Rabu, 22 April 2026

Anker

Kehangatan Film SIE, Bukan Sekadar Kambing yang Hilang

SIE berpusat pada pergulatan hidup Veronika Nona, Nong Titus dan istrinya Maria tentang hasil-hasil kebun dan ternak yang ada hutan.

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Ryan Nong
POS-KUPANG.COM/HO-Tangkapan Layar Festival Film Indonesia
DOKUMENTER - Film SIE meraih Piala Citra 2025 untuk kategori Film Dokumenter Pendek Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) yang diselenggarakan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Yosef Levi dan Elsyn Puka, sang produser, naik ke panggung berbalut kain tenun Maumere, Kamis (20/11/2025). 

POS-KUPANG.COM, MAUMERE- Hangat, itulah kesan pertama yang saya tangkap ketika pertama kali menonton SIE yang ditayangkan dalam acara Maumere Cinema, dalam rangka HUT Ke-10 Komunitas Kahe, Rabu, 22 Oktober 2025 yang lalu. 

Sebuah ironi sebenarnya, film anak Maumere yang masuk program New Asian Currents di Yamagata International Documentary Film Festival ini malah baru pertama kali ditayangkan di tanah asalnya sendiri. Kala itu, di halaman depan Studio Komunitas KAHE, di Lokaria.

SIE (2024) mendapat banyak pujian di Maumere Cinema. Mario Nuwa, aktor teater, mengatakan SIE mampu menyingkap relasi manusia dengan ruang hidupnya, antara manusia dengan alam. Mario menyebut, “bagaimana adat, mitos, dan nilai-nilai komunitas lahir dari kedekatan personal dengan alam.”

Eka Putra Nggalu, kurator dan Direktur Komunitas KAHE, memuji retorika visual yang begitu kuat dan tampak ‘bercerita’ dalam SIE, sebuah kekuatan dokumenter yang menyentuh emosi penonton.

Latar tempat SIE ada di Maumere, tepatnya di pegunungan (Ile) Gai, yang dianggap keramat oleh masyarakat, membuat film garapan sutradara Yosef Levi ini terasa begitu personal, berjiwa.

Baca juga: Film Dokumenter Sie Karya Sineas Muda Maumere NTT Raih Piala Citra FFI 2025

Linguis, Dinas Radjalewa, mengkritisi beberapa terjemahan (subtitle) dari bahasa Nelle-Sikka ke dalam bahasa Indonesia dalam film ini yang dinilai kurang tepat. Yosep Levi, yang hadir secara virtual dalam Maumere Cinema, mengakui hal itu, bahwa cukup sulit baginya menerjemahkan frasa-frasa dalam bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia karena ada perbedaan ‘rasa bahasa’ yang cukup menyolok.

SIE awalnya merupakan proyek riset dan dokumentasi pribadi untuk kedua orang tua Yosef Levi yang sudah lanjut usia. Proses pendokumentasian ini berlangsung selama tiga tahun, dari akhir tahun 2021 sampai pertengahan tahun 2024.

Yosef ingin mengabadikan kehidupan orang tuanya sebagai petani di usia senja. Proyek ini kemudian berkembang menjadi sebuah film dokumenter setelah dia bertemu para mentor dalam workshop IDOCLAB.

SIE berpusat pada pergulatan hidup Veronika Nona, Nong Titus dan istrinya Maria tentang hasil-hasil kebun dan ternak yang ada hutan.

Film berdurasi 30 menit ini berhasil merekam kehidupan harian ketiga orang tua ini, dari pagi sampai malam. Bidikan kameranya konsisten menangkap percakapan lugas para tokoh, obrolan mereka mengalir, begitu intim memperlihatkan visual yang detil, emosi yang natural, dan suara alam; lembab, hangat, dan sunyi.

Pada rimbunnya pepohonan, di antara embun yang membasahi tanah, jauh dari ingar-bingar kehidupan kota yang modern, tokoh-tokoh protagonis ini hidup, dan memaknai alam yang mendekap mereka sepanjang hari.

Veronika pandai menerjemahkan tanda-tanda alam, dari sini nampak kebijaksanaan orang-orang yang hidup menyatu dengan alam. Misalnya, kalau terdengar suara tangisan dari dalam hutan, maka itu pertanda akan ada yang meninggal dunia.

Sama halnya juga dengan Nong Titus, yang menemukan seekor anak kambing mati diterkam hewan buas, Jasad anak kambing itu harus diletakkan di atas pohon, tidak boleh dikubur, tujuannya supaya induk kambingnya bisa beranak lagi.

Ada sebuah adegan yang bagi banyak penonton Maumere Cinema dilihat sebagai adegan yang epik, yakni saat Titus yang sudah tua tetapi masih bertenaga, sedang makan dengan posisi membungkuk ke tanah, dikelilingi beberapa ekor anjing dan ayam.

Sesekali Titus berbagi makanan dengan hewan-hewan peliharaannya itu; scene yang kuat menunjukkan kedekatan manusia dengan alam.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved