca termasuk Om Igo akan menyoroti titik ini. Mari kita kupas perlahan. Saya baru selesai menjelaskan basis pikiran tulisan saya, bahwa dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Kita belum “selesai” dengan literasi dasar.
Hemat saya, kebijakan yang ditawarkan seharusnya menjawabi kondisi yang ada. Kalau Om Igo jujur dan membaca tulisan saya secara utuh, saya tidak sedang “menjauhkan anak-anak dari lingkungan sekitar”. Anak-anak harus bebas dengan imajinasinya termasuk berwirausaha. Tetapi mari kita letakkan fondasi pijakannya.
Saya menulis, “jangan sampai “logika pasar” datang terlalu dini di halaman sekolah seementara fondasi pikiran peserta didik belum matang dan kokoh.
Jika itu terjadi maka bencana segera kita terima seperti hasil TKA anak-anak jauh berada dibawah garis rata-rata. Bencana di pendidikan itu mulai berdatangan. Inilah proyeksi ketakutan saya. Jelas, logis dan mendasar.
Saya sepakat saat Om Igo mengutip tradisi filsafat pendidikan modern seperti John Dewey yang menegaskan bahwa pendidikan kehilangan maknanya ketika terlepas dari pengalaman hidup peserta didik.
Selain itu, ada Paulo Freire yang memandang kesadaran kerja dan ekonomi sebagai bagian dari pedagogi pembebasan. Seyogianya demikian. Saya tidak sedang meremehkan atau menaburkan pikiran negatif tetapi faktanya, pikiran dari kedua pemikir yang saya hormati ini, konteksnya berbeda dengan kondisi pendidikan NTT saat ini.
Sekali lagi, kita belum selesai dengan literasi dasar. Menghadirkan pengalaman produksi di sekolah tanpa fondasi pikiran kritis maka warga sekolah bakal menjadi “kuda Beban” untuk meningkatkan PAD NTT.
Padangan ini memang tidak bisa digeneralisasi untuk semua sekolah, saya sepakat di titik itu. Masih ada sekolah yang memiliki kemampuan literasi dasar yang cukup bahkan luar biasa. Tetapi generalisasi naratif dinilai perlu selama dalam bingkai prinsip “maju bersama, hebat semua”.
Hmm, Om Igo pasti tidak percaya, jika tanya anak SMA kelas 3, apa cita-citanya. Bakal menemukan jawaban yang hampir sama. Saya tidak tahu atau tergantung bapa-mama.
Kelas 3 SMA/SMK dan tidak tahu/belum tahu cita-cita, menurut saya, sinyal lumpuhnya imajinasi anak. Ia seperti mobil baru yang mulus tetapi mesinnya mati. Ia berjalan di tempat dan membiarkan “semesta” membawanya berlari.
Minta maaf saja, jika kemudian setiap tahun kita terima Kado “peti mati” dari luar negeri, bisa dipastikan ini alasannya. Om Igo, Pak Gubernur berkuasa hanya lima tahun dan kalau rakyat masih percaya dan masih sehat, bisa sampai sepuluh tahun.
Namun kebijakan yang tidak dikritisi dan diprogramkan secara matang, bakal merusak generasi NTT hingga puluhan tahun ke depan.
Bersama Bangun NTT dengan Pikiran Kritis
Saya merespons Om Igo karena dua alasan. Pertama, menanggapi secara responsif. Sedikit berbeda dengan yang lain. Cendereng reaktif dan lebih mengarah ke sikap “menjilat dan cari muka”.
Saya berbayangkan, Pak Gubernur dikelilingi oleh keluarga atau kenalan seperti ini. Api pikiran sudah lemah dan ditambah lagi, “parasit” dengan Pak Gubernur dari sisi ekonomi dan jabatan. Saya yakin, Om Igo tidak berada di posisi ini. Kedua, Om Igo bergabung di sebuah forum diskusi. Namanya juga keren, Nalar NTT.
Jika semesta mengijinkan saya ingin ngopi di forum ini. Saya sangat yakin, NTT bakal bertumbuh dan maju jika banyak masyarakatnya bergabung dalam forum diskusi.
Bukan forum debat yang hanya sekadar mencari siapa yang benar atau salah. Padahal secara filosofis, tidak ada kebenaran mutlak tetapi yang benar mutlak adalah tidak ada kebenaran mutlak. Kita adalah pejalan kaki yang ingin terus bertumbuh dalam satu cara.
Hemat saya, saatnya NTT dibangun dengan akal sehat. Mungkin Om Igo masih ingat program, “Tanam Jagung, Panen Sapi” dan “sekolah jam lima pagi”. Lagi-lagi yang selalu jadi korban adalah pihak sekolah.
Jika kemudian saya tulis, para kepala sekolah sedang resah, gelisah dan bingung, maka itulah alasannya. Para kepala sekolah dan guru memang harus selalu ber-transformasi tetapi minimal ada basis rasional dibaliknya.
Saat ini mereka harus bertransformasi ganda karena harus menyesuaikan kebijakan nasional dan pada saat yang sama harus “mengamankan” program atasan.
Benar yang Om Igo tulis bahwa tidak ada regulasi yang mewajibkan sekolah menyetor keuntungan ke PAD, tidak ada indikator kinerja kepala sekolah berbasis laba dan tidak ada juknis OSOP yang mengukur mutu dari nilai ekonomi produk.
Sekali lagi untuk konteks NTT saat ini, siapa kepala sekolah yang tidak mau “mengamankan” kebijakan atasan apalagi sekelas gubernur. Para guru dan kepala sekolah NTT itu patuh, tetapi jangan sampai melemahkan posisi tawar mereka hanya karena tidak atau belum memiliki prodak unggulan di sekolah.
Mari kita bangun NTT. Jangan biarkan Pak Gubernur jalan sendiri dengan satu langkah yang salah. Menulis, mengkritis dan menawarkan solusi adalah cara saya dan kita semua membangun NTT.
Daerah ini punya sejuta potensi yang tidak akan pernah habis untuk digali dan dimaknai. Biarlah generasi muda NTT tetapi seperti mobil baru dengan mesin pikiran yang masih segar dan berkualitas. NTT Butuh kita semua.
Epilog
Literasi sebagai syarat praksis, bukan pelengkap. Karl Marx menegaskan bahwa praksis adalah kesatuan refleksi dan tindakan. Membaca dan menulis adalah medium refleksi itu. Praktik sosial yang hanya bertumpu pada kebutuhan langsung tanpa literasi cenderung pragmatis jangka pendek.
Literasi membuat kebutuhan dikritisi, diprioritaskan, dan diproyeksikan ke masa depan. Sekali lagi, Paulo Freire menolak literasi yang mekanis. Baginya, membaca dan menulis adalah proses penyadaran kritis.
Ketika orang membaca realitasnya dan menuliskannya kembali, ia tidak lagi sekadar korban struktur, tetapi subjek sejarah. Praktik sosial seperti OSOP, tumbuh dari kebutuhan pengalaman tetapi hanya menjadi emansipatoris kalau tidak ditopang literasi kritis.
Akhirnya, praktik sosial yang tumbuh dari kebutuhan pengalaman akan rapuh tanpa literasi. Membaca dan menulis menjadikannya bermakna, terwariskan, kritis, dan adaptif.
Literasi bukan tujuan akhir, tetapi fondasi agar pengalaman manusia tidak berhenti sebagai kejadian, melainkan berkembang menjadi kebijaksanaan sosial. Ayo, bangun NTT dengan hati dan pikiran. (*)
Ikuti opini dan berita lain POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gusty-Rikarno-ok.jpg)