Opini
Opini - Membangun NTT dengan Pikiran Kritis
Kebijakan yang tidak dikritisi dan diprogramkan secara matang, bakal merusak generasi NTT hingga puluhan tahun ke depan.
Membangun NTT dengan Pikiran Kritis (Sebuah Bisikan Lembut untuk Saudara Igo Halimaking)
Oleh: Gusty Rikarno, S.Fil.,M.I.Kom
Pejalan Sunyi Literasi NTT
POS-KUPANG.COM - Di hari kemarin saya menulis, “Pak Gubernur, Pendidikan NTT Mau Dibawa Kemana? (Catatan Lepas Untuk Program OSOP NTT).
Ada yang menyampaikan secara lisan, mengirim pesan melalui WA dan beberapa yang lain ditulis dalam bentuk artikel untuk menyatakan, setuju dan tidak sedikit yang menyanggah.
Sehari kemudian saya menulis lagi, “OSOL Dan/Atau OSOP? (Derma Gagasan Untuk Pendidikan NTT Berkualitas, Merata, Partisipatif, dan Cerdas).
Kedua tulisan memiliki keterkaitan yang utuh. Di luar dugaan, semakin banyak tanggapan. Bahkan oleh masuk dalam level “trending topik”. Secara filosofis, “kehebatan” seorang penulis mencapai puncaknya bukan saat ia menuntaskan tulisan, melainkan ketika tulisannya ditanggapi.
Dengan demikian, tulisan itu telah melampaui dirinya sebagai teks dan berubah menjadi peristiwa makna. Ia tidak lagi sekadar rangkaian kata, tetapi telah memasuki kesadaran orang lain, mengganggu ketenangan berpikir, atau memantik dialog batin.
Dalam pengertian ini, tulisan yang direspon adalah tulisan yang hidup. Terhadap kedua judul tulisan saya, beberapa yang memberi respons tetapi tidak sedikit yang cenderung reaktif. Saya sudah di posisi (level) ini. Merespon orang atau pembaca yang memang “responsif” dan mengabaikan yang reaktif.
Oh ya, dari sudut pandang eksistensialisme, respon adalah tanda bahwa tulisan telah menyentuh keberadaan. Responsif itu sendiri adalah sikap. Berangkat dari kesadaran dan jeda reflektif.
Subjek tidak menolak rangsangan luar, tetapi mengolahnya melalui nalar, nilai, dan arah pandang. Ia bukan sekadar menjawab apa yang terjadi melainkan memilih bagaimana menjawabnya. Responsif menandakan kedewasaan eksistensial, manusia hadir penuh sebagai subjek yang sadar dan bertanggung jawab.
Lain halnya tanggapan reaktif. Sebuah sikap yang lahir dari dorongan spontan, naluriah, dan seringkali emosional. Ia muncul ketika subjek ditarik oleh peristiwa dari luar tanpa jarak refleksi. Sikap reaktif menunjukkan manusia yang belum sepenuhnya hadir sebagai subjek bebas.
Ia lebih banyak ditentukan oleh rangsangan daripada menentukan diri. Tulisannya tidak substantif dan diksi-diksi yang dipakai cenderung “kasar”. Reaktif itu cepat, tetapi miskin kesadaran.
Saya bersyukur, satu-satunya yang “berhasil” merespons tulisan saya adalah Saudara Igo Halimaking (Anggota Forum Diskusi Nalar NTT) dengan judul, “OSOP, Literasi dan Kekeliruan Dikotomi Pendidikan Pasar”.
Literasi Manata Pikiran
Sekali lagi, terima kasih untuk Saudara Igo Halimaking. Mohon ijin untuk selanjutnya saya panggil, Om Igo. Selamat datang di jalan sunyi literasi NTT. Menanggapi tulisan saya sebagai inisiatif pribadi atau hasil diskusi bersama anggota Forum Diskusi Nalar NTT, tidaklah soal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gusty-Rikarno-ok.jpg)