Opini
Opini: Paradoks Pertumbuhan dan Defisit Kesejahteraan
Ekonomi hanya tumbuh di atas kertas, sementara di meja makan rakyat tidak ada yang berubah.
Oleh: Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran.
POS-KUPANG.COM - Seminggu sudah berlalu sejak ribuan mahasiswa membawa tagar yang kurang enak didengar, #IndonesiaMenujuBangkrut, ke jantung Jakarta.
Mereka sebetulnya tidak pernah sampai ke Bundaran HI, sebab di kawasan Semanggi rombongan dihadang aparat, lalu berakhir berorasi di depan Gedung Thamrin Nine Ballroom.
Yang menarik, justru sesudah itu gemanya tidak padam, ia merembet ke Yogyakarta keesokan harinya, lalu terus muncul di kota-kota lain, sebagaimana asap yang setia mengikuti arah angin.
Ada lima tuntutan yang dibawa pada Jumat, 12 Juni 2026 itu, dari setop pemborosan APBN sampai permintaan paling bersahaja sedunia, yakni agar Presiden berhenti mengelak.
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, merangkum semuanya dalam satu kalimat yang sukar dibantah, ekonomi hanya tumbuh di atas kertas, sementara di meja makan rakyat tidak ada yang berubah.
Baca juga: Opini: Meritokrasi dalam Penegakan Hukum
Lalu, ketika massa membubarkan diri, ia menambah satu kalimat yang patut dicatat oleh siapa pun yang sedang berkuasa, ini langkah pertama, bukan sekali.
Ada yang bilang mereka masih muda, belum mengerti politik, gampang terbawa arus. Boleh jadi benar, anak muda memang belum fasih membaca peta kekuasaan.
Tetapi mereka sangat peka membaca struk belanja orang tuanya atau struk belanja mereka sendiri, dan struk itu belakangan jauh lebih jujur daripada banyak pidato.
Padahal, kata para pencinta angka, kita semestinya bersyukur. BPS baru saja mengumumkan ekonomi tumbuh 5,61 persen pada kuartal pertama, tertinggi dalam empat belas kuartal terakhir. Sebuah prestasi, dan prestasi memang pantas dirayakan, mungkin sambil menatap nasi yang harganya ikut tumbuh lebih cepat dari gaji.
Di sinilah letak persoalannya. Pertumbuhan itu ditopang konsumsi Ramadan dan Lebaran, belanja pemerintah yang digeber di awal tahun, serta basis pembanding tahun lalu yang memang rendah. Sebagaimana orang yang tampak bugar setelah minum suplemen, kita belum tentu sehat, kita hanya sedang tidak terlihat sakit.
Lembaga riset INFID menyebut kondisi ini sebagai peringatan dini. Ekonomi tampak segar karena baru menenggak obat pereda nyeri bernama bansos, sementara penyakit akarnya masih utuh, upah rendah, kerja informal di mana-mana, ketimpangan yang tidak ke mana-mana.
Obat pereda nyeri memang hebat, ia membuat kita lupa sakit, sayangnya ia tidak pernah menyembuhkan apa pun.
Lalu tengoklah rupiah, yang awal Juni ini berhasil mencetak sejarah. Ia menembus Rp18.000 per dolar, terlemah sepanjang republik berdiri, sekaligus menyandang gelar mata uang berkinerja paling buruk di Asia tahun ini. Kata para pejabat, ini ulah faktor global, dan itu tidak sepenuhnya keliru, dolar memang menguat dan Timur Tengah memang memanas.
Hanya saja won Korea dan rupee India diterpa badai yang sama. Mereka basah, kita yang kuyup.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Jannus-TH-Siahaan.jpg)