Opini
Opini - Pasola: Ketika Budaya, Alam, dan Iman Bertemu di Tanah Sumba
Belakangan ini, Pasola ramai diperbincangkan di media sosial—Facebook, TikTok, Instagram—terutama di kalangan umat Kristen.
Dalam iman Kristiani, darah tidak lagi dipahami sebagai syarat kesuburan tanah. Kristus “dengan darah-Nya sendiri telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat kudus dan memperoleh keselamatan yang kekal” (Ibrani 9:12).
Salib Kristus menegaskan bahwa kehidupan dipulihkan bukan melalui kekerasan, melainkan melalui kasih yang total dan membebaskan.
Dalam terang ajaran Paus Fransiskus, Injil tidak hadir untuk menghapus akar budaya, tetapi untuk menjumpai, menerangi, dan memurnikan nilai-nilai luhur yang telah hidup di dalamnya, serta menegaskan keterhubungan manusia, alam, dan Allah dalam satu kesatuan hidup (Laudato Si’).
Kerinduan religius yang terungkap dalam Pasola memperlihatkan bahwa manusia Sumba sejak awal hidup dalam pencarian makna, keselamatan, dan harmoni dengan Yang Mahatinggi.
Kerinduan ini bukan sesuatu yang keliru atau harus disangkal, melainkan tanda bahwa hati manusia selalu terbuka bagi Allah.
Dalam terang iman Kristiani, kerinduan tersebut tidak berhenti pada simbol dan ritus, tetapi diarahkan menuju kepenuhannya dalam perjumpaan dengan Allah yang berinisiatif menyapa manusia.
Di sinilah Injil hadir bukan sebagai pemutus tradisi, bukan pula untuk menciptakan kerinduan baru, melainkan untuk menyapa dan menggenapi kerinduan yang telah lama hidup dalam kebudayaan.
Kerinduan yang Menemukan Kepenuhan
Orang Sumba mengenal Yang Mahatinggi sebagai Ina Mawolo Ama Marawi—“Ibu yang menenun, Bapa yang memintal”—merujuk pada Pencipta semesta.
Dalam iman Kristiani, kerinduan ini menemukan kepenuhannya dalam Allah yang menyatakan diri sebagai Bapa melalui Yesus Kristus. Pewartaan Injil bukan pertemuan dua dunia asing, tetapi perjumpaan antara kerinduan manusia dan jawaban Allah.
Pasola, dengan simbol dan keterbatasannya, mengingatkan bahwa hidup harus dijaga bersama. Tradisi ini bukan sekadar tontonan, melainkan cermin bagaimana manusia memahami hidup, alam, dan damai bersama.
Gereja hadir secara dialogis: mendampingi umat, menghormati, dan menerangi nilai budaya yang ada di dalamnya dengan terang Injil. Iman yang berakar dalam pengalaman nyata tumbuh lebih manusiawi dan membumi.
Bisikan dari Tanah Sumba
Di balik debu dan sorak Pasola terdengar bisik lembut: apakah kita masih menatap hidup dan alam sebagai anugerah, bukan sekadar tambang keuntungan?
Ketika tanah hanya diukur dengan nilai ekonomi dan darah leluhur menjadi tontonan, makna budaya menguap seperti embun pagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pasola_006.jpg)