Opini
Opini: Satu Hari untuk Guru
Namun sedikit yang menyadari bahwa pekerjaan terbesar guru justru terjadi di ruang-ruang yang tak pernah disorot.
Padahal, hidup seorang guru sering bergerak dalam dua dunia: dunia kelas yang terlihat, dan dunia batin yang tak pernah selesai pada jam tiga sore.
Beban sunyi ini tidak tercatat dalam laporan dinas, tetapi justru menjadi inti perjuangan mereka.
Guru bukan hanya mengajar mata pelajaran; mereka juga mengelola emosi anak-anak yang datang dari berbagai kondisi rumah.
Ada murid yang datang lapar, ada yang patah hati, ada yang tidak pernah mendapatkan perhatian.
Guru menjadi tempat pulang sementara bagi mereka yang hidup dalam kekosongan kasih.
Pekerjaan emosional ini tidak pernah masuk ke indikator penilaian, tapi menjadi detak jantung profesi guru.
Yasraf Amir Piliang menyebut era ini sebagai “era hiperaktifitas sosial”, ketika manusia dipaksa bergerak terus-menerus, dan pekerjaan yang bersifat emosional terkubur di bawah tuntutan administratif.
Guru mengalami tekanan itu setiap hari: formulir, laporan, akreditasi, asesmen, pelatihan, verifikasi, dan tugas menggunakan aplikasi yang tak pernah berhenti diupgrade.
Mereka mengajar manusia, tetapi sering dinilai oleh sistem yang hanya menghitung data.
Dalam konteks inilah kita melihat paradoks: guru adalah pusat pendidikan, tetapi kebijakan sering membuat mereka terpinggirkan.
Banyak guru bekerja dalam ketidakpastian: gaji kecil, status honorer yang rapuh, dan tuntutan profesionalisme yang terus naik tanpa dukungan memadai.
Mereka tetap bertahan, karena seperti kata Freire, pengajar sejati tidak mengajarkan pelajaran, tetapi harapan.
Di ruang kelas, guru membawa beban yang tidak pernah diceritakan. Kegelisahan menghampiri ketika menemukan satu murid yang tidak bisa membaca.
Kesedihan muncul ketika siswa berhenti sekolah karena kemiskinan.
Guru menyaksikan kehidupan dalam bentuk paling mentahnya, sebuah pengalaman yang sering membuat mereka lebih cepat matang dibanding profesi lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Goldy-Ogur.jpg)