Opini
Opini: Warisan Sehat dari Leluhur, Saatnya Kembali ke Akar Budaya Nusantara
Leluhur kita terbiasa berjalan kaki ke sawah, bekerja dengan tubuh yang terus bergerak, dan makan dari hasil bumi sendiri yang segar tanpa pengawet.
Sementara itu, riset Universitas Indonesia pada tahun 2024 tentang aktivitas fisik berbasis budaya lokal seperti tari tradisional dan permainan rakyat menunjukkan peningkatan kebugaran kardiovaskular dan penurunan tekanan darah pada lansia di komunitas pedesaan Jawa Tengah.
Tak kalah menarik, studi dari WHO-SEARO Asia Tenggara tahun 2023 menegaskan bahwa penguatan nilai budaya dan sosial-komunitas terbukti memperbaiki kesehatan mental masyarakat pascapandemi melalui rasa kebersamaan, makna hidup, dan kepercayaan pada komunitas lokal.
Begitu pula dalam urusan obat-obatan. Jauh sebelum industri farmasi modern berkembang, Nusantara telah mengenal jamu, ramuan herbal, dan ritual penyembuhan berbasis alam.
Kini, penelitian di berbagai universitas Indonesia menemukan bahwa ekstrak kunyit, jahe, dan temulawak memiliki efek antiinflamasi dan antioksidan yang signifikan setara dengan beberapa obat sintetik ringan.
Artinya, warisan ini bukan sekadar mitos tradisional, melainkan bentuk pengetahuan empiris yang memiliki dasar ilmiah kuat.
Namun, dalam arus globalisasi, warisan tersebut perlahan tergeser oleh budaya praktis dan konsumtif.
Masyarakat lebih percaya pada iklan suplemen impor daripada resep nenek sendiri.
Nilai-nilai kebersamaan digantikan individualisme; olahraga tradisional seperti pencak silat, egrang, dan tari daerah mulai ditinggalkan, padahal kegiatan itu dulu menjadi cara alami menjaga kebugaran dan ketahanan tubuh.
Kita mulai kehilangan bukan hanya budaya, tetapi juga imunitas sosial dan spiritual yang selama ini menopang bangsa.
Karena itu, peringatan Hari Kebudayaan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan budaya sehat ke dalam kehidupan modern.
Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja bersama: sekolah bisa memperkenalkan kembali permainan tradisional yang aktif dan sehat; fasilitas kesehatan bisa mengintegrasikan jamu dan pendekatan budaya dalam promosi kesehatan; media bisa mengangkat kisah inspiratif tentang komunitas yang menjaga gaya hidup tradisional di tengah arus zaman.
Solusi dan Jalan Ke Depan
Untuk menjawab tantangan ini, diperlukan tiga langkah strategis.
Pertama, pendidikan berbasis budaya sehat diintegrasikan dalam kurikulum sejak dini, agar anak-anak mengenal pentingnya makanan alami dan aktivitas tradisional.
Kedua, kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Kebudayaan perlu diperkuat untuk mendukung riset dan promosi gaya hidup berbasis kearifan lokal.
Prima Trisna Aji
Hari Kebudayaan Nasional
Makanan Sehat
detoksifikasi alami
Opini Pos Kupang
POS-KUPANG.COM
| Opini: Kekerasan Terhadap Perempuan |
|
|---|
| Opini: Veronika! Su Nonton Film Pesta Babi Ko? |
|
|---|
| Opini: Memandang Penderitaan sebagai Doa dalam Terang Teologi Salib Edith Stein |
|
|---|
| Opini: Menakar Krisis Iklim Kemarau Ekstrem dan Gejolak Vulkanik Lewotobi Laki-laki |
|
|---|
| Opini: Amfoang yang Terlupakan- Saat BBM Langka, Jalan Rusak dan Faskes Menjadi Pajangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Prima-Trisna-Aji2.jpg)