Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Opini: KEK dan Jebakan Kapitalisme Kasino

KEK merujuk pada status khusus yang diperoleh suatu kawasan dengan berbagai syarat yang harus dipenuhi dan ditetapkan.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN PETRUS TALAN
John Petrus Talan 

Ekonomi kasino di sini merujuk pada sistem ekonomi yang tidak stabil (volatile) karena pertumbuhan dihasilkan melalui spekulasi, aliran modal jangka pendek, dan investasi berisiko tinggi daripada aktivitas produktif jangka panjang. 

Kapitalisme Kasino dan Perampasan Lahan

Pemikir ekonomi seperti Mariana Mazzucato memperkenalkan istilah “kapitalisme kasino” di dalam bukunya The Value of Everything (2018) untuk menggambarkan aktivitas ekonomi yang dimanfaatkan oleh aktor-aktor keuangan untuk mengekstraksi kekayaan melalui mekanisme seperti perdagangan, spekulasi, dan pencarian rente, daripada menghasilkan nilai ekonomi yang nyata. 

Kawasan khusus yang didesain sebagai enklaf tertutup dan terlindungi seringkali menjadi ruang inkubasi percepatan model ekonomi ini di berbagai negara di dunia.

Kawasan Khusus umumnya dikembangkan tertutup secara sosio-spasial dan semua operasi di dalam kawasan tersebut mendapatkan berbagai fasilitas pengecualian. 

Sekian pengecualian dan kemudahan ini didesain untuk menarik investor. 

Kebutuhan atas lahan yang luas yang diperuntukan untuk kawasan khusus ini berpotensi memicu konflik agraria. 

Tekanan agar pembangunan suatu kawasan khusus dilaksanakan secara cepat karena sifatnya yang mencakup berbagai proyek infrastruktur berskala besar seringkali membuat pemerintah (lokal dan/atau nasional) menempuh jalan pintas dengan untuk memastikan ketersediaan lahan, termasuk melakukan penguasaan lahan secara paksa. 

Warga setempat cenderung dikorbankan dengan selimut janji-janji pertumbuhan ekonomi.

Hal yang lain, kawasan khusus juga memicu pertumbuhan kawasan  perkotaan baru, meningkatnya konsentrasi modal, serta investasi infrastruktur. 

Di sisi lain, pengembangan kawasan khusus yang seringkali diputuskan secara cepat dan tergesa-gesa tanpa detil perencanaan strategis, mengakibatkan lokasi berpengelolaan khusus ini jatuh ke dalam ekonomi kasino. 

Kawasan ini kemudian muncul sebagai kantong (enclave) yang terpisah secara sosio-spasial (ruang, kebijakan, dan tata kelola) dengan otoritas lokal setempat, dan menjadikan para pengelola kawasan khusus kerap memfasilitasi aktivitas ekonomi berisiko tinggi dan spekulatif, seperti pusat perjudian, yang dipadu dengan jasa hiburan, maupun yang akhir-akhir ini berkembang di kawasan segitiga emas Asia Tenggara adalah sekian rupa markas cyber-crime internasional. 

Keadaan ini terjadi ketika kawasan khusus yang dikembangkan tidak berbasis pada aktivitas produksi, dan tidak didesain untuk mampu untuk memaksimalkan keunggulan komparatif, dan sejak dini memetakan sisi lemah variabel kompetitifnya. 

Kondisi ini terjadi karena kawasan khusus diinisiasi dan direncanakan secara top-down dan kehilangan konteks spesifiknya. 

Akibatnya, alih-alih menghasilkan transformasi ekonomi, kawasan-kawasan ini justru mengakibatkan banyak persoalan lintas dimensi.

Riset Strategis

Menggagas suatu kawasan khusus tanpa cetak biru perencanaan industri yang terang benderang akan menghantarkan kawasan tersebut pada kegagalan yang kemudian dikompensasi melalui berbagai aktivitas spekulatif dan berisiko tinggi. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved