Opini
Opini: In Illo Uno Unum
Pengabdian kedua lembaga atau institusi di wilayah perbatasan ini patut diberi apresiasi dan dukungan.
Oleh: Rm. Polikarpus Mehang Praing, Pr
Dosen Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Judul ini adalah moto Paus Leo ke XIV, pemimpin Gereja Katolik dunia yang artinya dalam Dia yang satu, menjadi satu.
Judul tulisan ini tidak bermaksud menguraikan atau menjelaskan detail atau latar belakang moto ini.
Moto Paus Leo ke XIV menjadi inspirasi kegiatan internasional dari dua lembaga yakni Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang dan Instituto Superior Filosofia e de Teologia (ISFIT) Timor Leste mulai tanggal 15-30 November 2025.
Temanya Membangun Jembatan Dialog "In Illo Uno Unum" di Perbatasan Repuplik Indonesia - Republik Demokratik Timor Leste. Kegiatan ini terjadi di perbatasan kedua negara.
Baca juga: Opini: Belajar Bahasa Portugis Bisa Kita Mulai Sekarang
Dua lembaga, yang melibatkan para dosen dan mahasiswa, adalah pengabdian dan penelitian diperbatasan negara Republik Indonesia dan Negara Republik Demokratik Timor Leste.
Ada seminar, wawancara, diskusi, kegiatan rohani dan olah raga bersama dan sebagainya.
Kegiatan kegiatan ini melibatkan masyarakat sekitar wilayah perbatasan ini; Indonesia ( Desa Silawan) dan perbatasan Timor Leste (Batu Gade), terlibat juga chefe do posto, chefe do suco dan chefe aldeia.
Pengabdian yang dilakukan bersama dua lembaga ini bertujuan agar masyarakat di wilayah ini tetap menciptakan persatuan dan persaudaraan meskipun berada di negara yang berbeda.
Ada banyak alasan dan dasar yang sulit memisahkan relasi antar penduduk di wilayah ini, secara khusus di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, baik dari aspek geografis, keagamaan, budaya, suku dan sebagainya.
Secara geografis penduduk di perbatasan ini mendiami satu pulau atau satu daratan yang sama yaitu pulau Timor. Agama mereka adalah sama sama mayoritas beragama Katolik.
Ada juga kesamaan budaya seperti ritual ritual pada rumah adat. Suku suku yang sama, seperti Suku Bunak, Dede, Kemak dan Tetun yang ada di wilayah Indonesia dan Timor Leste dan sebagainya.
Masyarakat adat Timor Leste selalu menyebut Wehali-Wewiku di Kerajaan Betun – Malaka yang ada di Timor Indonesia.
Banyak penduduk yang menggunakan bahasa yang sama. Oleh karena itu, secara prinsipil, ikatan atau relasi masyarakat satu dengan yang lain sudah ada, terbentuk dan tertanam sebelum Timor Leste merdeka dan berdaulat sebagai negara tersendiri.
Pengabdian kedua lembaga atau institusi di wilayah perbatasan ini patut diberi apresiasi dan dukungan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Polikarpus-Mehang-Praing1.jpg)