Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini: BMKG dan Kesadaran Iklim

Dalam banyak situasi, informasi yang dirilis oleh BMKG menjadi batas antara keselamatan dan bencana. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI FLADIMIR SIE
Fladimir Sie 

Gereja dan komunitas iman di NTT juga memiliki peran penting dalam memperkuat budaya siaga iklim ini. 

Jaringan paroki, komunitas basis, sekolah-sekolah Katolik, dan kelompok kategorial dapat menjadi saluran komunikasi yang cepat dan efektif. 

Informasi BMKG bisa disampaikan melalui mimbar gereja, pengumuman paroki, grup WhatsApp umat, hingga kegiatan kategorial. 

Kekuatan jaringan sosial religius ini dapat memastikan bahwa peringatan BMKG benar-benar menjangkau masyarakat di kampung-kampung yang tidak selalu terhubung dengan internet atau televisi. 

Dalam konteks pastoral, tindakan ini adalah bagian dari pelayanan Gereja terhadap kehidupan.

Selain itu, dunia pendidikan, dari SD hingga perguruan tinggi, perlu diberi muatan literasi iklim dalam kurikulum lokal. 

Anak-anak dan remaja perlu diajarkan cara membaca informasi cuaca, mengenali tanda-tanda alam, serta memahami hubungan antara perubahan iklim global dengan peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. 

Pendidikan seperti ini bukan hanya mempersiapkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang peduli dan bertanggung jawab terhadap bumi.

Namun tanggung jawab terbesar tetap berada pada kita sebagai individu dan masyarakat. Tidak boleh lagi ada sikap meremehkan peringatan BMKG

Tidak boleh lagi ada pandangan bahwa bencana adalah “nasib”, sementara tindakan pencegahan kita abaikan. Kita harus melampaui cara berpikir fatalistis menuju kesadaran ekologis yang matang.

NTT memiliki pengalaman panjang dengan bencana. Dari banjir bandang hingga badai siklon tropis Seroja, kita belajar bahwa ketika kita tidak siap, kerugian yang ditimbulkan sangat besar. 

Kehilangan nyawa, rusaknya rumah, putusnya jalan, terhentinya aktivitas belajar, hingga hancurnya ladang dan perahu nelayan menjadi luka kolektif yang menyakitkan. 

Kita tidak bisa terus-menerus menjadi korban dari kurangnya kesiapsiagaan. Tanggung jawab moral kita adalah memutus siklus kerentanan ini.

Pada akhirnya, BMKG bukan sekadar penyedia data, tetapi penjaga kehidupan. Tetapi penjaga kehidupan ini membutuhkan masyarakat yang mau mendengar. 

Sains memberi kita informasi, iman memberi kita nilai, dan keduanya harus bekerja bersama. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved