Selasa, 26 Mei 2026

Opini

Opini - Membangun NTT dengan Pikiran Kritis

Kebijakan yang tidak dikritisi dan diprogramkan secara matang, bakal merusak generasi NTT hingga puluhan tahun ke depan. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Gusty Rikarno, S.Fil, M.I.Kom. 

Intinya kita berjumpa dalam satu arah pandang yang sama. Ingin memeluk dan mencintai NTT lebih lama. Saya menulis ini tidak untuk “membela diri” tetapi mari kita jujur melihat kondisi pendidikan NTT saat ini.

Dalam tulisan saya berjudul, “OSOL Dan/Atau OSOP? (Derma Gagasan Untuk Pendidikan NTT Berkualitas, Merata, Partisipatif, dan Cerdas), menampilkan data nilai rata-rata, Tes Kompetensi Akademik (TKA) anak-anak SMA se-Provinsi NTT berada di angka : 33,07.

Angka ini menempatkan NTT berada pada level terakhir (terendah) secara nasional. Nilai KTA anak-anak kita berada pada posisi lima tingkat dibawah Provinsi Papua Pegunungan.

Saya menulis, “Pak Gubernur, Pendidikan NTT Mau Dibawa Kemana” terkait kebijakan program OSOP. Data ini adalah salah satu dari sekian banyak data yang menunjukan dunia pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja. Judul tulisan ini adalah sebuah bisikan dalam sunyi.

Dari kondisi yang mungkin tidak bisa diwakili dalam kata dan warna. Kita sedang berjalan dalam lorong gelap tanpa ujung. Di tengah situasi itulah saya bertanya, “Pak Gubernur, pendidikan NTT mau dibawa ke mana?

Saya hanya meminta agar berhenti sejenak dan mari kita menata langkah (kebijakan) yang menyentuh realitas. Saya tidak ingin merespons komentar Om Igo secara detail tetapi saya mencoba meletakkan NTT pada satu peta. Mari kita menatap masa depan NTT dengan jelas, rasional dan profesional.

Salah satu bagian dalam tubuh tulisan, Om Igo menulis, “kekhawatiran bahwa OSOP akan melemahkan literasi justru berangkat dari pemahaman literasi yang terlalu sempit dan abstrak.

Literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis, tetapi praktik sosial yang tumbuh dari kebutuhan, pengalaman, dan relevansi”. Mari kita mulai dari titik ini.

Benar bahwa literasi baca dan tulis bukanlah satu-satunya. Namun perlu diingat, membaca dan menulis adalah literasi dasar. Kita mampu memahami aneka jenis literasi lainnnya seperti literasi digital, finasial, kewargaan dan sebagainya, selalu mengandaikan kita sudah selesai dengan literasi dasar. 

Literasi dasar, membaca dan menulis menjadi fondasi bagi seluruh bentuk literasi lain karena di sanalah manusia pertama-tama belajar berelasi dengan makna, simbol, dan dunia. Membaca dan menulis bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan cara manusia memasuki realitas secara sadar.

Dalam filsafat bahasa, membaca dan menulis adalah kemampuan memahami dan menghasilkan simbol bermakna. Dunia tidak hadir kepada manusia secara mentah, tetapi dimediasi oleh bahasa.

Ketika seseorang mampu membaca, ia belajar menafsirkan tanda; ketika menulis, ia belajar mengendapkan pengalaman menjadi struktur makna. 

Saya ingin menganalogi, literasi dasar (membaca dan menulis) seperti sebuah fondasi cakar ayam untuk gedung bertingkat tempat beberapa literasi lainnya berdiam seperti literasi digital, numerasi, finansial, sains dan literasi budaya. Tanpa kemampuan dasar membaca dan menulis yang kokoh, manusia berhadapan dengan simbol tanpa pintu masuk makna.

Membaca melatih kemampuan memahami argumen, relasi sebab-akibat, dan perspektif lain; menulis melatih kemampuan menyusun pikiran secara runtut, kritis, dan reflektif.

Berpikir kritis, yang menjadi inti berbagai literasi lanjutan, tidak mungkin berkembang tanpa kebiasaan membaca yang mendalam dan menulis yang reflektif.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved