Opini
Opini - Membangun NTT dengan Pikiran Kritis
Kebijakan yang tidak dikritisi dan diprogramkan secara matang, bakal merusak generasi NTT hingga puluhan tahun ke depan.
Dengan kata lain, membaca dan menulis bukan hasil dari berpikir, justru berpikir dibentuk oleh membaca dan menulis. Paulo Freire menegaskan bahwa literasi bukan netral, ia adalah jalan menuju kesadaran kritis (conscientização).
Hanya orang yang mampu membaca dan menulis mampu menamai realitasnya, dan yang mampu menamai realitasnya memiliki peluang untuk mengubahnya.
Sekali lagi, mari kita jujur, bagaimana mungkin seorang anak mampu memaknai praktik sosial dalam lingkungan sosial, pengalaman yang dialaminya dan mampu menemukan relevansinya bagi pengembangan diri jika tidak disadari ketrampilan dasar seperti membaca dan menulis. Nah, mari kita menyelam lebih dalam dalam samudra filsafat manusia. Darimanakah pikiran itu dibentuk?
Pertama, pikiran kritis dibentuk melalui bahasa, terutama melalui membaca dan menulis. Bahasa memberi struktur pada pikiran. Dengan membaca, seseorang berjumpa dengan gagasan lain, perbedaan sudut pandang dan logika yang tidak selalu sejalan dengan pikirannya. Seperti halnya yang sedang kita bangun saat ini. Sebuah dialektika yang “hidup”.
Om Igo merespons tulisan saya dan sebaliknya, saya menanggapinya maka pada saat yang sama pikiran kritis itu dibangun. Maaf saja, seorang yang menanggapi tulisan saya secara reaktif maka bisa dipastikan pola hidup kualitas bacaannya rendah.
Setelah budaya baca ini dihidupkan maka kita didorong atau terdorong untuk menulis. Menulis itu merapikan pikiran, menguji argumen, dan menyadari celah berpikirnya sendiri. Tanpa latihan bahasa yang reflektif, pikiran mudah jatuh pada repetisi, bukan kritik.
Kedua, pikiran kritis lahir dari pengalaman yang diolah bukan sekadar dialami. Pengalaman menanam terung, cabe dan sebagainya tanpa “diolah” hanya akan melahirkan kebiasaan. Sementara pengalaman yang direfleksikan akan melahirkan pemahaman.
Dalam tradisi filsafat Dewey, berpikir kritis tumbuh ketika manusia berhenti sejenak, bertanya mengapa dan bagaimana atas apa yang dialaminya. Pendidikan yang hanya menuntut jawaban benar justru mematikan ruang ini.
Ketiga, pikiran kritis dibentuk oleh keberanian mempertanyakan otoritas. Sejak Socrates, kritik lahir dari sikap aporiori, sebuah kesadaran bahwa kita tidak sepenuhnya tahu.
Pikiran kritis tidak identik dengan sikap melawan, tetapi dengan kerendahan hati intelektual untuk tidak menerima sesuatu hanya karena “sudah biasa”, “kata guru”, atau “kata sistem”.
Ruang dialog dan perbedaan menjadi rahimnya. Pertanyaan sederhana dengan nada lembut, adakah para guru dan kepala sekolah berani dan mampu mempertanyakan urgensi OSOP kepada Pak Gubernur?
Atau adakah anak-anak kita berani kritis terhadap para gurunya atas apa yang dibuatnya di sekolah? Sejauh ini, program OSOP berjalan tanpa ruang kritik. Di titik ini, pikiran kritis tidak bertumbuh.
Pikiran Membentuk Imajinasi
Pendidikan itu berdiri kokoh pada pikiran sehingga mampu membentuk imajinasi dan proyeksi masa depan. Pada bagian lain, Om Igo menulis, “Dalam banyak bagian (dalam tulisan saya) kritik terhadap OSOP dibangun di atas dikotomi konseptual yang keliru, generalisasi naratif, dan proyeksi ketakutan yang belum memiliki dasar kebijakan faktual.
Akibatnya, OSOP diposisikan sebagai ancaman pendidikan humanistik, padahal secara konseptual ia justru berpotensi menjadi jembatan antara pendidikan, realitas sosial, dan literasi kontekstual”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gusty-Rikarno-ok.jpg)