Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Opini: Keluarga dan Kedaulatan Kristus Raja, 100 tahun Ensiklik Quas Primas

Jadi, masyarakat dibekap pesimisme dan rasa tak berdaya sekaligus dibakar oleh begitu kuatnnya kebencian antarbangsa dan antarkelas. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI SINTUS RUNESI
Sintus Runesi 

Keyakinan ini melahirkan gerakan anti-klerikalisme pada Revolusi Perancis dan sesudahnya. 

Di Prancis misalnya, gerakan ini memuncak dengan pemberlakuan laïcité secara legal pada tahun 1905, di mana agama dipandang sebagai urusan subjektif dan privat, dan semua simbol yang berkaitan dengannya dilarang di ruang publik. 

Singkatnya, hakekat terdalam dari anti-klerikalisme ideologi liberalisme dan sosialisme adalah satu dan sama yakni penolakan akan Allah.  

Pius XI menulis dalam Ubi Arcano bahwa gejala sosial yang terjadi membuat “kehidupan publik saat ini begitu pekat diselimuti kabut kebencian dan keluhan yang menyayat, sehingga hampir mustahil bagi masyarakat umum untuk bernapas dengan lega di dalamnya.” 

Optimisme yang dijanjikan oleh kemajuan yang dipuja-puji justru memerlihatkan hal sebaliknya bahwa masyarakat perlahan terjerumus ke dalam barbarisme (§11). 

Pengalaman perang telah membuat bangsa-bangasa secara tidak sadar mendaur-ulang doktrin “jika ingin damai, siapkanlah perang”, suatu doktrin yang malah tidak jauh beda dengan kondisi perang. 

Bagi Pius XI, kondisi ini cenderung mengotori dan meracuni sumber-sumber kehidupan baik fisik, intelektual, agama dan moralitas.

Lebih dalam, Pius XI menemukan bahwa ada jenis kejahatan lain yang lebih serius dan menyedihkan, yakni perpercahan internal di dalam masyarakat manusia itu sendiri. 

Terjadi pembelahan sosial masyarakat ke dalam kelas-kelas yang saling memangsa, seperti penyakit kronis yang menggerogoti dari dalam tubuh kemanusiaan, menyerang organ-organ vital komunitas manusia dan membangkitkan kebencian antar-sesama. 

Bagi Pius XI, semua ini berakar pada kehendak untuk berkuasa dan kehendak untuk melindungi kepentingan-kepentingan pribadi yang mengakibatkan kerugian sosial bagi negara-negara sebagai komunitas sosial secara menyeluruh (§12). 

Lamentasi sosial ini diulang dalam Quas Primas, di mana Pius XI menulis bahwa semangat revolusioner yang cenderung memperkeras pembelahan sosial selalu membutakan manusia. 

Konsekuensinya, yang dicari oleh manusia tidak lain kenyamanan dan keuntungan diri sendiri, mengukur segala sesuatu berdasarkan kepentingan diri. 

Revolusi yang dibangun di atas kebencian ini merasuk jauh ke dalam ruang-kudus damai dan kasih. 

Akibatnya, kasih dan kedamaian perlahan-lahan melarikan diri dari keluarga-keluarga, para orang tua menyepelekan tanggung jawab mereka, kesatuan dan stabilitas keluarga terancam, dan masyarakat secara keseluruhan diguncang dari dasarnya yang paling utama dan menuju kehancuran (§24). 

Jadilah Kehendak-Mu di atas Bumi

Bagi Pius XI, barbarisme sosial adalah buah dari ketidakpercayaan dan penolakan akan kehadiran Allah dalam praksis kehidupan, dan merupakan salah satu dosa besar masyarakat modern. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved