Opini
Opini: Paradoks Musik Timur, Dari Tenda Pesta ke Gugatan Publik
Perjalanan panjang musik timur ke panggung nasional, bahkan internasional, bukanlah hal yang mudah.
Oleh: Yogen Sogen
Pegiat Sastra dan Sosial Politik. Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pemerintahan - Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara (STIPAN).
POS-KUPANG.COM - Beberapa tahun terakhir, musik dari wilayah timur Indonesia semakin menemukan jalannya. Ia terus bertahan dengan warna musiknya dan kini diterima secara luas.
Lagu-lagu seperti “Tabola Bale” karya Silet Open Up dan “ Gemu Fa Mi Re” dari Maumere tidak hanya viral di media sosial, tetapi juga berhasil menghipnotis ruang-ruang formal kekuasaan, bahkan menggoyang Istana Negara dan gedung parlemen.
Ini merupakan fenomena unik. Di satu sisi, musik-musik ini berhasil memadukan irama kegembiraan, meruntuhkan sekat-sekat perbedaan anak-anak bangsa, dan mempertegas kekayaan budaya Indonesia yang begitu dahsyat.
Baca juga: Opini: Balada Negeri Tabola Bale
Sementara, di sisi lain, fenomena menampilkan paradoks, di mana kegembiraan yang ditampilkan justru berpotensi mengaburkan realitas ketimpangan dan ketidakadilan yang masih membelenggu tanah di mana musik itu lahir.
Kebangkitan Musik Timur
Perjalanan panjang musik timur ke panggung nasional, bahkan internasional, bukanlah hal yang mudah.
Selama bertahun-tahun, musik dari kawasan ini sering kali merintih di pinggiran, kurang diterima karena didominasi oleh genre-genre musik dari Jawa atau Sumatera.
Namun, hadirnya era digital telah merombak segalanya. Mendobrak pandangan publik di barat Indonesia, bahwa musisi timur juga mampu memberi cita rasa baru pada belantara musik tanah air.
Dengan lirik dan tampilan musisi sederhana, melodi yang riang, dan ritme yang mengajak bergoyang, lagu-lagu ini dengan cepat melesat dan merebut hati publik.
Kita bisa melihat dari contoh sederhana saat momentum perayaan HUT RI ke-80 di Istana Merdeka.
Agenda sakral itu, Silet Open Up, musisi asal Nusa Tenggara Timur (NTT), membawakan lagu “Tabola Bale”.
Liriknya serderhana namun menukik, dapat ditafsir sebagai ungkapan kerinduan dari seorang pemuda kampung yang menggebu-gebu serta pujian atas pancaran kecantikan dari “ade nona” yang pulang dari perantauan.
Sesederhana itu, namun mampu menghipnotis seluruh Istana, dari Presiden, menteri, hingga rakyat turut berjoget.
Momentum itu mengungkapkan bahwa musik, terutama musik yang lahir dengan penuh ketulusan dan dari relung kesederhanaan, ternyata memiliki daya magis, yang mampu memikat kekakuan formal dan menciptakan solidaritas.
Di sinilah, musik timur tidak sekadar menjadi simbol pemersatu, namun melampaui sekat birokrasi dan status sosial. Ia menyulam indah tenunan kebangsaan.
Tidak hanya di istana, fenomena serupa juga terjadi di gedung DPR/MPR. Saat Sidang Tahunan, sejumlah anggota DPR RI terlihat berjoget dengan riang, berlenggak lenggok sambil tertawa saat irama lagu “Gemu Fa Mi Re” bergema.
Wakil Ketua DPR RI Adies Kadir menyebut bahwa jogetan itu sebagai letupan ekspresi antusiasme dan terbawa suasana.
Di sini, musik timur berfungsi sebagai medium untuk meluapkan emosi, melepas segala ketegangan, dan menciptakan momen “kembali ke akar” di tengah hiruk-pikuk politik.
Lagu yang diciptakan oleh Fransiskus Cornelis (Nyong Franco) ini menjembatani hasil perenungan atas realitas kultural dan interupsi kebatinan yang menghentak-hentak: budaya dan lirik serta irama terjalin sempurna.
Bisa dikatakan lagu ini lahir dari kebiasaan masyarakat Maumere atau NTT pada umumnya yang suka menari dalam setiap perayaan.
