Opini
Opini: Keluarga dan Kedaulatan Kristus Raja, 100 tahun Ensiklik Quas Primas
Jadi, masyarakat dibekap pesimisme dan rasa tak berdaya sekaligus dibakar oleh begitu kuatnnya kebencian antarbangsa dan antarkelas.
Pada ulang tahun Quas Primas yang ke-100, kita melihat bagaimana penolakan itu didaur ulang dengan wajah yang berbeda di atas teater antik kekerasan global.
Negara sepenuhnya dianggap sebagai komunitas ideal, dan agama-agama ditundukkan di bawah kendali negara.
Keluarga-keluarga kehilangan jati dirinya, dan diambil-alih oleh kemajuan teknologi, media sosial, konsumerisme, dan pengabaian kebaikan bagi takdir komunitas manusia.
Masyarakat ditundukkan ke dalam sejenis totalitarianisme utopis yang menaruh harapan bukan pada keluarga, tetapi pada teknologi kecerdasan buatan sebagai tempat humanisasi paling ideal.
Padahal, dalam keyakinan Gereja, sebagaimana dicatat oleh Pius XI dalam Quas Primas, keluarga adalah tempat humanisasi yang penting, oase di tengah padang gurun kemajuan, tempat di mana Kristus berdaulat sebagai Allah.
Berkuasa atas keluarga-keluarga Kristen adalah kerinduan terbesar Hati Kudus, tegas Pius XI.
Oleh karena itu, kalau Kristus dikeluarkan dari kehidupan keluarga, maka segala upaya untuk memperbaiki masyarakat akan sia-sia karena sumber dan dasar dari regenerasi sosial yang sehat dan beradab, yakni keluarga telah dihancurkan.
Indikasi penghancuran itu bisa kita lihat dalam plot twist yang dimainkan oleh ideologi anti-tuhan: Keluarga Kudus Nazaret coba diambil-alih oleh ‘keluarga kudus’ à la Marx-Engels; “Inilah Tubuh-Ku” dalam Kurban Ekaristi diganti dengan “ini tubuhku” dalam sakramen aborsinya gerakan-gerakan pro choice.
William Cavanaugh dalam Torture and Eucharist (2008) menegaskan bahwa Gereja hanya bisa hadir sebagai lawan dari “penguasa dan penghulu dunia yang gelap ini” kalau Gereja menjadi tubuh-sosial yang nyata; ia menjadi dirinya sendiri, yakni Tubuh Kristus dengan ekaristi sebagai pusatnya.
Jika ‘dunia yang gelap ini’ memandang ekaristi sebatas ritualisme, Gereja perlu menegaskan bahwa pembebasan manusia selalu bersifat liturgis, sebagaimana dicatat dalam kisah Keluaran (Cf. Kel 3:12; 5:1).
Singkatnya, kita membutuhkan “kehendakNya di atas bumi,” yakni kedaulatan Kristus Raja yang berkuasa membangkitkan tulang-tulang mati peradaban yang egoistik dan tidak bertuhan dan menghembuskan rahmat kehidupan baru ke dalam hati setiap orang yang berkehendak baik. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sintus-Runesi.jpg)