Senin, 27 April 2026

Opini

Opini: Sartika dan Warung Pangku, Gugatan Atas Narasi Perempuan Kuat

Kemenangan film Pangku setidaknya membuka nurani dan pikiran publik akan permasalahan yang kerap dialami kaum perempuan. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MAURIANUS F.W DA CUNHA
Maurianus F. W. da Cunha 

Oleh: Maurianus F. W. da Cunha
Alumnus IFTK Ledalero, Flores. Saat ini saya bekerja dan berdomisili di Kota Bolzano, Italia Utara.

POS-KUPANG.COM - Kemenangan Film Pangku dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) November lalu bukanlah sekadar kemenangan Reza Rahardian bersama Felix K. Nesi sebagai sutradara atau para pemain yang membintanginya. 

Tetapi lebih dari itu merupakan kemenangan bagi pihak-pihak yang selama ini berjuang dalam mengangkat martabat kaum perempuan. 

Kemenangan film Pangku setidaknya membuka nurani dan pikiran publik akan permasalahan yang kerap dialami kaum perempuan. 

Situasi sulit terkadang membuat perempuan terjebak dalam lingkaran eksploitasi ekonomi di sektor informal, terutama di sepanjang jalan Pantura seperti yang digambarkan dalam Film. 

Baca juga: Kehangatan Film SIE, Bukan Sekadar Kambing yang Hilang

Sartika sebagai tokoh protagonis yang adalah ibu tunggal terpaksa menerima tawaran untuk bekerja menyuguhkan kopi sambil dipangku di sebuah kedai demi kelangsungan hidup dan kebutuhan buah hatinya. 

Gambaran ini merupakan kenyataan sosial yang sering dijumpai di negeri ini di mana perempuan terombang-ambing antara desakan kebutuhan ekonomi dan keterbatasan akan pilihan pekerjaan.  

Eksploitasi perempuan di sektor informal maupun Toxic Resilience (Chemaly, 2024) (sebuah ketahanan mental yang mendorong seseorang untuk terus bekerja bahkan dalam situasi stres) menjadi perbincangan serius akibat film Pangku. 

Tetapi diskusi publik hanya melihat nasib Sartika yang bekerja demi kelangsungan hidup sekedar sebagai korban pasif dari struktur modern. 

Padahal jika diselisik lebih jauh, pandangan ini mengabaikan sesuatu yang lebih kompleks dan lebih mengakar dalam budaya masyarakat Indonesia yakni epistemologi gender di wilayah nusantara. 

Melihat apa yang dilakukan Sartika, mungkin julukan Ibu yang kuat, dapat disematkan padanya. Namun sebutan itu hanyalah sebuah jebakan ketimbang sanjungan. 

Sebuah narasi penormalisasian atas penderitaan yang disebabkan oleh ketidakmampuan negara untuk hadir dalam memberikan perlindungan sosial bagi perempuan seperti Sartika

Akibatnya publik menganggap bahwa ketahanan yang diperlihatkan Sartika sebagai sebuah kebajikan moral alih-alih sebuah tanda peringatan. 

Padahal masalah yang jauh lebih penting adalah hilangnya pandangan lokal yang selama ini melihat perempuan bukan sebagai korban, melainkan sebagai tokoh utama dalam perekonomian dan masyarakat. 

Penopang Ekonomi yang Diabaikan 

Dalam perspektif epistemologi gender Nusantara, perempuan Jawa merupakan pemegang otoritas ekonomi rumah tangga dan penggerak utama ekonomi pasar, bukan sekedar pelaku domestik pasif menurut Geertz (1961) mengenai keluarga Jawa. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved