Opini
Opini: Keluarga dan Kedaulatan Kristus Raja, 100 tahun Ensiklik Quas Primas
Jadi, masyarakat dibekap pesimisme dan rasa tak berdaya sekaligus dibakar oleh begitu kuatnnya kebencian antarbangsa dan antarkelas.
Oleh: Sintus Runesi
Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang, Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Saat kita membaca panggung dunia internasional umumnya, dan Eropa khususnya pada awal abad ke-20, kita menjumpai soal-soal seperti industrialisasi, despotisme, tirani, imperialisme, dan komunis internasional dengan kombinasi ideologi dan teror sebagai fondasinya.
Keadaan ini diperparah oleh aliansi politik yang telah memicu perang yang mengerikan di parit-parit Eropa dengan artileri modern dan gas beracun.
Lalu menyusul flu Spanyol yang menyapu bagai badai, yang penyebarannya tidak terbatas di dataran Eropa saja.
Misalnya, kita tahu dari kesaksian para misionaris SVD melalui catatan-catatan mereka bahwa Flores dan mungkin juga Timor di Hindia Belanda yang jauh dari Eropa, ikut terseret badai wabah yang mematikan itu.
Baca juga: BREAKING NEWS : Sri Paus Leo XIV Angkat RD Yohanes Hans Monteiro Jadi Uskup Larantuka
Jadi, masyarakat dibekap pesimisme dan rasa tak berdaya sekaligus dibakar oleh begitu kuatnnya kebencian antarbangsa dan antarkelas.
Dalam konteks dunia seperti inilah, Ambrogio Ratti terpilih sebagai Paus, memilih nama Pius XI, dengan “ Pax Christi in Regno Christi” sebagai motonya.
Moto ini jelas menunjukkan intensi dan arah pelayanan Petrinnya. Dalam ensiklik pertamanya, Ubi Arcano (1922), ia meratapi betapa berakhirnya Perang Dunia I tidak menjanjikan perdamaian apapun. Yang terjadi justru sebaliknya.
Tampak jelas bangkitnya suatu ancaman baru bagi kemanusiaan. Ia menunjukkan bahwa keserakahan yang ditopang oleh kepercaayaan akan rasionalitas manusia menjerumuskan manusia ke dalam barbarisme merupakan akar dari seluruh permasalahan sosial tersebut.
Baginya, hanya dalam kekuasaan Kristus sajalah manusia menemukan kedamaian otentik.
Oleh karena itu, tiga tahun kemudian, tepatnya 11 Desember 1925, melalui Ensiklik Quas Primas, ia menetapkan Hari Raya Kristus Raja, dan memilih hari minggu terakhir bulan Oktober sebagai hari perayaannya, bulan Rosario yang dibajak oleh para komunis saat memproklamirkan permanensi revolusi mereka.
Permanensi revolusi sebagai istilah, yang diperkenalkan pertama kali oleh Karl Marx dalam The Holy Family (1844) – buku yang ditulis bersama Friedrich Engels, dimaksudkan bahwa tujuan revolusi harus dicapai tanpa kompromi dengan lawan-lawan revolusi, termasuk Gereja.
Maka, dengan memilih hari tersebut, Pius XI meletakkan Kerajaan Allah dengan Gereja sebagai tandanya, dalam oposisi langsung dengan hal-hal baru tak bertuhan dari semangat modern melalui propaganda para eksponen sosialisme.
Masyarakat Anti-tuhan
Dari sisi historis dan ideologis, sosialisme abad ke-20 dengan budaya barbarismenya adalah anak kandung liberalisme abad ke-19 dengan proyek modernitasnya, yang melihat agama dan kepercayaan akan Allah sebagai akar semua bentuk ketidakadilan dalam masyarakat.
Agama dipandang sebagai alat legitimasi kelas borjuis dengan segala bentuk ketidakadilannya.
Keyakinan ini melahirkan gerakan anti-klerikalisme pada Revolusi Perancis dan sesudahnya.
Di Prancis misalnya, gerakan ini memuncak dengan pemberlakuan laïcité secara legal pada tahun 1905, di mana agama dipandang sebagai urusan subjektif dan privat, dan semua simbol yang berkaitan dengannya dilarang di ruang publik.
Singkatnya, hakekat terdalam dari anti-klerikalisme ideologi liberalisme dan sosialisme adalah satu dan sama yakni penolakan akan Allah.
Pius XI menulis dalam Ubi Arcano bahwa gejala sosial yang terjadi membuat “kehidupan publik saat ini begitu pekat diselimuti kabut kebencian dan keluhan yang menyayat, sehingga hampir mustahil bagi masyarakat umum untuk bernapas dengan lega di dalamnya.”
Optimisme yang dijanjikan oleh kemajuan yang dipuja-puji justru memerlihatkan hal sebaliknya bahwa masyarakat perlahan terjerumus ke dalam barbarisme (§11).
