Opini
Opini - Pasola: Ketika Budaya, Alam, dan Iman Bertemu di Tanah Sumba
Belakangan ini, Pasola ramai diperbincangkan di media sosial—Facebook, TikTok, Instagram—terutama di kalangan umat Kristen.
Ketika relasi dengan tanah rusak, yang pertama terluka bukan hanya alam, tetapi manusia kecil yang hidup darinya. Pasola mengajarkan: manusia bertahan hanya jika hidup menari selaras dengan alam, adat, dan sesama.
Pesan ini bergema nyata di NTT hari ini, ketika tekanan ekonomi, eksploitasi alam, dan perubahan iklim menguji daya tahan komunitas.
Keseimbangan bukan kemewahan, melainkan nadi kehidupan. Tantangannya jelas: apakah kita merawat tradisi sebagai sumber nilai yang menguatkan hidup bersama, atau membiarkannya menyusut menjadi ritual tahunan tanpa jiwa.
Di medan Pasola, saat lembing menembus udara dan kuda menari di tanah merah, manusia, alam, dan tradisi bertemu dalam satu tarikan napas.
Di sanalah keberanian, kerja sama, dan rasa hormat dipelajari—bukan lewat kata-kata, tetapi melalui pengalaman bersama.
Pasola bukan sekadar tontonan, tetapi peneguhan identitas kolektif —pengingat bahwa hidup yang lestari lahir dari harmoni kosmologis antara manusia, alam, dan Yang Ilahi.
Menjaga Pasola berarti menanam akar, menumbuhkan tanggung jawab, dan membangun komunitas yang tangguh menghadapi arus zaman.
Penutup
Agama-agama Samawi—Yahudi, Kristen, dan Islam—tidak hadir di ruang hampa. Yesus lahir dalam budaya Yahudi, bukan untuk meniadakan tradisi, tetapi menggenapinya sebagai jendela menuju Allah (Matius 5:17-18).
Paulus pun memulai pewartaan dari apa yang dikenal orang Yunani (Kisah Para Rasul 17:23). Iman dan budaya bukan lawan, melainkan sarana: setiap tradisi menyimpan benih kerinduan manusia akan yang baik dan benar—dari Maringi Sumba hingga shalom Kekristenan.
Persoalannya bukan sekadar “boleh atau tidak,” tetapi seberapa luas kita membuka ruang dialog, menghormati akar, dan menilai tradisi dengan mata jernih. Iman yang matang menuntun budaya, sehingga kasih Allah menjawab kerinduan manusia dalam tiap napas hidup.
Pasola, dalam debu dan sorakannya, tetap berbisik: hidup yang lestari lahir dari harmoni antara manusia, alam, dan Yang Ilahi, di mana iman dan budaya bertemu sebagai satu nadi kehidupan.
Di sanalah iman menemukan wajahnya yang paling manusiawi: berakar pada tanah, berpijak pada budaya, dan terbuka pada Allah yang hidup. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pasola_006.jpg)