Obituari
Pendidik dan Penyiram Antar-Generasi
Sebagai hujan, Pora menghadirkan makna filosofis dan spiritual dari air. Ia adalah simbol kehidupan, harapan, pembaharuan, dan berkah.
Bila Graeme Condrignton dan Sue Grant Marshal membagi teori generasi, maka saya meliaht hal ini dapat menempatkan Frans Pora dalam semua generasi.
Lahir pada periode generasi tradisional-konservatif (19/7/1941). Lima tahun kemudian ia masuk dalam generasi ‘baby-boomers), 1946-1964. Sebuah periode sangat sulit dan kompetitif.
Lowongan pekerjaan yang terbatas memaksa kompetisi yang ketat. Terbayang, seorang bocah dari Kalikasa Lembata untuk bisa memulai kompetisi itu.
Dunia ternyata tidak selebar Waimuda karena dia bisa ke Hadakewa kemudian Hokeng (1955-1962).
Saat memasuki ‘Generasi X’ (1965-1980), Pora melewatinya dengan pendidikan dan kerja keras mulai dari Ledalero (1963-1970) hingga Roma (1973-1976).
Ia lalu masuk berinteraksi dengan generasi Y (1981-1996), saat mulai berkarya dan mengambil posisi sentral sebagai direktur APK (1982-1988) dan Provinsial SVD Ruteng (1986-1993).
Pada dua tahun 1986-1988, ia bahkan merangkap jabatan Provinsial dan direktur APK.
Ia tidak berhenti di sana. Generasi Z (1997-2010) juga tidak sulit untuk ia jalin kontak.
Inilah periode di mana Pora selain kembali ke basis sebagai dosen, tetapi juga menepi ke Novisiat Kuwu sebagai pembina.
Ia tidak canggung karena dengan kelenturannya, ia dengan mudah bergaul dengan generasi Z bahkan generasi Apha yang lebih cocok jadi cucu dan cecenya.
Email, SMS, instan messaging (yahoo messenger), media sosial (Facebook, twitter, instragram, youtube dan lain-lain) bukan sesuatu yang asing baginya dan dengan mudah berada tanpa canggung di lintas generasi.
Mengapa Frans Pora tidak sulit masuk ke setiap generasi dan begitu mudah pula diterima?
Mengutip Price, C (2009) dalam Why Dont’ My Students Think I’am Groovy, dan juga pada artikel online tentang Five Strategies to Engage Today’s Students, 2011, saya merasa strategi 5R merupakan jawaban yang tepat yakni: riset, relevan, rasional, rileks, dan rapor (hubungan baik).
Frans Pora menjadi seorang pengamat (riset tingkah laku) yang jitu. Ia mengenal orang lain apa adanya dan menjadikannya sebagai basis untuk jalin hubungan.
Inilah alasan mengapa ia jadi ‘klop’ dengan setiap generasi. Di kelas sebagai guru ia juga membawakan pembelajaran yang relevan dan ‘nyambung’ dengan kebutuhan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Frans-Pora-Ujan-SVD.jpg)