Pengalaman perang telah membuat bangsa-bangasa secara tidak sadar mendaur-ulang doktrin “jika ingin damai, siapkanlah perang”, suatu doktrin yang malah tidak jauh beda dengan kondisi perang.
Bagi Pius XI, kondisi ini cenderung mengotori dan meracuni sumber-sumber kehidupan baik fisik, intelektual, agama dan moralitas.
Lebih dalam, Pius XI menemukan bahwa ada jenis kejahatan lain yang lebih serius dan menyedihkan, yakni perpercahan internal di dalam masyarakat manusia itu sendiri.
Terjadi pembelahan sosial masyarakat ke dalam kelas-kelas yang saling memangsa, seperti penyakit kronis yang menggerogoti dari dalam tubuh kemanusiaan, menyerang organ-organ vital komunitas manusia dan membangkitkan kebencian antar-sesama.
Bagi Pius XI, semua ini berakar pada kehendak untuk berkuasa dan kehendak untuk melindungi kepentingan-kepentingan pribadi yang mengakibatkan kerugian sosial bagi negara-negara sebagai komunitas sosial secara menyeluruh (§12).
Lamentasi sosial ini diulang dalam Quas Primas, di mana Pius XI menulis bahwa semangat revolusioner yang cenderung memperkeras pembelahan sosial selalu membutakan manusia.
Konsekuensinya, yang dicari oleh manusia tidak lain kenyamanan dan keuntungan diri sendiri, mengukur segala sesuatu berdasarkan kepentingan diri.
Revolusi yang dibangun di atas kebencian ini merasuk jauh ke dalam ruang-kudus damai dan kasih.
Akibatnya, kasih dan kedamaian perlahan-lahan melarikan diri dari keluarga-keluarga, para orang tua menyepelekan tanggung jawab mereka, kesatuan dan stabilitas keluarga terancam, dan masyarakat secara keseluruhan diguncang dari dasarnya yang paling utama dan menuju kehancuran (§24).
Jadilah Kehendak-Mu di atas Bumi
Bagi Pius XI, barbarisme sosial adalah buah dari ketidakpercayaan dan penolakan akan kehadiran Allah dalam praksis kehidupan, dan merupakan salah satu dosa besar masyarakat modern.
Pada ulang tahun Quas Primas yang ke-100, kita melihat bagaimana penolakan itu didaur ulang dengan wajah yang berbeda di atas teater antik kekerasan global.
Negara sepenuhnya dianggap sebagai komunitas ideal, dan agama-agama ditundukkan di bawah kendali negara.
Keluarga-keluarga kehilangan jati dirinya, dan diambil-alih oleh kemajuan teknologi, media sosial, konsumerisme, dan pengabaian kebaikan bagi takdir komunitas manusia.
Masyarakat ditundukkan ke dalam sejenis totalitarianisme utopis yang menaruh harapan bukan pada keluarga, tetapi pada teknologi kecerdasan buatan sebagai tempat humanisasi paling ideal.
Padahal, dalam keyakinan Gereja, sebagaimana dicatat oleh Pius XI dalam Quas Primas, keluarga adalah tempat humanisasi yang penting, oase di tengah padang gurun kemajuan, tempat di mana Kristus berdaulat sebagai Allah.
Berkuasa atas keluarga-keluarga Kristen adalah kerinduan terbesar Hati Kudus, tegas Pius XI.
Oleh karena itu, kalau Kristus dikeluarkan dari kehidupan keluarga, maka segala upaya untuk memperbaiki masyarakat akan sia-sia karena sumber dan dasar dari regenerasi sosial yang sehat dan beradab, yakni keluarga telah dihancurkan.
Indikasi penghancuran itu bisa kita lihat dalam plot twist yang dimainkan oleh ideologi anti-tuhan: Keluarga Kudus Nazaret coba diambil-alih oleh ‘keluarga kudus’ à la Marx-Engels; “Inilah Tubuh-Ku” dalam Kurban Ekaristi diganti dengan “ini tubuhku” dalam sakramen aborsinya gerakan-gerakan pro choice.
William Cavanaugh dalam Torture and Eucharist (2008) menegaskan bahwa Gereja hanya bisa hadir sebagai lawan dari “penguasa dan penghulu dunia yang gelap ini” kalau Gereja menjadi tubuh-sosial yang nyata; ia menjadi dirinya sendiri, yakni Tubuh Kristus dengan ekaristi sebagai pusatnya.
Jika ‘dunia yang gelap ini’ memandang ekaristi sebatas ritualisme, Gereja perlu menegaskan bahwa pembebasan manusia selalu bersifat liturgis, sebagaimana dicatat dalam kisah Keluaran (Cf. Kel 3:12; 5:1).
Singkatnya, kita membutuhkan “kehendakNya di atas bumi,” yakni kedaulatan Kristus Raja yang berkuasa membangkitkan tulang-tulang mati peradaban yang egoistik dan tidak bertuhan dan menghembuskan rahmat kehidupan baru ke dalam hati setiap orang yang berkehendak baik. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sintus-Runesi.jpg)