Dari realitas sosial di Maumere-Flores, Nyong Franco mampu memadukannya lewat lirik dan irama yang riang gembira, bahkan hingga tampak seperti lagu wajib dalam setiap perayaan, formal maupun santai hingga acara senam.
Narasi Pemberontakan
Namun, di balik hentakan kegembiraan dan warna irama yang ditampilkan, terdapat narasi yang jauh lebih kelam.
Fenomena ini, secara tidak sadar, bisa dibaca sebagai bentuk pemberontakan atau protes terhadap ketidakadilan yang membisu.
Ketika para pemimpin dan elite politik di pusat kekuasaan bergoyang menikmati lagu dari timur, ada sebuah ironi yang terpendam.
Lagu-lagu ini berasal dari wilayah-wilayah yang sering kali menjadi korban ketimpangan pembangunan. NTT, Maluku, dan Papua adalah daerah yang menawarkan kekayaan alam yang begitu menakjubkan.
Namun pada kenyataanya, rakyat di wilayah ini sering kali hidup dalam belenggu kemiskinan, akses pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang jauh masih jauh dari kata layak.
Secara data, pada periode Maret 2025, BPS melengkapi keprihatinan ini dengan mencatat, NTT, Maluku dan Papua masuk dalam sepuluh besar provinsi dengan jumlah penduduk miskin paling tinggi.
Realitas ini melengkapi kabar buruk dan mewarnai 80 tahun kemerdekaan negeri ini.
Musik timur yang riang gembira sebenarnya adalah representasi dari daya tahan dan semangat hidup yang tak kenal padam.
Bisa dikatakan, masyarakat timur menggaungkan musik dan tarian sebagai ekspresi untuk bertahan dalam dilema yang membelenggu, merayakan kemiskinan-ketidakadilan, dan menjaga kewarasan dengan kebahagiaan.
Ini adalah ekspresi paling tabah dari pergumulan kebatinan, karena mereka menggerakkan makna “pemberontakan tanpa kekerasan” dan “perlawanan tanpa amarah”.
Mereka tidak berteriak menuntut keadilan, melainkan menari dan bernyanyi dengan semangat yang menyala-nyala.
Maka, ketika para pejabat ikut berjoget, mereka sebenarnya sedang merayakan sebuah pergolakan batin yang tak mereka sadari.
Mereka larut dalam irama dan semangat lagu, tanpa menyadari bahwa lagu itu dilahirkan dari perjuangan, harapan, dan ironi ketidakadilan.
Jogetan itu bisa menjelma semacam kudeta budaya, di mana rakyat dari timur, melalui musiknya berhasil menghipnotis para penguasa untuk mengikuti irama mereka.
Mereka larut dalam bahagia, rakyat yang lapar menyaksikan. Sebuah panggung getir dipertontonkan secara telanjang.
Goyangan Berakhir Gugatan
Viralnya video anggota DPR berjoget bukan hanya sekadar hiburan semata, melainkan memicu tsunami kritik yang lebih dahsyat dari masyarakat.
Momen joget yang terjadi di tengah isu-isu krusial yang dihadapi rakyat, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, ketidakpastian ekonomi, PHK, kenaikan pajak, kebijakan yang dinilai serampangan, serta berbagai problem kebangsaan lainnya terakumulasi dalam amarah publik.
Warganet, aktivis, akademisi hingga pemuka agama menyoroti paradoks antara kegembiraan yang diorkestrasi oleh negara dengan ketimpangan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat.
Kritik-kritik tersebut tidak hanya membanjiri media sosial. Gelombang protes dan tuntutan terhadap transparansi anggaran, tunjangan, dan kinerja anggota DPR menguat di berbagai platform.
Ini artinya, ruang digital telah menjadi arena baru bagi masyarakat untuk menyuarakan keresahannya yang tidak digubris di ranah konvensional.
Irama kekecewaan ini akhirnya menjelma “17+8 Tuntutan Rakyat” hingga reformasi Polri.
Tuntutan ini menjadi interupsi yang menggugat etika berbangsa dan bernegara.
Kita melihat berbagai narasi penuh emosi media sosial, selama aksi unjuk rasa hingga berujung amok pada periode Agustus 2025.
Peristiwa ini bukan hal sederhana, tetapi tanda kegelisahan rakyat telah mencapai titik didih.
Ia adalah alarm pengingat untuk kembali menggaungkan isu-isu krusial seperti ketidakadilan, keserakahan, ketimpangan ekonomi dan redupnya reformasi politik.
