Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini - Pasola: Ketika Budaya, Alam, dan Iman Bertemu di Tanah Sumba

Belakangan ini, Pasola ramai diperbincangkan di media sosial—Facebook, TikTok, Instagram—terutama di kalangan umat Kristen.

Editor: Alfons Nedabang
FACEBOOK/MARTA TUWA RINGU
PASOLA - Atraksi perang adat atau Pasola. Tradisi ini berlangsung di Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Barat Daya (SBD). 

Oleh: P. Giovanni Don Bosco, C.Ss.R
(Misionaris Redemptoris yang saat ini sedang berkarya di Jepang)

POS-KUPANG.COM - Belakangan ini, Pasola ramai diperbincangkan di media sosial—Facebook, TikTok, Instagram—terutama di kalangan umat Kristen.

Pertanyaannya sederhana namun mendalam: bolehkah orang Kristen menghadiri Pasola, yang sarat ritual adat? Pendapat pun terbelah. Ada yang menilai kehadiran bertentangan dengan iman, ada pula yang percaya kehadiran tidak merusak iman selama Kristus tetap menjadi pusat.

Perbedaan ini menegaskan bahwa Pasola bukan sekadar adat, tetapi menyentuh identitas, iman, dan budaya—nilai-nilai yang hidup di nadi masyarakat Sumba.

Tulisan ini tidak ingin menuding atau menyalahkan siapa pun. Tulisan justru ingin mengajak kita melihat Pasola dengan kepala dingin dan hati terbuka: sebagai tradisi yang lahir dari relasi manusia dengan alam, tanah, dan leluhur, sekaligus sebagai ruang dialog antara budaya dan iman Katolik.

Dengan cara ini, Pasola menjadi jendela untuk memahami harmoni antara iman, budaya, dan kehidupan sehari-hari umat, tanpa jatuh pada pandangan hitam-putih.

Singkatnya, tulisan ini hendak menunjukkan bahwa Pasola bukan ancaman bagi iman, melainkan ruang dialog di mana inkulturasi iman, ekologi integral, dan martabat manusia saling bertemu.

Debu, Kuda, dan Makna Hidup

Debu mengepul di padang luas Sumba, berputar di bawah matahari pagi. Derap kuda menggetarkan tanah merah, sorak penonton pecah, dan lembing kayu berujung tumpul melayang di udara.

Inilah Pasola—tradisi adat yang setiap tahun digelar di (Wanukaka, Lamboya dan Gaura) dan Sumba Barat Daya (Kodi), Nusa Tenggara Timur, dan selalu menarik perhatian warga lokal maupun pendatang.

Bagi masyarakat Sumba, Pasola bukan sekadar tontonan atau atraksi pariwisata. Ia adalah ritus kehidupan. Tanah memberi makan, air menyuburkan, musim menentukan waktu tanam, dan leluhur diyakini menjaga keberlangsungan komunitas. Kehidupan dipahami sebagai jalinan relasi yang sakral—manusia bukan penguasa, melainkan bagian dari harmoni alam.

Pasola lahir bukan dari hasrat melukai, melainkan dari kerinduan menjaga keseimbangan hidup bersama. Hujan yang cukup, tanah yang subur, dan masa depan komunitas terselip dalam setiap lontaran lembing.

Kekerasan bukan tujuan, melainkan simbol tanggung jawab kolektif: pengingat bahwa manusia bergantung pada alam dan wajib menghormatinya.

Di dalamnya tersimpan pelajaran tentang solidaritas, tanggung jawab, dan harmoni—nilai-nilai yang menegaskan martabat manusia dan relasinya dengan sesama serta alam.

Akar Marapu dan Simbolisme Pasola

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved