Opini
Opini: Satu Hari untuk Guru
Namun sedikit yang menyadari bahwa pekerjaan terbesar guru justru terjadi di ruang-ruang yang tak pernah disorot.
Guru bukan hanya profesi, tetapi panggilan untuk menjadi manusia bagi manusia lain.
Mengembalikan Kehormatan Guru, Mengembalikan Harapan Bangsa
Pada akhirnya, perayaan Hari Guru hanya berarti jika kita menatap lebih jauh daripada bunga, ucapan, dan foto nostalgia.
Guru tidak butuh selebrasi besar; mereka membutuhkan pengakuan bahwa perjuangan mereka nyata dan tidak ringan. Mereka bekerja dalam senyap, tetapi dampaknya menggema sepanjang generasi.
Kita harus jujur mengakui: tanpa guru, tidak ada profesi lain yang mungkin lahir.
Setiap dokter, insinyur, pendeta, penulis, dan pemimpin pernah duduk di kursi kecil sambil mendengarkan seorang guru yang mungkin tidak pernah dikenal dunia, tetapi membentuk masa depan mereka.
Karena itu, Hari Guru harus menjadi pengingat bagi kita semua, mulai dari pemerintah, masyarakat, orang tua, dan murid bahwa pendidikan tidak akan pernah melampaui kualitas guru yang menemani prosesnya.
Maka, dukungan struktural, kesejahteraan yang layak, kebijakan yang manusiawi, serta penghargaan sosial yang tulus harus menjadi komitmen sepanjang tahun, bukan hanya satu hari.
Guru adalah pahlawan yang tidak meminta panggung. Mereka tidak selalu terlihat, tetapi pekerjaan mereka menjadi fondasi masa depan bangsa. Dan kita berutang banyak pada mereka.
Satu hari untuk guru adalah simbol. Tapi setahun penuh dan sepanjang hidup adalah penghormatan sejati pada perjuangan yang tak terlihat. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Goldy-Ogur.jpg)