Aksi joget yang semula dipandang sepele, justru mempertebal kemarahan dan merampungkan wacana publik, tentang jarak antara penguasa dan rakyat.
Momen ini secara gamblang menegaskan bahwa musik dari timur yang awalnya ditakar sebagai hiburan, ternyata mampu menggetarkan nurani bangsa yang lama terlelap, ia memberi peringatan, bahwa kenikmatan dan kebahagiaan yang dipamerkan di pusat kekuasaan sering kali bertentangan dengan segala bentuk ketidakadilan yang diderita di daerah.
Ancaman Ketidakadilan
Musik timur semacam pedang bermata dua. Di satu sisi, ia adalah karya yang menakjubkan, meneguhkan persatuan, dan simbol kekayaan budaya bangsa yang tak ternilai. Ia menyalakan semangat dan kegembiraan kolektif.
Namun, di sisi lain, ia adalah sebuah tragedi yang mengancam. Ia menukik ke segala ruang, menghujam status quo, memberi ancaman terhadap matinya nurani dan ketidakpedulian yang sudah terlalu lama mengakar.
Penyair dan filsuf Persia di abad ke-13, Jalaluddin Rumi pernah mengatakan, “musik yang haram itu adalah beradunya sendok dan garpu orang kaya di meja makan yang terdengar oleh tetangganya yang miskin”.
Secara kontekstual, Rumi mengingatkan bahwa lagu-lagu tersebut memiliki akar historisnya, siapa saja tidak boleh hanya mendengar tanpa meresapi maknanya, bahwa lagu yang penuh kebahagiaan itu diciptakan di atas ruang-ruang ketidakadilan.
Jika kegembiraan yang viral ini tidak diikuti dengan langkah-langkah konkret untuk membenahi ketimpangan dan ketidakadilan itu, maka jogetan itu hanya memperdalam luka, bukan obat penyembuh.
Sudah sepantasnya kita tidak hanya terlena oleh iramanya, tetapi juga tergerak oleh realitas bisu di baliknya.
Musik timur menawarkan kita sebuah refleksi: semangat dan kebahagiaan bisa diwartakan di tengah absennya etika dan moral serta berbagai ketimpangan.
Pertobatan Nasional
Sebagai bangsa, tugas kita, mempertegas semangat kolektif tersebut agar tidak sekadar menjadi pelarian, tetapi menjadi bagian dari kehidupan yang sejahtera dan adil untuk semua.
Monsinyur Suharyo menyerukan agar bangsa ini perlu mengambil langkah kokret dan melakukan “Pertobatan Nasional”.
Dalam konteks ini, musik dari timur, dengan segala kegembiraan yang ditawarkannya, kini menjadi refleksi atas kerapuhan etika dan moral bangsa.
Ia bukan lagi sekadar hiburan, namun sebuah ironi yang menghujam realitas di hadapan kita, ada kesenangan dan joget di pusat kekuasaan, sementara ketidakadilan terus meratap di tanah asalnya.
Dengan demikian, melalui setiap hentakan penuh kegembiraan dan gerakan joget, kita disadarkan bahwa musik ini bisa menjadi seruan bagi pertobatan nasional.
Berbagai peristiwa yang dihadapi hari ini, memberi ruang untuk kita mengakhiri pesta pora di atas ketimpangan.
Ini adalah seruan agar kita tidak hanya menikmati melodi, tetapi juga menyelami protes di baliknya.
Jadikanlah irama ini sebagai pengingat, bahwa untuk menjadi bangsa yang lebih baik, kita harus terlebih dahulu bertobat dari matinya nurani dan ketidakpedulian terhadap segenap rakyat Indonesia yang terpinggirkan.
Seperti ditegaskan oleh Beethoven, “musik adalah wahyu yang lebih tinggi daripada segala kebijaksanaan dan filsafat. Musik adalah tanah elektrik tempat roh hidup, berpikir, dan berkreasi.” (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: Hari Pendidikan atau Hari Keprihatinan? |
|
|---|
| Opini - Keadilan Bagi Kaum Buruh Perspektif Ensiklik Rerum Novarum |
|
|---|
| Opini - Hardiknas 2026: Menguatkan Partisipasi Semesta dari Akar Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
| Opini: Memutus Rantai Buruh Kasar- Pendidikan NTT Harus Naik Kelas! |
|
|---|
| Opini: Kegemaran Membaca dan Membaca Kegemaran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yogen-Sogen1.jpg)