Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Opini: BMKG dan Kesadaran Iklim

Dalam banyak situasi, informasi yang dirilis oleh BMKG menjadi batas antara keselamatan dan bencana. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI FLADIMIR SIE
Fladimir Sie 

Mengabaikan informasi ini sama saja dengan membiarkan diri melangkah tanpa kompas di tengah badai.

Di sinilah pentingnya membangun budaya siaga iklim. Kita perlu menggeser cara pandang: bahwa informasi cuaca bukan sekadar data tetapi alat penyelamat hidup. 

Pemerintah daerah selayaknya memanfaatkan informasi BMKG sebagai dasar kebijakan. 

Misalnya, menunda proses belajar mengajar jika jalur menuju sekolah rawan longsor, mengatur jadwal pertanian dengan mempertimbangkan pola hujan, menutup jalur laut di saat gelombang tinggi, dan melakukan evakuasi dini sebelum bencana datang. 

Dalam banyak kasus, bencana besar dapat dihindari atau minimal dampaknya dapat dikurangi jika tindakan cepat diambil segera setelah peringatan BMKG dirilis.

Dalam perspektif teologis, peran BMKG sebenarnya dapat dibaca sebagai bagian dari kebijaksanaan penciptaan-yaitu upaya manusia mempelajari dan memahami tanda-tanda alam melalui ilmu pengetahuan. 

Alam memang tidak dapat diprediksi secara sempurna, tetapi ia memberi sinyal-sinyal. 

BMKG adalah lembaga yang menerjemahkan sinyal tersebut menjadi informasi yang bisa dimanfaatkan manusia. 

Maka merespons peringatan BMKG bukan hanya tindakan rasional tetapi juga tindakan etis. 

Dalam Kitab Suci, manusia dipanggil untuk menjaga kehidupan, dan salah satu cara menjaganya adalah dengan menggunakan akal budi sebagai anugerah Tuhan. 

Ketika BMKG memberi peringatan, itu adalah kesempatan menggunakan akal budi tersebut secara bertanggung jawab.

Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’ menekankan bahwa krisis ekologis bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi persoalan moral. 

Ketidakpedulian terhadap alam dan tanda-tandanya adalah bentuk ketidakpedulian terhadap sesama manusia, terutama mereka yang paling rentan. 

Cuaca ekstrem tidak memandang status sosial; tetapi mereka yang miskin, tinggal di kawasan rawan, dan bergantung pada alam untuk hidup adalah pihak yang paling menderita. 

Oleh karena itu, memperhatikan informasi dari BMKG adalah wujud dari solidaritas ekologis. Kita menjaga diri, sekaligus menjaga orang lain.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved