Opini
Opini: Menulis sebagai Praktik Reflektif Guru
Dari ruang kelas yang sederhana, guru sebenarnya menyimpan ribuan ide dan pemikiran yang lahir dari interaksi, refleksi, dan aksi.
Tanpa disadari, menulis membuat guru belajar dua kali. Sekali ketika mengajar/mendidik dan sekali lagi ketika merefleksikan apa yang diajarkan.
Tulisan seorang guru bukan hanya dokumentasi pribadi, melainkan jendela bagi guru lain.
Saat guru itu menulis tentang praktik baiknya, guru lain dapat membaca dan mengadaptasi. Di situlah ekosistem pengetahuan tumbuh, saling menguatkan, dan mencerdaskan.
Selain itu, menulis mengajarkan kejujuran intelektual. Guru yang menulis akan terbiasa menelusuri sumber, menguji argumen, dan sudah barang pasti berpikir kritis.
Nilai-nilai ini sama pentingnya untuk diwariskan ke siswa. Sebab siswa tidak hanya belajar dari apa yang guru katakan, tetapi dari bagaimana guru berpikir dan berkarya.
Gerakan literasi di kalangan pendidik harapannya dapat menggeliat. Buku-buku antologi karya guru menjadi bukti nyata bahwa semangat menulis tidak lagi milik segelintir orang.
Di lain sisi, upaya itu dapat diimplementasikan melalui komunitas menulis guru, pelatihan literasi, dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, menulis adalah cara guru melawan lupa sekaligus jalan menuju keabadian.
Dari kelas ke kertas, dari pengalaman ke pengetahuan, dari suara individu menjadi warisan bersama. Sebab guru boleh pensiun dari mengajar, tetapi tulisannya akan terus hidup. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ridwan-Mahendra-senyum.jpg)