Breaking News
Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: In Illo Uno Unum

Pengabdian kedua lembaga atau institusi di wilayah perbatasan ini patut diberi apresiasi dan dukungan. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Romo Polikarpus Mehang Praing, Pr 

Selain tujuan akademis ini juga misi kemanusiaan untuk membawa dan menciptakan relasi yang baik dan harmonis untuk masyarakat yang berdekatan dan berbeda dalam bernegara. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia dan Timor Leste adalah dua negara yang memiliki aturan aturan atau hukum – hukum yang berbeda. 

Semua itu, dalam konteks tertentu, akan mengorientasikan masyarakat atau warga untuk berpikir secara ekslusif. 

Setiap negara mempunyai sistem politik, perekonomian, pendidikan, keamanan, strategi membangun negara, dll yang tidak sama atau berbeda dengan negara lain.  

Lebih jauh, perbedaan atau fakta ketidaksamaan bisa menjadi sumber atau lahirnya konflik dalam berbangsa dan bernegara secara khusus di daerah perbatasan. 

Bukan tidak mungkin sikap patriotisme ekstrem, demi membela atau menjaga kedaulatan atau harga diri bangsa dan negaranya dalam banyak aspek, atau fakta perbedaan itu sendiri, bisa menimbulkan ketegangan, sentimen satu dengan yang lain. 

Lebih konkret lagi; teman dekat bisa jadi musuh atau tetangga bisa menjadi saingan atau lawan.          

Daerah perbatasan, seperti perbatasan Indonesia dan Timor Leste ini, layak dan pantas mendapat perhatian dari berbagai pihak. 

Mereka berdekatan, bertetangga bahkan memiliki banyak kesamaan dan kesatuan budaya, adat-istiadat tapi beda negara. 

Pengabdian kedua lembaga pendidikan ini adalah upaya mengangkat dan memperkuat unsur unsur yang mempersatukan dan membangun persaudaraan melalui dialog. 

Hadirnya kedua lembaga ini bukan upaya untuk menyangkal perbedaan dalam berbangsa dan bernegara tetapi menyadarkan dan tetap memegang teguh warisan luhur dari nenek moyang yang pernah ada dan masih ada. 

Warisan luhur nenek moyang adalah spirit untuk tetap menjadi saudara, satu keluarga besar, akrab, harmonis, saling mencintai dan menghormati sebagai sesama manusia yang bermartabat. 

Dengan kata lain, perbedaan berbangsa dan bernegara tidak boleh menghancurkan nilai nilai kemanusiaan yang ada, sebagai peradaban tertinggi,  apalagi telah terbentuk dan ada berabad abad pada masyarakat di Pulau Timor ini. 

Kegiatan ini bisa disebut upaya sekelompok penduduk dari dua wilayah berbeda, melalui Fakultas Filsafat Unika Widya Mandira (Indonesia) dan ISFIT (Timor Leste). 

Tidak disangkal, bila ditinjau secara komprehensif dari berbagai aspek, ada banyak kekurangan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved