Opini
Opini: BMKG dan Kesadaran Iklim
Dalam banyak situasi, informasi yang dirilis oleh BMKG menjadi batas antara keselamatan dan bencana.
Membangun Etos Kesiapsiagaan demi Kehidupan yang Berkelanjutan di NTT
Oleh: Fladimir Sie
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
POS-KUPANG.COM - Cuaca ekstrem yang akhir-akhir ini melanda berbagai wilayah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menegaskan pentingnya peran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai penjaga kehidupan.
Dalam banyak situasi, informasi yang dirilis oleh BMKG menjadi batas antara keselamatan dan bencana.
Tetapi realitas memperlihatkan bahwa informasi ilmiah yang sangat penting ini sering tidak dibaca, tidak dipahami atau bahkan diabaikan.
Situasi ini menjadi alarm bagi kita semua untuk menata ulang cara berpikir dan cara kita merespons perubahan iklim, khususnya di wilayah yang sangat rentan seperti NTT.
NTT merupakan salah satu provinsi dengan dinamika iklim yang kompleks.
Baca juga: Antisipasi Cuaca Ekstrem Dinas Parbud Manggarai Tutup Objek Wisata Rawan dan Berisiko
Karakter geografisnya yang terdiri dari pulau-pulau kecil, daerah pesisir yang luas, dan dataran tinggi yang curam menyebabkan wilayah ini sering mengalami angin kencang, kekeringan berkepanjangan, hujan tiba-tiba, hingga banjir bandang.
Pada musim penghujan, potensi bencana meningkat berlipat: longsor di pegunungan, banjir di daerah cekungan, dan gelombang tinggi yang mengancam para nelayan.
BMKG berupaya memberi peringatan dini lewat data, radar, pemodelan atmosfer, dan jaringan pengamatan yang tersebar di seluruh negeri.
Namun data yang akurat saja tidak cukup jika tidak ditindaklanjuti dengan kesiapan masyarakat.
Salah satu tantangan terbesar di NTT adalah rendahnya literasi iklim. Informasi BMKG sering dianggap sekadar laporan teknis yang sulit dipahami atau berita biasa yang tidak terlalu penting.
Padahal setiap istilah seperti peringatan dini, gelombang tinggi, angin kencang, atau cuaca ekstrem membawa konsekuensi nyata bagi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ketika BMKG merilis peringatan potensi gelombang 2,5–4 meter, itu berarti ratusan perahu nelayan seharusnya tidak melaut karena risiko terbalik sangat tinggi.
Ketika diumumkan potensi hujan lebat di wilayah pegunungan, itu berarti ada bahaya longsor yang dapat menutup jalan, menghanyutkan rumah, atau merenggut nyawa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Fladimir-Sie.jpg)